h1

Elegi Dua Sejoli Lanjut Usia

Desember 27, 2012

Nenek berusia sekitar tujuh puluh delapan tahun itu sendiri belaka tinggal di rumahnya yang mungil. Sesekali terdengar suara perempuan tua tersebut seolah tengah berbincang dengan seseorang, kendati tiada satu pun orang yang bersamanya. Bahkan kadangkala si nenek seperti tengah murka, nada suaranya meninggi pertanda amarah. Namun tak pernah jelas terhadap siapa rasa kecewanya tercurah.

Sekian bulan silam, suaminya yang tiga tahun lebih muda telah pergi selamanya dari alam dunia. Cukup lama sudah sebenarnya mereka hidup dengan tak mudah. Namun kesusahan tersebut seakan kian menjadi-jadi sejak peristiwa gempa bumi enam tahun lalu terjadi di Yogyakarta. Tempat tinggal sepasang orang tua tersebut nyaris rata dengan tanah seutuhnya kala bumi berguncang demikian kencang pada sebuah pagi hari Sabtu. Si nenek bahkan sempat kejatuhan serpihan tembok dan sepotong genteng rumahnya sendiri. Ia tak sempat berlari lantaran sedang dalam kondisi sakit serta hanya mampu mengaduh seraya berteriak minta tolong. Masih beruntunglah ia sempat merangkak, kemudian dibantu suaminya berhasil keluar dari rumah. Ketika berembus isu tsunami, orang-orang sibuk berlarian menyelamatkan diri ke arah utara, si kakek hampir saja ikut terbawa arus. Lantaran sadar bahwa sang kekasih tak mampu melangkah jauh, lelaki tua itu memilih bertahan di rumahnya -yang tak layak huni lagi- bersama perempuan yang sudah dicintainya selama empat puluh tahun pun lebih. Nyatanya tsunami tak benar-benar terjadi dan kabar angin belaka.

Dua sejoli lanjut usia tersebut kemudian tinggal di sebuah rumah kosong yang masih tetap berdiri kokoh, yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal mereka, bersama sejumlah keluarga lainnya yang rumahnya ambruk. Ada mungkin tiga bulan mereka menempati rumah yang berubah menjadi semacam barak pengungsian sementara tersebut. Si nenek lantas sempat tinggal di rumah jompo karena kondisi kesehatannya yang kurang apik, sementara si kakek memilih mendirikan tenda di reruntuhan rumahnya, sembari berjuang supaya mendapat bantuan dari pemerintah. Akhirnya setelah sekian bulan berselang, uang sejumlah lima belas juta rupiah bisa diperoleh dan segera dipakai untuk memperbaiki rumah mereka. Begitu diberitahu suaminya bahwa rumah mereka telah kembali berdiri, si nenek pun memilih untuk pulang.
”Aku tak suka tinggal di rumah jompo. Aku merasa orang-orang di sana semua membenciku,” sahutnya pada tetangga yang bertanya ketika menyambutnya pulang.
“Biarpun rumah kami sekarang tak sebesar dulu, toh bagaimanapun kami sudah punya tempat tinggal lagi. Tiada tempat yang lebih nyaman kecuali rumah sendiri,” ujar si kakek menyambung komentar istrinya.

***
Bukannya mereka tak punya sanak keluarga sama sekali, selain mereka memang tidak dikaruniai keturunan. Si nenek sesungguhnya masih memiliki seorang kakak di Jakarta. Bahkan sang kakak adalah seorang pengusaha yang konon sangat kaya, hingga sering berada di mancanegara, entah untuk mengurus bisnisnya atau berlibur belaka. Tapi sepertinya ada masalah yang kronis terjadi antara si nenek dengan kakaknya yang kaya itu. Berdasarkan selentingan yang beredar di antara tetangga, pernikahan perempuan tersebut dengan lelaki pilihannya dahulu kala tidak mendapatkan restu dari segenap keluarganya. Kendati tak setuju pula, sang kakak tetap membantu kelangsungan hidup adik perempuannya. Sayangnya, adik iparnya berkali-kali mengkhianati kepercayaan yang telah begitu besar diberikan kepadanya. Akhirnya sang kakak seperti tak lagi menganggap adik perempuannya sendiri, bahkan hingga puluhan tahun sudah berlalu.

Si kakek sendiri memang terbilang nyentrik. Apa yang dilakukan maupun dikatakannya kerap dipandang aneh di mata tetangga. Ia orang yang baik sejatinya. Sempat ia diberi kepercayaan oleh warga untuk menjadi Sekretaris RT, ternyata ia mampu bekerja dengan penuh dedikasi dan pelayanannya cukup memuaskan warga. Suatu ketika ia memiliki gagasan bagi warga untuk mengadakan ronda keliling setiap malam. Warga menyambut baik usulan tersebut. Si kakek pun menangkap adanya peluang bagus dengan membuat kentongan untuk dijual pada warga yang belum memilikinya. Ia pun dengan setia merebus air dan menyiapkan kopi setiap malam bagi mereka yang mendapat giliran ronda. Kadangkala ia turut menemani mereka begadang di teras rumah kosong yang dijadikan sebagai pos ronda.

Si kakek tak pernah memiliki pekerjaan tetap. Ia telah mencoba bermacam-macam usaha, namun tak pernah ada yang sukses. Ketika muda ia pernah membantu usaha kakak iparnya, namun terjadi kesalahpahaman yang membuat ia dan istrinya malah menjadi sumber kebencian kakak iparnya sampai lanjut usia. Istrinya yang pandai membuat roti suatu waktu meminta dukungan si kakek untuk mencoba bisnis roti. Ia setuju dan mendukung penuh rencana istrinya dengan mencarikan modal, lantas selalu siap membelikan bahan-bahan pembuatan roti maupun menitipkan hasil karya istrinya di berbagai tempat. Usaha pembuatan roti si nenek berlangsung cukup lancar, ada satu dua orang tetangga yang membantunya selain sang suami tercinta. Sayang, usaha tersebut terpaksa berhenti lantaran sejumlah penyakit mulai mendera si nenek yang semakin tua.

Ketika kondisi kesehatan si nenek kembali stabil, giliran sang suami yang justru mulai sakit. Pada sebuah hari, si kakek mendapat diagnosa mengalami gangguan jantung dan paru-paru, namun nasihat dokter untuk lebih mengendalikan makanan maupun menghentikan kebiasaan merokoknya ternyata tidak digubris sama sekali. Tetap santai saja ia memakan apa pun yang ia sukai dengan tanpa meninggalkan rokok yang telah dihisapnya sepanjang puluhan tahun hidupnya.

***
Manakala kondisi tubuhnya kian melemah, beruntunglah si kakek masih memiliki seorang sahabat yang sudi membawanya ke rumah sakit. Lelaki tua tersebut menuruti saja apa kata sahabatnya. Selama sekian hari dirawat di rumah sakit, keadaan tubuh si kakek berangsur membaik. Namun hal itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba si kakek diantar ke rumah dengan ambulans pada suatu malam. Bukan karena sudah sembuh ia mesti pulang dari rumah sakit, melainkan karena ada saja ulahnya. Lelaki tua itu selalu minta tambah setiap dapat jatah makan, tiga kali kasurnya diganti karena pipis tak bilang-bilang, dan ketika terjaga senantiasa bicara dengan suara keras tentang Bank Century, mafia kasus, maupun hal-hal aktual lainnya. Pasien dan keluarga pasien di sekitarnya protes keras terhadap pihak rumah sakit, sementara para perawat dan petugas rumah sakit pun sebenarnya -kalau mau jujur- sangat tidak suka dengan polah pasien yang satu itu.
”Pak, mending kamu pulang saja ya,” usul sang sahabat kepada si kakek. Dalam hatinya ia juga sangat geram dengan ulah temannya, namun ia berusaha keras tetap sabar menghadapinya.
”Ya sudah, buatku kan tiada tempat senyaman rumahku sendiri. Aku setuju saja pulang sekarang,” sahut si kakek tegas.

Sesampainya di rumah, lelaki tua itu tak pernah mau bangun dari posisi tidurnya. Padahal jika diajak bicara, sama sekali tak tampak bahwa ia sesungguhnya tengah sakit keras. Yang jelas, si kakek tetap makan dengan lahap berbagai macam lauk pauk yang dimasakkan istrinya yang tetap sabar melayani sang suami, kendati kadang ia pun membalas bentakan si kakek yang kerap memarahinya. Semakin hari kondisi kesehatannya cenderung terus menurun. Sampai menjelang kematiannya, lelaki tua tersebut sempat melakukan monolog atau mungkin semacam pidato perpisahan ketika hari masih gelap dan sebagian besar orang tentu saja terlelap. Namun ada satu dua orang tetangga yang ternyata lamat-lamat mendengar ucapan si kakek.

”Rasanya waktuku nyaris habis sekarang. Sudah semakin dekat yang namanya masa perpisahan,” kata si kakek yang intonasi kalimatnya masih cukup jelas.
Sekian jam kemudian, kira-kira lewat tengah hari, terdengar kembali suara si kakek, tapi tidak seperti layaknya ia bicara di saat lalu. Sudah tak jelas pula apa yang ia katakan dan bahkan tetangga yang mendengarnya berujar pada orang yang serumah dengannya bahwa suara lelaki tua itu sudah terdengar berbeda. Sekitar jam setengah empat sore, Ketua RW setempat mengabarkan pada tetangga sekitar bahwa si kakek telah berpisah jiwa raganya. Masa perpisahan itu ternyata benar telah tiba baginya. Ia pun berpisah sudah dengan seorang istri yang luar biasa setianya hingga maut menjemputnya.

Tinggallah kini si nenek hidup sendiri tanpa suami, sementara tiada seorang kerabat pun yang peduli pada dirinya. Sang kakak yang diberitahu bahwa suami adiknya telah tiada, nyatanya tetap teguh dengan sikapnya sejak dulu kala. Barangkali tak tersisa sedikit jua kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya. Kisah sedih perempuan tua tersebut tampaknya masih belum berakhir hari ini.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya Minggu, 23 Desember 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: