Archive for Maret, 2013

h1

Kembalinya Cinta untuk Skuad Garuda

Maret 29, 2013

“Cinta bukan apa-apa bagi yang tidak pernah merasakannya. Sebab ia hanya sebuah kata. Mudah diucap, namun tak mudah untuk dijelaskan.”

Sabtu, 23 Maret 2013, sejumlah sejarah telah tersurat. Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta kembali dipadati banyak manusia. Mereka datang bukan untuk menonton konser musik artis-artis top Korea atau meramaikan ulang tahun sebuah partai politik, melainkan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antara Indonesia dan Arab Saudi. Ya, riuh rendah penonton akhirnya kembali membahana untuk mendukung Skuad Garuda berlaga dalam Kualifikasi Piala Asia 2015. Stadion Utama di Jakarta sempat dilanda sepi ketika timnas hanya tampil ala kadarnya, gara-gara kisruh tak berkesudahan antara PSSI dengan KPSI – yang sebenarnya merupakan anggota PSSI sendiri. Padahal suasana stadion terakbar di Indonesia itu pernah begitu meriah kala timnas senior tampil di Piala AFF 2010, demikian pula ketika timnas U-23 berlaga di SEA Games 2011.

Timnas_Indonesia_vs_Arab_Saudi_5548

Mengapa masyarakat Indonesia kembali bersedia menyaksikan tim nasional sepak bolanya? Bukan hanya mereka yang berduyun-duyun datang memenuhi stadion, penonton televisi pun kembali antusias menyambut siaran langsung laga Tim Merah-Putih kali ini. Hal itu membuktikan bahwa pada dasarnya mereka selalu mencintai Skuad Garuda. Kecintaan tersebut hanya luntur sekejab, manakala PSSI tidak menjalankan amanatnya dengan baik. Namun melihat para pemain kesayangan mereka kembali mengenakan kostum Merah-Putih kebanggaan, kegairahan itu menyala lagi dan seakan cinta lama pun bangkit kembali. Pintu harapan yang sempat tertutup rapat akhirnya terbuka jua jadinya.

197655_indonesia-vs-arab-saudi-2013_663_382

Indonesia memang kembali dikalahkan oleh Arab Saudi. Namun jika mengingat masa persiapan yang sangat singkat, itu pun masih dibumbui konflik internal, hasil tersebut sebenarnya tidak terlalu mengecewakan. Di atas kertas, tim lawan memang lebih baik dan di atas lapangan pun terpampang nyata demikian. Dewi fortuna tidak menyertai Boaz Solossa dkk untuk membuat kejutan kali ini.

197656_indonesia-vs-arab-saudi-2013_663_382

Namun ada banyak hal yang layak disyukuri. Timnas Indonesia telah kembali mencerminkan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia, yang merupakan arti sejati dan kepanjangan kata dari nama PSSI. Kemudian kembalinya cinta masyarakat Indonesia kepada Skuad Garuda berarti menumbuhkan lagi rasa cinta kita -yang timbul tenggelam- terhadap tanah air Indonesia. Apakah PSSI akan membiarkan cinta pendukung timnas bertepuk sebelah tangan –seperti selama ini- dengan mengecewakan mereka lagi?

Semoga semua pemangku kepentingan sepak bola nasional mampu memanfaatkan momentum yang ada, yaitu dengan bersatu padu menjaga kebersamaan demi nama Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Mohon, jangan biarkan konflik kembali mengemuka demi kecintaan dan kebanggaan kami terhadap timnas Indonesia.

“Cinta adalah jerat yang mengikat, begitu kuat. Hingga siapa pun tak mampu berlari. Bahkan tak mampu berpaling sedikit saja darinya.”

Iklan
h1

Debut Sejumlah Pemain Timnas Indonesia

Maret 26, 2013

Laga Indonesia melawan Arab Saudi yang berakhir 1-2 pada Sabtu (23/3) di SUGBK menjadi momentum kembalinya para pemain terbaik Indonesia, yang sekian lama mesti absen lantaran kisruh PSSI yang menjadi warna kelam sepak bola negeri ini. Pertandingan tersebut juga menandai penampilan perdana sejumlah pemain. Victor Igbonefo dan Sergio van Dijk mengawali debutnya membela Tim Merah-Putih sebagai pemain inti, sementara Greg Nwokolo turun sebagai pemain pengganti. Victor maupun Sergio bermain 90 menit, sementara Greg hanya bermain 27 menit. Tiga pemain tersebut mengukir sejarah dalam hidup mereka, lantaran untuk pertama kalinya bermain untuk negara keduanya lewat proses naturalisasi. Igbonefo dan Nwokolo berasal dari Nigeria, sedangkan Van Dijk merupakan pemain Belanda keturunan Indonesia.

514e3cb978bcf

Selain mereka, sebenarnya masih ada pemain lain yang melakukan debutnya. Kurnia Meiga dan Emanuel Wanggai –kalau tak salah- untuk pertama kalinya tampil di timnas senior dalam sebuah ajang resmi. Di sisi lain, Boaz Solossa untuk pertama kalinya menjadi kapten Skuad Garuda sejak menit pertama. Tempo hari, Boaz pernah menjadi kapten timnas, namun terjadinya di tengah pertandingan, tepatnya sesudah kapten utama ditarik keluar. Pelatih Rahmad Darmawan menunjuk Boaz karena menganggapnya sebagai seniman lapangan, bukan semata karena memiliki jiwa kepemimpinan. Satu gol cerdik dari Boaz pada menit keempat menunjukkan kapasitas istimewa yang dimiliki kapten klub Persipura tersebut.

boaz sbg kapten

Kita berharap akan ada laga-laga selanjutnya bagi para pemain yang telah menjalani debutnya. Pertandingan uji coba dengan masa persiapan yang lebih baik mutlak diupayakan PSSI menjadi nyata, sebagai bekal menghadapi laga resmi berikutnya

Semoga PSSI benar-benar mampu memperbaiki kesalahannya di masa lalu, yaitu dengan bersungguh-sungguh mengurus timnas dengan bagus. Tentu termasuk membereskan masalah yang terjadi di tubuh BTN serta memilih pelatih yang tepat untuk Skuad Garuda yang telah kembali mengepakkan sayapnya agar mampu terbang tinggi.

514e40f0099db

Materi pemain Indonesia saat menghadapi Arab Saudi (23 Maret 2013):
1.Kurnia Meiga; 3.Zulkifli, 4.Victor Igbonefo, 23.Hamka Hamzah, 2.Supardi; 11.Ponaryo/19. Ahmad Bustomi, 14.Emanuel Wanggai; 5.M.Ridwan/10.Irfan Bachdim, 7.Boaz Solossa(k), 13.Ian Kabes/18.Greg Nwokolo; 9.Sergio van Dijk.

* Opini ini (versi edit) dimuat di BOLA Edisi 2.485/2013.

h1

Momentum Timnas Indonesia Bersatu

Maret 19, 2013

Menjelang pertandingan Indonesia versus Arab Saudi dalam Kualifikasi Piala Asia 2015 di SUGBK (23/3), terjadi dinamika yang kompleks dalam persiapan timnas. Insiden dikabarkan telah terjadi antara mayoritas pemain LSI dan pelatih. Luis Manuel Blanco, yang penunjukannya sebagai pelatih timnas sejak awal sudah kontroversial, ditepikan dari posisinya dan digantikan oleh Rahmad Darmawan yang dibantu oleh Jacksen F Tiago. Dua pelatih tersebut sebenarnya sangat layak menangani timnas mengingat reputasi mereka selama ini. Yang jelas, mereka sudah sangat memahami para pemain Indonesia dan tidak ada kendala komunikasi seperti halnya Blanco. Berhubung masa persiapan begitu singkat, kita tak perlu terlalu berharap Skuad Garuda pasti menang saat menjamu Arab Saudi.

Namun pertandingan tersebut tetap menjadi momentum awal bersatunya kembali para pemain terbaik dalam timnas Indonesia. Mungkin sejumlah pemain akan menjalani debutnya, seperti Victor Igbonefo, Greg Nwokolo, maupun Sergio van Dijk, yang merupakan pemain naturalisasi. Semoga jalan Tim Merah-Putih untuk meraih kejayaan di masa depan sudah terbuka lagi kini.

20130318_Latihan_Pra_Piala_Asia_4869

* Opini ini dimuat di BOLA Edisi 2.482/2013.

h1

Pertemuan Indonesia dan Arab Saudi Sebelum 2013

Maret 19, 2013

Indonesia sudah berkali-kali bertemu Arab Saudi dalam pertandingan sepak bola antarnegara. Biasanya Tim Merah-Putih lebih kerap kalah, bahkan dengan skor telak. Namun dalam dua laga terakhir, Indonesia hanya kalah tipis (1-2) di Piala Asia 2007 dan bermain imbang (0-0) dengan Arab Saudi dalam sebuah uji coba di Malaysia pada 2011. Skuad Garuda selalu bermain dalam formasi 4-3-3.

Indonesia vs Arab Saudi (14-7-2007) : 1 – 2 (Elie ‘19)
Jendri Pitoy; Ricardo Salampessy, Maman Abdurrahman, Charis Yulianto, M.Ridwan; Firman Utina/Atep, Syamsul Chaerudin, Eka Ramdani;
Elie Aiboy/Supardi, Budi Sudarsono/Ismed Sofyan, Bambang Pamungkas(k)
Pelatih : Ivan Kolev

Indonesia vs Arab Saudi (7-10-2011) : 0-0
I Made Wirawan; Zulkifli, Wahyu Wijiastanto, M.Roby, Supardi; Hamka(k)/Hariono, Ahmad Bustomi/Firman Utina, M.Ilham; Ferdinand Sinaga/Zulham Zamrun, Irfan Bachdim, Cristian Gonzales/Yongki Aribowo
Pelatih : Wim Rijsbergen

pelatnas pssi (1)

Indonesia akan kembali menjamu Arab Saudi dalam Kualifikasi Piala Asia 2015 pada Sabtu, 23 Februari 2013 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta.
Berikut 28 pemain yang dipilih oleh duet pelatih Rahmad Darmawan-Jacksen F Tiago :
Kiper : Kurnia Meiga, I Made Wirawan, Samsidar
Bek : Hamka Hamzah, M.Roby, Victor Igbonefo, Abdul Rahman, Zulkifli Syukur, Ricardo Salampessy, Supardi, Ruben Sanadi, Tony Sucipto.
Gelandang : Immanuel Wanggai, Ponaryo Astaman, Ahmad Bustomi, Raphael Maitimo, M. Taufiq, M. Ridwan, Andik Vermansah, Firman Utina, Zulham Zamrun, Ian Louis Kabes, Ferinando Pahabol.
Penyerang : Greg Nwokolo, Boaz Solossa, Irfan Bachdim, Sergio van Dijk, Titus Bonai.

Selanjutnya materi tersebut akan diseleksi lagi hingga menjadi 23 pemain yang siap membela Tim Merah-Putih dengan simbol Garuda di dada.

Prediksi tim inti (4-3-3) :
Meiga; Zulkifli, Hamka, Victor, Tony; Bustomi, Firman, Ponaryo; Boaz, Greg, Sergio.

20130318_Rahmad_Darmawan_Melatih_Lagi_9521

h1

Kejutan Warnai Kehidupan

Maret 19, 2013

Kejutan demi kejutan senantiasa mewarnai kehidupan kita. Ketika kejutan itu menyenangkan, kita pun bersyukur. Ketika kejutan itu mengecewakan, kita pun bersabar.

h1

Saudara dari Desa

Maret 12, 2013

Jam dua belas malam tiba sebentar lagi. Sedang kusaksikan berita olah raga di salah satu stasiun televisi. Kemelut yang terjadi di organisasi sepak bola nasional masih belum ketemu titik terangnya, sementara prestasi tim nasional tak kunjung bersinar. Tiba-tiba bel tempat tinggal kami berbunyi sangat kencang. Terkejut senantiasa menjadi eskpresi pertamaku jika hal itu terjadi. Namun aku sudah bisa menduga siapa yang bertamu kala malam telah larut. Saudara sepupuku yang bernama Nurdin, yang kami biasa memanggilnya Mas Udin, datang dari desa.

Ketika aku masih bocah, dia sudah dewasa sepanjang yang kuingat. Kini usiaku menginjak kepala tiga, maka dia barangkali sudah lebih lima puluh tahun usianya.
Selalu saja kehadirannya mengagetkan kami karena bel di depan rumah pasti dipencetnya setelah jam sebelas malam dan tak pernah ada kabar terlebih dahulu tentang rencananya berkunjung. Mas Udin merupakan salah satu anak dari mendiang Pakde Man, kakak mendiang bapakku. Namun aku lupa dia anak yang nomor berapa. Yang kutahu, Pakde Man pernah dua kali menikah dan memiliki cukup banyak anak dari kedua pernikahannya. Sewaktu Bude Man masih ada, Mas Udin biasanya datang mengantarkan ibunya. Kini ketika Bude Man telah tiada, bahkan ibuku pun sudah berpulang ke Rahmatullah, senantiasa sendiri belaka kakak sepupuku itu bertandang ke rumah kami.

Mas Udin sudah lama tidak memiliki pekerjaan tetap, terutama sejak dia pulang ke desa. Pernah dia gonta-ganti profesi selama belasan tahun di Jakarta. Tampaknya hal itulah kebanggaan yang tersisa dari Mas Udin di depan adik sepupunya yang jauh lebih muda ini. Begitu sarat pengalaman yang pernah dikisahkannya kepadaku ketika dia bekerja serabutan di ibukota pada jaman baheula. Terus terang, ada beberapa ceritanya memang cukup menarik, kendati aku tak yakin apakah itu semua sungguh pernah dialaminya atau ada yang karangannya belaka. Kadang kita tidak menyadari adanya bakat yang tersembunyi dalam diri. Eh, siapa tahu Mas Udin sesungguhnya memiliki kapasitas untuk menjadi seorang penulis fiksi?

Berkali-kali datang ke rumah, lambat laun dia kerap mengulang cerita yang sama. Siapa yang tidak jenuh mendengarnya? Mengapa diriku seorang yang setia menyimak kata-kata Mas Udin, ada beberapa alasannya. Lantaran setiap datangnya selalu larut malam, kakak dan keponakanku hampir pasti telah terlelap. Lantas ketika pagi tiba, mereka pun beraktivitas di luar rumah -bekerja dan bersekolah- sehingga meninggalkanku sendiri yang semaunya dalam bekerja.

Artinya, jika tidak ada ide untuk membuat tulisan atau lukisan, waktuku jelas begitu luang. Selain itu, hanya ada dua kakakku yang tinggal serumah denganku. Masih ada tiga kakakku lainnya yang memiliki tempat tinggal masing-masing.
Mas Udin selalu mengharapkan bantuan materiil dari adik-adik sepupunya yang tinggal di kota. Sebenarnya aku maupun seluruh kakakku tidak pernah memasalahkan hal itu. Tentu sangatlah pantas jika kami -yang nasibnya lebih beruntung- bisa sedikit menolong saudara kami yang tengah kesusahan.

Namun beberapa kakakku jadi sangat sebal dengan Mas Udin dan bahkan tidak bersedia bertemu dengannya lagi, sejak dia pernah berdusta kepada kami. Suatu ketika dia datang mengisahkan kemalangan Mbak Siti, adik perempuannya yang sungguh menderita karena suaminya sakit keras, sementara anaknya malah masuk penjara. Kami pun bersimpati serta menitipkan sejumlah uang untuk disampaikan kepada Mbak Siti menjelang dia pulang.

“Terima kasih ya, adik-adik sudah bersedia membantu. Sampai di desa, saya akan segera memberikannya untuk Siti,” ujar Mas Udin dengan meyakinkan saat itu.
Sekitar dua pekan kemudian, giliran Mbak Siti yang datang ke rumah kami. Suaminya yang sempat sakit parah akhirnya meninggal dunia. Dan ternyata Mas Udin tidak pernah memberikan apa pun kepada Mbak Siti sekembalinya dari kota tempat tinggal kami.

“Bahkan Mas Udin tidak pernah bilang bahwa dia habis pergi dari kota ini,” kata Mbak Siti lugu.

Aku tak tahu persis bagaimana nasib anak-anak Pakde Man yang lain. Tidak adakah di antara mereka yang sudah sejahtera, sehingga dapat meringankan beban hidup Mas Udin maupun Mbak Siti?

***
Sepanjang usia senantiasa aku tinggal di kota, baik kota kecil maupun kota yang rada besar. Namun aku tak akan memungkiri bahwa bapakku aslinya berasal dari desa. Memang aku tak sempat mengenali kedua orang tua Bapak karena mereka telah tiada kala aku hadir ke dunia. Seingatku ketika masih bocah, bapakku pernah mengajak diriku mengunjungi rumah mendiang orang tuanya dan berziarah ke makam kakekku di desa.

Di rumah itu tinggallah satu-satunya kakak Bapak yang masih hidup bersama keluarganya yang sangat bersahaja hidupnya. Itulah keluarga Pakde Man, yang anak-anaknya antara lain adalah Mas Udin dan Mbak Siti. Memang desa asal bapakku terletak jauh dari kota tempat kami tinggal. Sementara makam Nenek sering kukunjungi karena berada di tempat yang relatif lebih dekat jaraknya dari kota kami. Bapak tutup usia ketika aku beranjak remaja dan sejak itu tak pernah lagi aku kembali ke desa yang menjadi tempat kelahiran beliau.

Ketika Bapak masih ada, tak pernah ada masalah seandainya Pakde Man datang ke rumah. Beliau begitu kerap bertandang ke rumah kami, baik sendirian atau kadang dengan istri maupun anak cucunya. Yang tak pernah ketinggalan, Pakde Man selalu membawa buah tangan berupa bawang merah karena beliau memang tinggal di daerah penghasil utama bumbu dapur tersebut. Beliau memang berhubungan sangat dekat dengan Bapak sebagai saudara kandungnya yang hanya tinggal seorang. Hal yang sungguh wajar terjadi kurasa.

Bahkan Pakde Man akhirnya meninggal dunia di tempat tinggal kami. Sore hari itu beliau tiba-tiba saja terjatuh di ruang makan dan tak sadarkan diri, setelah sebelumnya mengatakan rencananya kepada Bapak untuk pulang ke desa. Ketika dokter tetangga kami memeriksanya, ternyata Pakde Man telah mengembuskan napas terakhirnya. Aku masih kelas IV SD ketika hal itu terjadi.

Sejak pakdeku maupun bapakku wafat, kehadiran istri dan anak-anak Pakde Man memang menjadi sesuatu yang selalu kurang menyenangkan bagi kami. Bukan masalah bahwa mereka berasal dari desa, namun kebiasaan mereka ketika berada di rumah kami nyatanya memang cukup menjengkelkan.

Kebiasaan buruk Bude Man adalah menggunakan handuk dan sikat gigi siapa saja yang berada di kamar mandi rumah kami. Selain itu beliau juga sangat kurang dalam menjaga kebersihan, bahkan termasuk untuk dirinya sendiri. Baik ibuku maupun anak-anaknya cukup dongkol dengan tingkah polahnya. Kemudian pernah suatu ketika Bude Man datang ke rumah kami bersama anak cucunya. Mereka tidur di kamarku, sementara aku merelakan diri pindah tidur di lantai kamar kakakku. Sesaat setelah mereka pergi, ternyata jam tangan milikku yang kutaruh di kamar hilang.

Tentu saja aku marah dan kami semua kecewa dengan ulah kerabat kami tersebut. Rasanya kami kapok jika mesti menerima kehadiran mereka kembali. Namun kemudian Mbak Riri, salah satu kakakku bercerita bahwa dia baru saja bertemu dengan Bapak dalam sebuah mimpi.

“Bapak hanya berpesan supaya kita tetap mau menerima keluarga Bude Man dengan baik setiap mereka datang kemari. Bagaimanapun mereka adalah kerabat dekat kita, jadi janganlah kita berlaku buruk terhadap mereka,” ucap Mbak Riri.

“Ya, pesan Bapak benar adanya. Kita memang harus tetap bersikap baik, meski mereka sudah mengecewakan kita,” kata Ibu mencoba bijak.

“Yang penting, kita selalu waspada saja ketika mereka datang lagi nanti,” ujarku.

Sejak saat itu, saban kali Bude Man datang dan menginap di rumah kami lagi, segala perlengkapan pribadi mandi segera diamankan pemiliknya masing-masing dan setiap ada benda berharga mesti lekas disimpan di dalam almari yang terkunci rapat.

***
Kendati dalam banyak hal kita bisa bebas memilih apa pun selama jiwa raga masih menyatu di atas buana ini, namun tetap ada hal-hal yang sudah menjadi ketetapan Ilahi yang tinggal kita terima belaka. Sudah tentu segenap insan memahami bahwa kelahiran, jodoh, rezeki, dan kematian merupakan hak mutlak Tuhan atas umat-Nya.

Namun masih ada lagi yang kita pun tak mampu memilihnya. Salah satunya adalah kita akan menjadi anak keturunan dari siapa dan memiliki saudara siapa saja, sepertinya tak mungkin pula kita menghindarinya bukan? Barangkali kita masih mungkin memilih akan berhubungan seperti apa dengan saudara kita, baik atau buruk, dekat atau jauh, sebatas hal tersebut.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 10 Maret 2013.

h1

Berbagi Beban Meringankan

Maret 12, 2013

Betapa beratnya beban, jika bisa berbagi dan ditanggung bersama, pasti akan terasa lebih ringan.