h1

Saudara dari Desa

Maret 12, 2013

Jam dua belas malam tiba sebentar lagi. Sedang kusaksikan berita olah raga di salah satu stasiun televisi. Kemelut yang terjadi di organisasi sepak bola nasional masih belum ketemu titik terangnya, sementara prestasi tim nasional tak kunjung bersinar. Tiba-tiba bel tempat tinggal kami berbunyi sangat kencang. Terkejut senantiasa menjadi eskpresi pertamaku jika hal itu terjadi. Namun aku sudah bisa menduga siapa yang bertamu kala malam telah larut. Saudara sepupuku yang bernama Nurdin, yang kami biasa memanggilnya Mas Udin, datang dari desa.

Ketika aku masih bocah, dia sudah dewasa sepanjang yang kuingat. Kini usiaku menginjak kepala tiga, maka dia barangkali sudah lebih lima puluh tahun usianya.
Selalu saja kehadirannya mengagetkan kami karena bel di depan rumah pasti dipencetnya setelah jam sebelas malam dan tak pernah ada kabar terlebih dahulu tentang rencananya berkunjung. Mas Udin merupakan salah satu anak dari mendiang Pakde Man, kakak mendiang bapakku. Namun aku lupa dia anak yang nomor berapa. Yang kutahu, Pakde Man pernah dua kali menikah dan memiliki cukup banyak anak dari kedua pernikahannya. Sewaktu Bude Man masih ada, Mas Udin biasanya datang mengantarkan ibunya. Kini ketika Bude Man telah tiada, bahkan ibuku pun sudah berpulang ke Rahmatullah, senantiasa sendiri belaka kakak sepupuku itu bertandang ke rumah kami.

Mas Udin sudah lama tidak memiliki pekerjaan tetap, terutama sejak dia pulang ke desa. Pernah dia gonta-ganti profesi selama belasan tahun di Jakarta. Tampaknya hal itulah kebanggaan yang tersisa dari Mas Udin di depan adik sepupunya yang jauh lebih muda ini. Begitu sarat pengalaman yang pernah dikisahkannya kepadaku ketika dia bekerja serabutan di ibukota pada jaman baheula. Terus terang, ada beberapa ceritanya memang cukup menarik, kendati aku tak yakin apakah itu semua sungguh pernah dialaminya atau ada yang karangannya belaka. Kadang kita tidak menyadari adanya bakat yang tersembunyi dalam diri. Eh, siapa tahu Mas Udin sesungguhnya memiliki kapasitas untuk menjadi seorang penulis fiksi?

Berkali-kali datang ke rumah, lambat laun dia kerap mengulang cerita yang sama. Siapa yang tidak jenuh mendengarnya? Mengapa diriku seorang yang setia menyimak kata-kata Mas Udin, ada beberapa alasannya. Lantaran setiap datangnya selalu larut malam, kakak dan keponakanku hampir pasti telah terlelap. Lantas ketika pagi tiba, mereka pun beraktivitas di luar rumah -bekerja dan bersekolah- sehingga meninggalkanku sendiri yang semaunya dalam bekerja.

Artinya, jika tidak ada ide untuk membuat tulisan atau lukisan, waktuku jelas begitu luang. Selain itu, hanya ada dua kakakku yang tinggal serumah denganku. Masih ada tiga kakakku lainnya yang memiliki tempat tinggal masing-masing.
Mas Udin selalu mengharapkan bantuan materiil dari adik-adik sepupunya yang tinggal di kota. Sebenarnya aku maupun seluruh kakakku tidak pernah memasalahkan hal itu. Tentu sangatlah pantas jika kami -yang nasibnya lebih beruntung- bisa sedikit menolong saudara kami yang tengah kesusahan.

Namun beberapa kakakku jadi sangat sebal dengan Mas Udin dan bahkan tidak bersedia bertemu dengannya lagi, sejak dia pernah berdusta kepada kami. Suatu ketika dia datang mengisahkan kemalangan Mbak Siti, adik perempuannya yang sungguh menderita karena suaminya sakit keras, sementara anaknya malah masuk penjara. Kami pun bersimpati serta menitipkan sejumlah uang untuk disampaikan kepada Mbak Siti menjelang dia pulang.

“Terima kasih ya, adik-adik sudah bersedia membantu. Sampai di desa, saya akan segera memberikannya untuk Siti,” ujar Mas Udin dengan meyakinkan saat itu.
Sekitar dua pekan kemudian, giliran Mbak Siti yang datang ke rumah kami. Suaminya yang sempat sakit parah akhirnya meninggal dunia. Dan ternyata Mas Udin tidak pernah memberikan apa pun kepada Mbak Siti sekembalinya dari kota tempat tinggal kami.

“Bahkan Mas Udin tidak pernah bilang bahwa dia habis pergi dari kota ini,” kata Mbak Siti lugu.

Aku tak tahu persis bagaimana nasib anak-anak Pakde Man yang lain. Tidak adakah di antara mereka yang sudah sejahtera, sehingga dapat meringankan beban hidup Mas Udin maupun Mbak Siti?

***
Sepanjang usia senantiasa aku tinggal di kota, baik kota kecil maupun kota yang rada besar. Namun aku tak akan memungkiri bahwa bapakku aslinya berasal dari desa. Memang aku tak sempat mengenali kedua orang tua Bapak karena mereka telah tiada kala aku hadir ke dunia. Seingatku ketika masih bocah, bapakku pernah mengajak diriku mengunjungi rumah mendiang orang tuanya dan berziarah ke makam kakekku di desa.

Di rumah itu tinggallah satu-satunya kakak Bapak yang masih hidup bersama keluarganya yang sangat bersahaja hidupnya. Itulah keluarga Pakde Man, yang anak-anaknya antara lain adalah Mas Udin dan Mbak Siti. Memang desa asal bapakku terletak jauh dari kota tempat kami tinggal. Sementara makam Nenek sering kukunjungi karena berada di tempat yang relatif lebih dekat jaraknya dari kota kami. Bapak tutup usia ketika aku beranjak remaja dan sejak itu tak pernah lagi aku kembali ke desa yang menjadi tempat kelahiran beliau.

Ketika Bapak masih ada, tak pernah ada masalah seandainya Pakde Man datang ke rumah. Beliau begitu kerap bertandang ke rumah kami, baik sendirian atau kadang dengan istri maupun anak cucunya. Yang tak pernah ketinggalan, Pakde Man selalu membawa buah tangan berupa bawang merah karena beliau memang tinggal di daerah penghasil utama bumbu dapur tersebut. Beliau memang berhubungan sangat dekat dengan Bapak sebagai saudara kandungnya yang hanya tinggal seorang. Hal yang sungguh wajar terjadi kurasa.

Bahkan Pakde Man akhirnya meninggal dunia di tempat tinggal kami. Sore hari itu beliau tiba-tiba saja terjatuh di ruang makan dan tak sadarkan diri, setelah sebelumnya mengatakan rencananya kepada Bapak untuk pulang ke desa. Ketika dokter tetangga kami memeriksanya, ternyata Pakde Man telah mengembuskan napas terakhirnya. Aku masih kelas IV SD ketika hal itu terjadi.

Sejak pakdeku maupun bapakku wafat, kehadiran istri dan anak-anak Pakde Man memang menjadi sesuatu yang selalu kurang menyenangkan bagi kami. Bukan masalah bahwa mereka berasal dari desa, namun kebiasaan mereka ketika berada di rumah kami nyatanya memang cukup menjengkelkan.

Kebiasaan buruk Bude Man adalah menggunakan handuk dan sikat gigi siapa saja yang berada di kamar mandi rumah kami. Selain itu beliau juga sangat kurang dalam menjaga kebersihan, bahkan termasuk untuk dirinya sendiri. Baik ibuku maupun anak-anaknya cukup dongkol dengan tingkah polahnya. Kemudian pernah suatu ketika Bude Man datang ke rumah kami bersama anak cucunya. Mereka tidur di kamarku, sementara aku merelakan diri pindah tidur di lantai kamar kakakku. Sesaat setelah mereka pergi, ternyata jam tangan milikku yang kutaruh di kamar hilang.

Tentu saja aku marah dan kami semua kecewa dengan ulah kerabat kami tersebut. Rasanya kami kapok jika mesti menerima kehadiran mereka kembali. Namun kemudian Mbak Riri, salah satu kakakku bercerita bahwa dia baru saja bertemu dengan Bapak dalam sebuah mimpi.

“Bapak hanya berpesan supaya kita tetap mau menerima keluarga Bude Man dengan baik setiap mereka datang kemari. Bagaimanapun mereka adalah kerabat dekat kita, jadi janganlah kita berlaku buruk terhadap mereka,” ucap Mbak Riri.

“Ya, pesan Bapak benar adanya. Kita memang harus tetap bersikap baik, meski mereka sudah mengecewakan kita,” kata Ibu mencoba bijak.

“Yang penting, kita selalu waspada saja ketika mereka datang lagi nanti,” ujarku.

Sejak saat itu, saban kali Bude Man datang dan menginap di rumah kami lagi, segala perlengkapan pribadi mandi segera diamankan pemiliknya masing-masing dan setiap ada benda berharga mesti lekas disimpan di dalam almari yang terkunci rapat.

***
Kendati dalam banyak hal kita bisa bebas memilih apa pun selama jiwa raga masih menyatu di atas buana ini, namun tetap ada hal-hal yang sudah menjadi ketetapan Ilahi yang tinggal kita terima belaka. Sudah tentu segenap insan memahami bahwa kelahiran, jodoh, rezeki, dan kematian merupakan hak mutlak Tuhan atas umat-Nya.

Namun masih ada lagi yang kita pun tak mampu memilihnya. Salah satunya adalah kita akan menjadi anak keturunan dari siapa dan memiliki saudara siapa saja, sepertinya tak mungkin pula kita menghindarinya bukan? Barangkali kita masih mungkin memilih akan berhubungan seperti apa dengan saudara kita, baik atau buruk, dekat atau jauh, sebatas hal tersebut.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 10 Maret 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: