h1

Mbah Jon Kangen Mati

Januari 22, 2013

Entah sudah berapa banyak orang saja, yang akrab dikenalnya, telah meninggalkan lelaki tua itu untuk selamanya. Mereka adalah orang-orang yang dicintainya. Ada istri pertama dan keduanya, anak pertama dan ketiganya, adik-adiknya, sejumlah keponakannya, juga mayoritas sahabatnya. Menurut perkiraannya sendiri, usianya sudah sembilan puluh enam tahun. Jelas sebuah usia yang sangat lanjut. Dan sudah semestinya orang akan bersyukur sekali dikaruniai kesempatan hidup di dunia yang begitu panjang. Namun tidak demikian yang terjadi pada lelaki tua bernama Karjono atau yang akrab dipanggil oleh khalayak dengan nama Mbah Jon.

“Aku sebetulnya sudah bosan hidup. Rasanya, aku sudah mendapatkan semuanya di dunia ini. Lha, orang-orang yang kukenal juga sudah terus berkurang. Termasuk mbah kakungmu saja sudah ndak ada lagi toh?” cetus Mbah Jon kepada Anto, salah satu cicitnya yang sebentar lagi menikah.
“Wah, Mbah Buyut Kakung itu harusnya ya bangga, dong! Saya yang cicitnya Mbah saja sebentar lagi menikah dan masih bisa dimenangi sama Mbah Buyut. Saya jelas senang dan bangga sekali, walaupun Mbah Kakung saya sendiri malah sudah lama wafat. Kita semua mesti bersyukur masih ada Mbah Buyut Kakung yang panjang umur dan sehat begini.”
“Ya, bukannya aku terus ndak bersyukur. Cuma aku kok rasanya sudah tambah kangen pengen merasakan mati toh?” kata Mbah Jon menerawang.
Anto hanya bisa diam, mencoba mengerti, namun ia tak kunjung memahami hasrat hati kakek buyutnya.

***
“Nuwun sewu, Mbah Jon ini kok lucu ya? Di mana-mana orang itu punya cita-cita panjang umur dan sehat terus, Mbah. Lha, panjenengan sudah diparingi itu semua, kok malah inginnya mati saja?” ujar Pak Jarwo, Ketua RT tempat Mbah Jon tinggal.
Kepada setiap orang yang sempat diajaknya bicara, Mbah Jon memang selalu mengungkapkan kerinduannya terhadap kematian. Termasuk saat ia melayat salah seorang tetangganya yang meninggal, lantas bertemu dengan Pak Jarwo maupun warga lainnya.

“Iya, Mbah Jon. Saya juga pengen banget bisa seperti Mbah yang sudah 90-an tahun umurnya, tapi masih bugar dan gagah begini,” tambah Pak Didin, tetangga Mbah Jon yang lain.
“Yah, kadang-kadang orang cuma bisa melihat yang lain, terus komentarnya, kok enak ya bisa begitu? Padahal kalau sudah dirasakan sendiri, ya ndak mesti senikmat yang dibayangkan sebelumnya,” sahut Mbah Jon sendu.
“Iya juga sih, Mbah. Tapi berapa banyak orang yang sudah tua dan sakit-sakitan? Pasti jumlahnya tidak sedikit. Seperti juga Eyang Roes ini, lebih dari lima tahun beliau hanya bisa berbaring sejak kena stroke, baru akhirnya dikersakke Gusti Allah meninggal sekarang,” ujar Pak Jarwo.
“Itulah, Pak RT. Saya terus terang malah iri sama Pak Roes. Lha, waktunya untuk saya itu terus kapan? Saya itu bakal seneng banget kalau bisa mati secepatnya.”
“Sudahlah, wong memang belum waktunya Mbah Jon meninggal dan masih bisa merasakan hidup di dunia. Jadi, nikmati dan santai sajalah, Mbah,” hibur Pak Didin.

Begitu dalam keinginan Mbah Jon untuk sampai pada peristiwa kematiannya sendiri, bahkan mungkin sudah menjadi semacam obsesi. Namun tentunya masih ada alasan yang tak selalu bisa kita pahami, andaikata Tuhan memang masih menghendakinya bernapas di atas buana. Mbah Jon justru merasa sudah tak mempunyai cukup alasan untuk hidup lebih lama. Semua hal yang bersifat kebendaan toh telah diperolehnya, sementara sudah tiada lagi hasratnya memiliki apa-apa di muka bumi. Yang pokok baginya, ia sudah ingin sekali merasakan mati, lantas bisa kembali bertemu dengan orang-orang tercintanya. Merekalah yang menjadi tujuan kerinduan dan pengobar semangat hidup Mbah Jon di dunia selama ini.

***
Betapa terobsesinya Mbah Jon untuk mendekatkan dirinya dengan kematian, hingga suatu kali ia membuat sebuah kehebohan. Malam itu kampung tempat tinggalnya geger, ketika anak cucu Mbah Jon tidak menemukan dirinya di seluruh penjuru tempat tinggalnya. Mbah Jon hilang dari rumahnya! Warga pun segera dikumpulkan oleh Ketua RT.

“Terus terang kami khawatir jika Mbah Kakung mengambil jalan pintas. Beliau itu soalnya sudah ingin sekali meninggal. Apa bapak-bapak bisa menduga, kira-kira Mbah Kakung ada di mana?” tanya Banu, salah satu cucu Mbah Jon di depan warga.
“Apa kita coba saja mulai mencarinya dari kuburan? Siapa tahu Mbah Jon ada di sana?” usul Pak Jarwo.
“Ide yang bagus, Pak RT! Kuburan kan tempat tinggalnya orang mati, mungkin sekali Mbah Jon ada di sana!” seru seorang warga yang disambut suara-suara setuju.

Maka beberapa anggota keluarga Mbah Jon beserta sejumlah warga beranjak menuju makam terdekat. Ternyata dugaan itu benar adanya. Mereka menemukannya tengah pulas terlelap di keranda yang terletak di sebuah sudut kuburan. Anak cucu Mbah Jon membangunkannya, lantas mengajaknya pulang untuk tidur di rumah saja. Dengan berat hati, lelaki tua tersebut menuruti apa kata mereka.

“Mbah Jon itu kok ada-ada saja ya? Padahal di luar negeri itu ada terapi baru, tidur di tempat semacam keranda itu justru untuk kesehatan. Katanya tidur di situ lebih tenang dan malah bisa memperpanjang umur. Begitu yang kemarin sempat saya lihat di televisi,” ungkap Pak Nadir, salah satu warga saat melihat proses pemulangan Mbah Jon.

“Wah, Mbah Jon pasti tidak tahu hal itu. Jangan-jangan, beliau malah umurnya tambah panjang setelah tidur di keranda,” komentar Pak Didin yang disambut senyuman orang-orang yang mendengarnya.

Sejak peristiwa malam itu, keluarga Mbah Jon berusaha benar menjaganya untuk tidak sampai melakukan hal-hal aneh lainnya, karena keberadaannya masih sangat berharga dalam keluarga. Hingga suatu hari ada tetangga Mbah Jon yang kesripahan lagi. Ruli, anak perempuan Pak Didin yang baru berusia tiga puluh tahun meninggal dunia terkena serangan jantung.

“Walah, bahagianya ya Nak Ruli ini. Masih muda sekali sudah merasakan mati,” celetuk Mbah Jon saat datang melayat.
“Sst, Mbah Kakung jangan ngendika seperti itu toh! Pak Didin dan keluarganya pasti sedih sekali dengan kematian Ruli,” ujar Banu yang mengantar kakeknya.
“Le, aku itu cuma bicara sendiri kok. Aku nanti pasti juga bakal ngomong ikut bela sungkawa sama Pak Didin dan keluarganya,” sahut Mbah Jon rada tersinggung.

***
Sepulangnya ke rumah, Mbah Jon kembali kepikiran dengan niatnya ingin segera mati. Sepertinya ia tidak sudi lagi untuk terus menanti, sudah habislah kesabarannya selama ini. Orang-orang tercintanya yang telah tiada seakan terus merayunya untuk segera bergabung dengan mereka di alam sana. Mbah Jon pun mantap memutuskan mengakhiri hidup dengan menggantung tubuhnya pada sebuah pohon besar di halaman belakang rumahnya. Dengan kondisi fisik yang masih baik, ia bisa mempersiapkan segala sesuatunya seorang diri. Hal itu dilakukannya menjelang siang, ketika orang-orang serumahnya tengah sibuk dan tidak ada yang sempat memerhatikan dirinya. Maka terwujudlah kerinduan Mbah Jon pada kematian dengan suatu jalan pintas. Sebuah obsesi pun akhirnya telah tuntas.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya Minggu, 20 Januari 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: