Archive for Mei, 2013

h1

Mengikuti Jejak Sang Paman

Mei 29, 2013

Sama sekali saya tak menduga bahwa ada sebuah benang merah yang membuat hubungan saya dengan Om Dipo menjadi lebih dekat ketimbang dengan adik-adik Ibu yang lain. Kebetulan semua adik kandung Ibu adalah laki-laki. Hal itu bahkan baru saya ketahui pada sebuah senja, sekian jam sehabis jenazah Ibu dimakamkan.

“Sebenarnya aku dulu yang menanam ari-arimu,” kata Om Dipo cukup mengagetkan, lantaran belum pernah terbayang sebelumnya.
“Oh ya? Kenapa saya baru mendengarnya sekarang, Om?”
”Jadi, Bapak atau Ibu belum pernah menceritakannya padamu?”
”Seingat saya, belum pernah. Bagaimana ceritanya?”
”Sebelum aku menanam ari-arimu, kutuliskan sebuah doa pada secarik kertas. Doanya kubaca, kuamini, kumasukkan ke dalam amplop, lalu aku mengebumikannya bersama ari-ari itu. Selain Al Fatihah, ada doa yang kutulis khusus buat kamu.”
”Lantas, apakah doa khusus itu dikabulkan Tuhan?”
”Tidak,” sahut beliau tersenyum.
”Memangnya apa isi doa Om Dipo untuk saya?” tanya saya penasaran.
”Aku mohon kepada Tuhan, agar kamu tidak mengikuti jejakku.”
”Haha… Yang terjadi malah sebaliknya ya?”Om Dipo sebatas tersenyum lagi tanpa berkata apa-apa. Saya tak sempat bertanya lebih jauh, mengapa justru beliau yang menanam ari-ari saya, bukan Bapak atau adik-adik Ibu yang lebih tua daripada dirinya. Saya membayangkan paman saya itu masih duduk di bangku SMP karena selisih usia kami empat belas tahun. Tanpa sengaja dan tidak dengan rencana, saya memang laksana ditakdirkan mengikuti jejak Om Dipo. Setelah rahasia tersebut terungkap, perjalanan hidup saya -anehnya- justru seperti semakin menapaktilasi apa yang pernah dilakukan oleh paman saya.

Nah, sebelum itu pun sesungguhnya tak hanya sekali wajah saya pernah dikomentari mirip dengan Om Dipo. Hal tersebut terjadi sejak kira-kira dua tahun sebelum wafatnya Ibu dan kian kerap lagi sesudahnya. Uniknya, semua yang mengatakannya adalah orang-orang yang dekat dengan kami berdua. Ada mendiang Ibu, istri Om Dono, istri Om Dino, juga Bude Dian yang secara senada -dengan kalimat yang tak jauh berbeda- menyuarakan,
”Kok kamu sekarang jadi seperti Om Dipo?”
Namun mereka senantiasa mengucapkannya ketika saya dan beliau tidak sedang berada di tempat yang sama. Jadi saya ragu, apakah Om Dipo tahu bahwa keponakannya yang satu ini pernah dibilang serupa dengan dirinya berkali-kali? Saya sendiri tidak pernah merasa wajah saya hampir sama dengan sang paman, maka entahlah mengapa mereka bisa mengatakannya demikian.

***
Ada memang sejumlah hal yang saya lakukan -yang boleh dikata- bagaikan mengikuti jejak Om Dipo. Pertama, beliau pernah kuliah di sebuah universitas negeri ternama, belum pernah lulus sebagai sarjana dari sana, namun hal itu tak pernah menjadi beban dalam hidupnya. Sementara saya pernah kuliah di universitas negeri ternama -namun di kota yang berbeda- dan tidak menyelesaikan studi pula. Saya pun tidak merasa bahwa gagal menjadi sarjana berarti masa depan saya tak lagi cemerlang. Di sini saya terinspirasi pada sosok Om Dipo, yang nyatanya tetap berdaya menjalani hidupnya dengan berguna, kendati tiada gelar sarjana tersemat pada namanya. Sebelumnya tak pernah terbesit niat saya menghentikan studi, namun akhirnya saya memilih jalan baru dengan bekerja, yang otomatis membuat saya tak lagi memiliki waktu mengurusi skripsi. Terus terang, saya memang telah berada pada puncak kejenuhan ketika pengerjaan tugas akhir tak kunjung usai. Jadi dengan sukarela saya tanggalkan status sebagai mahasiswa universitas negeri ternama dengan menjadi karyawan sebuah tempat usaha kecil, yang ikut saya modali bersama sejumlah kerabat dekat. Namun bisnis kami tak panjang usia rupanya. Sekitar lima tahun saja saya berkiprah di situ, hingga tempat usaha tersebut bangkrut dan tutup.

Pada tahun terakhir saya bekerja di situ, saya sudah mulai menulis cerita pendek. Entahlah, serta merta saja saya mendapatkan ilham untuk melakukan sesuatu yang baru dalam hidup saya, kendati menulis sendiri merupakan hal yang sudah lama saya sukai. Belakangan saya baru mengerti bahwa Om Dipo ternyata pernah menjadi penulis cerpen produktif di masa silam. Yang saya tahu, beliau pandai menulis lirik lagu, puisi, maupun naskah drama, sekaligus seorang sutradara teater yang andal. Di situ saya lebih nyata mengikuti langkah beliau, ketika cerpen saya untuk pertama kalinya dimuat di sebuah majalah yang pernah berkali-kali memuat karyanya ketika masih muda dahulu.

Di masa selanjutnya, saya lebih banyak pula berkiprah di jalan kesenian, sesuatu yang sudah puluhan tahun ditekuni oleh Om Dipo. Bisa jadi hanya berupa cerpen, puisi, lagu sekaligus lirik yang pernah dihasilkan oleh beliau, sedangkan saya pun membuatnya dengan gaya yang tak sama tentunya. Selebihnya, saya pun kadang terlibat dalam beberapa pertunjukan, kendati untuk jenis seni yang berbeda dengan paman saya. Selain itu, Om Dipo sering membagi ilmu pengetahuannya di berbagai tempat di Indonesia. Layak saja jika dirinya disebut juga sebagai ’sang guru’. Beliau pernah pula menjadi pembicara untuk sebuah pelatihan kesenian bagi guru dan murid SMA di Papua. Saya ingat, beliau mencari pil kina sebagai obat anti-malaria sebelum berangkat ke sana, tapi ternyata sudah diganti dengan obat lainnya yang disebut vermint.

Sebelum fokus berkesenian, Om Dipo pernah bekerja kantoran di perusahaan swasta pada masa silam, namun hal itu tak membuatnya betah, meski secara materi jelas menjanjikan sekali. Saya sendiri belum merasakan hidup mapan ketika bekerja kantoran, tapi saya tidak khawatir dengan apa yang saya lakukan sampai saat ini. Yang saya lihat, Om Dipo mampu mencurahkan segala keresahan serta kegelisahannya melalui dunia seni budaya. Dan di dunia itu pula kebahagiaan yang hakiki diperolehnya. Mungkin lantaran senantiasa ada cinta yang menyertainya. Sejauh ini, saya pun lebih banyak bersuka menapaktilasi langkah kakinya.

***
Suatu ketika saya begitu merindukan sosok Om Dipo. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan pada beliau. Kami tinggal di kota yang tak sama dan sesekali saja Om Dipo datang ke kota saya atau sebaliknya. Sepertinya sudah cukup banyak jejaknya yang saya ikuti. Namun apakah dalam berjodoh pun bakal serupa pula, jalan yang akan saya tempuh sebagaimana sang paman? Belasan tahun silam Om Dipo pernah menikahi janda beranak satu. Namun mereka berpisah sekitar lima tahun sesudah dikaruniai seorang putra. Saya hanya pernah mendengar cerita perceraian mereka sepotong-sepotong dari sejumlah kerabat, tapi tidak dari Om Dipo sendiri. Entah kebetulan atau bukan, saya sempat memiliki hubungan dekat dengan janda beranak dua. Ia kenalan lama yang baru saya temui kembali. Saya memang belum yakin, apakah dapat mencintai dirinya, kendati saya pernah menjadi pengagumnya di masa silam. Yang terang, saya masih lajang dan punya hasrat menikah. Ingin saya mengerti apa opini Om Dipo tentang dilema yang saya hadapi. Sungguh senang, akhirnya saya berkesempatan bicara dari hati ke hati dengan sang paman yang hadir di waktu yang tepat.

”Saya tidak ada masalah dengan statusnya. Tapi seperti ada hal-hal yang tidak sreg di hati, ketika mengisi waktu berdua dengannya. Bagaimana menurut Om Dipo?” ujar saya.
”Ada satu hal yang mesti kamu perhatikan. Menurutku ini penting, meski terserah kamu mau setuju atau tidak dengan pendapatku,” sahut Om Dipo.
”Apakah itu, Om?”
”Jangan pernah menikahi seorang perempuan, hanya lantaran kamu kasihan padanya.”

Saya manggut-manggut belaka, tidak menanggapinya dengan seberkas kata. Sudah saya pahami pengalaman hidup Om Dipo yang mampu membuatnya menyatakan kalimat demikian. Saya sependapat bahwa pesan itu penting dan saya berjanji akan mengingatnya. Apalagi perjumpaan kami tersebut -tanpa terduga- adalah yang terakhir kali terjadi secara ragawi. Tak sampai satu tahun kemudian, Om Dipo berpulang ke Rahmatullah dalam usia menjelang lima puluh tahun, tanpa saya pernah menemuinya kembali.

***
Kini Om Dipo telah tiada. Kepergiannya untuk selamanya sungguh mengejutkan semua orang, termasuk bagi saya yang mendadak merasakan kehilangan yang amat dalam. Beliau sedang berada di luar kota untuk menjalankan tugas mulianya sebagai seorang bijak bestari, yang gemar berbagi pengetahuan, dan tiba-tiba maut menjemputnya. Barangkali Tuhan justru tidak mengabulkan harapan Om Dipo untuk keponakannya ini -ketika menanam ari-ari saya- karena jejak langkahnya di atas buana memang layak untuk diikuti. Hatinya bersih penuh welas asih, sikapnya tulus tanpa pernah berharap balasan, wawasan berpikirnya yang luas serta pengalaman hidupnya yang kompleks, tak pernah segan dibagikan pada siapa saja. Saya menyadari bahwa banyak orang yang menyayangi dirinya, ketika menghadiri acara pemakamannya di Jakarta. Malah terlihat ada sejumlah figur publik yang mengenali sosok paman saya dengan sangat dekat. Mereka bahkan bermuram durja seperti saya yang merupakan kerabat dekatnya.

”Apakah Dipo orang baik?” tanya seorang sutradara dan aktor senior negeri ini dengan suara bergetar. Beliau tengah memberi sambutan di depan para pelayat, ketika jenazah Om Dipo akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya dari rumah duka. Semua yang hadir tanpa ragu menjawab ’iya’ dengan menahan sesak di dada, termasuk saya yang sempat tak mampu membendung air mata, kala duduk di dekat jasadnya yang telah terbujur kaku.

”Ketika semua orang sibuk dengan berbagai wacana, Dipo tanpa basa-basi sudah melangkah jauh membuat sejumlah hal yang berarti bagi banyak orang dengan caranya sendiri,” ucap seorang dramawan dan penulis terkemuka. Beliau sedang mendeskripsikan sosok yang dikenalnya sejak masih muda dan telah wafat dalam usia yang belum cukup tua.

Rasa kehilangan di hati saya laksana menjadi-jadi ketika mengetahui betapa berartinya hidup Om Dipo selama ini, lebih ketimbang yang saya ketahui. Akhirnya malah menjadi tekad saya untuk bersungguh-sungguh mengikuti jejak Om Dipo, yaitu hidup dan mati sebagai orang baik. Hal yang amat bersahaja sejatinya, namun bisa jadi tak semudah kata untuk mengejawantahkannya.

* Sepercik Kenangan tentang (Alm) Ags. Arya Dipayana (1961-2011)

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Tribun Jabar Minggu, 19 Mei 2013.

h1

Sudah Cukup Suka Cita

Mei 29, 2013

Hari ini sudah cukup suka cita
Hanya dengan kuperhatikan paras ayumu,
juga rambut panjang indahmu, serta tawa lucumu
Belum jemu daku padamu dan tak kuinginkan itu

Jika insan tengah jatuh cinta, maka segala hal tentang dirinya yang telah mencuri hati memang indah senantiasa terasa, bahkan untuk sesuatu yang begitu bersahaja sekalipun. Begitulah yang sedang terjadi pada Jannu sejak dia datang ke rumah Aretha dua pekan berselang, pada masa pertengahan liburan akhir semester. Tak masalah bagi dirinya bahwa ketika itu sang dara mengaku tak mengenal dirinya. Maklumlah, Jannu memang bukan mahasiswa yang cukup populer di kampusnya. Yang terpenting, mereka kini sudah mengenal satu sama lain. Jannu sesungguhnya sudah tertarik kepada Aretha sejak gadis berparas ayu itu menjadi mahasiswi baru dan kebetulan dia menjadi salah satu panitia OSPEK. Uniknya, Jannu menjadi panitia bukan karena kemauannya sendiri, melainkan karena diajak oleh Novi yang sempat ditaksirnya sejak setahun sebelumnya. Dia bersedia karena dikiranya hal itu bisa menjadi kesempatannya untuk lebih dekat dengan Novi. Dalam masa persiapan menjelang OSPEK, Jannu justru mendengar kabar bahwa teman yang disukainya baru jadian dengan Dimas, mahasiswa fakultas lain yang merupakan teman Novi sesama aktivis kampus di tingkat universitas. Peristiwa itu menggoreskan sebersit luka di kalbu Jannu. Dia tak terlalu antusias lagi bertugas sebagai panitia OSPEK.

Jadi, memang baru sakit hati Jannu ketika terantuk pada wajah Aretha dengan binar mata indah, hidung bangir, dan senyuman teramat manis tersebut. Maka wajarlah, andaikata Jannu tak ingin tergesa-gesa jatuh cinta lagi dan memilih sekadar mengagumi Aretha dari jauh terlebih dahulu. Yang dia tahu, gadis itu memang belum berpacaran dengan sesiapa. Jannu kerap mencuri dengar hal ihwal Aretha dari teman-teman seangkatannya belaka. Bahkan mereka pula yang membuatnya mengetahui alamat rumah remaja putri favoritnya itu. Maka Jannu pun mengerti bahwa sang dara rupawan merupakan mahasiswi yang cerdas, terbukti dari nilai-nilai ujiannya yang hanya A dan B. Lantas, buku catatan kuliah Aretha ternyata menjadi rujukan utama teman-temannya untuk difotokopi saking lengkap serta rapinya. Setelah berkenalan hingga menjadi teman Aretha, Jannu pernah pula meminjam salah satu buku catatannya dan dia sangat setuju dengan opini teman-temannya tentang gadis yang paling dikaguminya tersebut.

***

Hadirmu bawa ceria senantiasa,
duka pun enyah sementara,
jadinya berbunga-bungalah di jiwa

Lewat sudah berbilang hari, hingga berganti minggu, dan berubah bulan pula. Rasanya Jannu sudah cukup mengetahui kebaikan hati dan kesantunan laku Aretha. Jadi, memang tak sebatas keindahan ragawinya yang layak diibaratkan sebagai bidadari yang membuatnya terpesona. Jannu sendiri semakin menyadari bahwa ada sesuatu yang istimewa di sanubarinya kala memandang sosok Aretha. Pesona sang dara sungguh telah membius kalbu. Jannu tak akan memungkiri hal itu. Namun sang pemuda masih ragu dan belum percaya diri untuk menyatakan kata hatinya pada Aretha. Dia sesungguhnya tak yakin, mungkinkah Aretha tengah menanti ungkapan perasaannya sepenuh hati? Adakah dia juga memiliki sebentuk cinta, seperti yang tampaknya telah terpatri di kalbu pemuda itu? Jannu masih berasumsi bahwa meraih hati Aretha hanya sebuah utopi alias angan semata.

Masih dalam rencana menyatakan kejujuran hatinya dan belum sempat melakukan tindakan nyata, Jannu melihat ada yang berubah dari sosok Aretha. Dara rupawan itu akhir-akhir ini tampak lebih ceria ketimbang sebelumnya. Apakah mungkin gadis yang dipujanya telah memiliki tambatan hati? Jannu tak mau peduli dan tetap akan mempertahankan perasaannya terhadap Aretha, kendati keraguan masih sangat menghantui pikirannya. Suatu siang, tanpa sengaja Jannu mendengar kabar dari seorang teman bahwa Aretha baru saja resmi menjadi kekasih Ridho, teman seangkatan gadis itu.

Terbitlah rasa kecewa di hati Jannu. Dia tak percaya begitu saja gosip tersebut dan ingin mendengar langsung kebenarannya dari perempuan idamannya. Sore hari itu pula, Jannu menelepon Aretha dengan niat berterus terang mengenai sesuatu yang telah lama disimpannya dalam kalbu.

“Aretha, sudah tiba masanya kini kau mesti tahu hal ini,” ujar Jannu setelah sebentar berbasa-basi.
“Apa yang harus kuketahui, Jannu?” tanya Aretha.
“Aku mencintaimu.”
“Hah?”
Aretha tiba-tiba membisu.
“Bagaimana menurutmu, Aretha?” tanya Jannu menunggu tanggapan Aretha.
“Maaf, Jannu. Kamu sudah tahu kan, aku belum lama jadian dengan Ridho? Aku… tidak bisa menerimamu, mmm… setidaknya untuk saat ini.”
”Jadi, apa yang kudengar bukan gosip belaka, ya? Lalu, apa maksudmu di lain waktu kau mungkin menerima cintaku?”
”Iya, aku sekarang pacar Ridho. Soal itu, entahlah. Sekali lagi, aku mohon maaf, Jannu.”
”Baiklah. Aku juga minta maaf telah lancang menyatakan cinta pada kekasih orang. Aku sekadar ingin berterus terang kepadamu, Aretha.”
”Ya, sudahlah. Tapi kita masih bisa berteman seperti sebelumnya kan?”
”Jika itu yang kau mau, aku sih tak masalah.”

Terluka sesungguhnya hati Jannu. Apa yang menjadi asanya, menjalani hari mendatang bersama Aretha sebagai belahan jiwanya telah musnah. Untuk sementara waktu, Jannu tak ingin mengingat-ingat lagi segala sesuatu mengenai Aretha, bahkan berusaha menghindari pertemuan dengannya. Apabila perasaannya sudah kembali tertata, barangkali dia dapat berkawan lagi dengan Aretha seperti awal perkenalan mereka.

***

Tiba jua yang kucemaskan selama ini
Tak ada yang bisa dipertahankan lagi
Usai sudah pertemanan,
usai cinta bertepuk sebelah tangan

Telah cepat setahun lewat, saat Jannu sempat terkesiap. Waktu itu dia mengetahui sudah ada nama seorang lelaki di hati Aretha. Jelas sudah tak berbalas cinta Jannu. Meski hatinya kecewa, namun Aretha masih dapat dianggap Jannu sebagai teman belaka. Tetap ada bahagia jua yang dirasakannya -kendati sedikit semata- apabila berjumpa lalu berbincang apa saja dengan sang dara rupawan. Akan tetapi senantiasa mengusik hati Jannu, sampai kapan pertemanan mereka bertahan, andaikata nuraninya tersiksa sejatinya, tak rela menganggap Aretha sekadar kawan biasa? Pintu hatinya masih belum dapat terbuka untuk sebuah nama baru, hanya Aretha seorang yang masih tetap tersimpan di kalbu dan benaknya. Lama-lama Jannu menyadari bahwa sia-sia saja menjalin hubungan dengan seorang perempuan, dengan ada sesuatu yang senantiasa mengganjal di relung sanubari. Suka cita yang dirasakan Jannu terhadap sosok Aretha nyatanya memang sudah cukup seperti di masa lalu atau sebagai teman belaka, tak mungkin lebih ketimbang itu. Jannu memutuskan tak akan secara sengaja menemui Aretha lagi. Barangkali masih mungkin dia sebatas menyapa gadis berambut indah itu, sekiranya mereka secara kebetulan bersua di sebuah hari nanti.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di majalah JOe Fiksi Volume 3/2013.

h1

Kepuasan adalah Kekuatan

Mei 29, 2013

Kepuasan dari satu tugas yang berhasil diselesaikan adalah kekuatan untuk melakukan yang lain. (George Eliot)

h1

Melangkah Setelah Rehat

Mei 29, 2013

Mungkin lantaran masa rehatnya rada terlalu lama, jadi agak berat untuk kembali melangkah sebagaimana layaknya. Tapi lambat laun pasti akan terbiasa lagi. Semoga saja.

h1

Benang Merah Final Liga Champion

Mei 25, 2013

Ada sejumlah benang merah yang menghubungkan final Liga Champion 2012/13 dengan partai puncak tahun lalu. Pertama, Bayern Muenchen kembali menjadi finalis dan sebagai wakil Jerman. Tahun ini Bayern berjumpa Borussia Dortmund dalam laga final spesial tim Jerman. Pelatih Jupp Heynckes dan mayoritas pemain FC Hollywood yang dikalahkan Chelsea di Muenchen pasti ingin mengobati luka tahun lalu dengan meraih kejayaan tahun ini di London.

Kemudian seperti halnya setahun silam, dua klub Spanyol –Barcelona dan Real Madrid- kandas di semifinal. Namun setidaknya terdapat dua pemain Spanyol –Juan Mata dan Fernando Torres- yang merasakan gelar juara Liga Champion 2011/12 bersama The Blues. Ternyata ada seorang pemain Spanyol pula di kubu Bayern, yaitu Javi Martinez. Apakah tahun ini Martinez akan mengikuti jejak kedua rekan senegaranya bersama Die Roten?

Tahun 2012 Chelsea yang menggunakan kostum Adidas menjadi pemenang. Jika Bayern yang berkostum Adidas mengalahkan Dortmund yang berkostum Puma, maka Adidas melanjutkan dominasinya di Eropa. Tapi siapa pun yang menjadi juara, Adidas dan Puma sebenarnya sama-sama berasal dari Jerman.

Jerseys of German football clubs Bayern

Pertemuan tim Adidas dan Puma di final Liga Champion 2013 mengingatkan kita pada final Euro 2012 antara Spanyol (Adidas) dan Italia (Puma). Spanyol yang sukses menjadi juara Piala Eropa tahun lalu. Jadi apakah Bayern Muenchen yang akan mengangkat Si Kuping Besar di Stadion Wembley?

h1

Madrid Nirgelar, Mourinho Hengkang Tinggalkan Teka-Teki

Mei 22, 2013

Akhirnya Real Madrid mengakhiri musim 2012/13 tanpa gelar juara apa-apa. Sesudah trofi Liga Primera direbut Barcelona, Madrid dikandaskan Borussia Dortmund di semifinal Liga Champion, dan takluk dari Atletico Madrid dalam final Copa del Rey. Jose Mourinho mesti mengakui bahwa dirinya menjadi pecundang sesudah tiga musim menangani Los Blancos. Kekalahan 1-2 dari Atletico meninggalkan kesan yang buruk karena bertanding di Santiago Bernabeu, Mourinho dan Cristiano Ronaldo diusir wasit, serta memastikan Madrid hampa trofi musim ini.

Kegagalan tahun ini tampaknya membuat hasrat Mourinho untuk meninggalkan Madrid mendapat jalan yang lapang. Sebelum musim 2012/13 berakhir, The Special One telah berkali-kali memberi pertanda akan kembali melatih di Liga Primer Inggris. Chelsea disebut-sebut menjadi kandidat terkuat klub Mourinho berikutnya, tempat ia pernah sukses bertahun silam. Terjadinya konflik internal antara sang pelatih dengan sejumlah pemain senior, terutama Iker Casillas, mengakibatkan suasana tim tak lagi kondusif dan membuat geram pendukung Los Merengues. Respek kepada Mourinho ketika mempersembahkan gelar juara Copa del Rey (2010/11), Liga Primera (2011/12), dan Piala Super Spanyol (2012) telah berangsur meluntur, baik dari pemain maupun suporter. Namun mestinya apresiasi serta ucapan terima kasih tetap layak diberikan kepada Jose Mourinho yang pernah membawa kejayaan bagi Real Madrid sepanjang masa kepemimpinannya.

mourinho pergi

Bagi tim sebesar Madrid tampaknya tak terlalu sulit untuk memilih pelatih terbaik siapa pun yang diharapkan membawa tim kembali meraih gelar juara musim mendatang. Namun apakah ia mampu memenuhi harapan pemilik klub? Yang jelas, selama ini sudah banyak pelatih bernama besar yang gagal dan hanya sekejab melatih Madrid karena senantiasa diharapkan meraih keberhasilan instan.

Yang mungkin menjadi kekhawatiran pencinta Madrid pula, siapakah para pemain yang bakal hijrah menyusul hengkangnya Mourinho? Apakah Cristiano Ronaldo masih akan menjadi bagian Los Galacticos musim mendatang bersama pelatih barunya? Kepergian Mourinho dipastikan meninggalkan sejumlah teka-teki di kubu Real Madrid.

* Opini ini dimuat di BolaVaganza No.140 – Juni 2013.

h1

Dampak Positif Pemain Baru Persija

Mei 18, 2013

Kehadiran sejumlah pemain baru di kubu Persija ternyata membawa dampak positif. Empat pemain anyar langsung masuk tim inti, yaitu : Johan Alfarizi (bek kiri), Rohit Chand (gelandang), M. Ilham (sayap kanan), dan Emmanuel ‘Pacho’ Kenmogne (striker). Tim asuhan Benny Dolo sukses meraih dua kemenangan atas Persiba (11/5) dan Barito Putera (15/5) pada awal putaran kedua Liga Super Indonesia 2013. Keempat pemain baru yang mengisi posisi belakang, tengah, dan depan memberi warna berbeda bagi tim secara keseluruhan. Para pemain lama pun bagaikan mendapat energi baru dengan kehadiran para pemain anyar.

Pada saat menang 2-0 atas Persiba, gol Persija dicetak oleh Ngurah Nanak dan bunuh diri pemain lawan. Sementara itu, ketika mengalahkan Barito Putera 3-1, para pemain baru Tim Macan Kemayoran telah menyumbang gol. Setelah gol dari kapten Fabiano, maka Pacho dan Ilham pun membuka keran golnya di Persija. Hasil tersebut mampu mengangkat posisi Persija dari posisi juru kunci ke nomor 15 di klasemen sementara.

persija-party

Hukuman Larangan Bermain di Jakarta
Sayangnya, Persija mesti menjalani dua laga kandangnya di Solo. Entah apa sebenarnya kesalahan Persija di mata Polda Metro Jaya, sehingga tim kesayangan masyarakat ibukota itu mendapat hukuman berat, yaitu dilarang bermain di Jakarta, yang entah bakal sampai kapan. Tapi, semoga saja awal yang baik bagi Persija di putaran kedua terus berlanjut hingga lolos dari degradasi saat akhir musim nanti. Dan semoga pada laga kandang berikutnya, Ismed Sofyan dkk telah diizinkan bermain kembali di Jakarta. Semoga pihak kepolisian di Jakarta akhirnya sudi menjadi pihak yang memaafkan apa pun kesalahan Persija maupun pendukungnya selama ini.

* Opini ini (versi edit) dimuat di BOLA Edisi 2.508/2013.