h1

Tatkala Pakde Sakit

Mei 8, 2013

“Lebih mudah melupakan sebuah dukacita yang hebat daripada sebuah hinaan yang tak berarti.” Demikian bunyi sebuah ungkapan yang pernah kubaca, tapi kulupa di mana gerangan adanya kutemukan kalimat tersebut. Sebelumnya aku tak percaya bahwa hal itu bisa terjadi dan tak terbayang pula, bagaimana mungkin bisa begitu? Setelah mengalami sebuah peristiwa yang cukup pahit sekian tahun silam -yang memang selalu tertanam dalam memori otakku- barulah kupercaya memang demikian kenyataannya.

Kisah ini berawal dari sakitnya saudara sepupu ibuku yang tinggal menyendiri dan tidak pernah menikah sepanjang hayatnya. Biarpun bukan saudara kandungnya, namun ibuku sudah menganggap beliau persis seperti kakak kandungnya sendiri. Pakde Nanung, begitu kami memanggil beliau, merupakan seorang pensiunan pejabat di daerah. Lantaran beliau pada dasarnya memang orang yang bersahaja, lantas sepanjang kariernya tidak pernah melakukan hal-hal tercela untuk memperkaya dirinya, maka beliau hanya tinggal di sebuah rumah kecil bersahaja, yang baru tuntas dibayar secara kredit setelah lima belas tahun lamanya.
“Paling tidak, kini aku sudah punya rumah sendiri, dan akhirnya toh lunas juga pembayarannya setelah aku pensiun. Jadi aku sudah tak punya hutang kini,” ujar Pakde Nanung suatu ketika. Kami ikut lega kala beliau mengatakan hal menggembirakan itu.

Ibuku dan keempat anaknya -termasuk aku- merupakan saudara terdekat Pakde Nanung, berhubung kami tinggal di kota yang sama. Sebenarnya masih ada tiga saudara kandung beliau, namun mereka semua tinggal jauh di luar kota. Entah berapa kali saja, sudah tak terbilang lagi saking kerapnya kudatangi rumah Pakde Nanung yang jaraknya sekitar lima belas kilometer dari tempat tinggal kami. Kadang aku ke sana sendiri, sesekali bersama kakakku, tapi lebih kerap lagi untuk mengantar Ibu. Sebaliknya, Pakde Nanung pun sering berkunjung ke rumah kami. Yang kuingat sejak masih bocah, saban kali beliau datang selalu saja membawa makanan enak yang kusuka. Entah itu bakmi goreng, ayam bakar, martabak telur spesial, dan masih banyak pilihan lainnya yang ‘pokoke maknyus’.

***

Pakde Nanung yang kami kenal adalah seorang lelaki tua yang senantiasa sehat dan masih gagah sekali penampilannya di usianya yang sudah nyaris tujuh puluh tahun. Barangkali karena selama ini beliau senantiasa hidup dengan sarat kedisiplinan, maka kondisi tubuhnya terjaga dengan apik. Tapi selanjutnya ada sebuah cerita yang berbeda dan tak terduga sama sekali kejadiannya. Pada sebuah pagi buta, telepon rumah kami tiba-tiba berdering kencang. Aku langsung beranjak keluar dari kamarku, ternyata sudah ada Ibu yang lebih dahulu mengangkat teleponnya. Waktu itu belum lama aku pulang setelah bertemu teman-teman lamaku, jadi belum cukup nyenyak tidurku memang. Wajah Ibu tampak sangat gelisah ketika menjawab telepon itu. Pasti ada sesuatu yang tak bagus tengah terjadi, begitulah dugaanku.
“Ada apa, Bu?” tanyaku setelah Ibu menutup telepon.
“Pakde Nanung yang baru saja telepon. Beliau ingin kita segera ke rumahnya dan mengantarnya ke rumah sakit. Tampaknya kondisi beliau sudah cukup gawat, napasnya terdengar terengah-engah saat bicara tadi,” sahut Ibu tegang.

Aku segera beranjak membuka pintu garasi dan mengeluarkan mobil. Aku bersama Ibu langsung menuju ke rumah Pakde Nanung. Lima belas kilometer adalah jarak yang harus segera kami tempuh. Kularikan mobil sekencangnya hingga sampai di tujuan sekitar lima belas menit kemudian. Biasanya, paling tidak setengah jam baru sampai, karena jalan yang begitu padat antara rumah kami dengan Pakde Nanung.
”Mana Bapak?” tanya Ibu kepada Mbak Ngatinem, pembantu Pakde Nanung.
”Bapak sudah dibawa sama tetangga ke rumah sakit. Belum lama kok, mungkin baru sekitar lima menit lalu,” kata Mbak Ngatinem. Kunyalakan lagi mesin mobil dan kami pun lekas beranjak ke rumah sakit.

Setibanya kami di tempat tujuan, Pakde Nanung baru saja masuk ke ruangan Intensive Care Unit dan sedang diberi pertolongan pertama oleh dokter jaga. Pakde Nanung sempat mencoba duduk, sesaat setelah organ pernapasannya dipasangi alat bantu yang mengalirkan oksigen. Tapi beliau tampak tak cukup punya energi, hingga kembali berbaring, lantas malah tak sadarkan diri. Petugas paramedis yang mengambil sampel darah Pakde Nanung menyampaikan pesan kepada kami bahwa hasil laboraturium baru bisa diketahui besok pagi. Aku dan Ibu memutuskan untuk menjaga beliau di rumah sakit. Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih kepada para tetangga yang sudah mengantarkan Pakde Nanung, terutama kepada Mbak Nari yang selama ini paling kami kenali.

***

Pagi harinya kami menerima hasil laboratorium tentang kondisi faktual Pakde Nanung secara medis. Hasilnya sangat mengejutkan bagi kami berdua. Paru-paru orang yang kami sayangi itu ternyata telah rusak cukup parah dan detak jantungnya terdeteksi sangat lemah. Dengan kata lain, kondisi Pakde Nanung sudah kritis. Ibu menugasiku untuk segera mengabarkan berita buruk itu kepada orang rumah dan juga saudara-saudara terdekat Pakde Nanung.
”Kata dokter, harapan hidup Pakde sudah tipis, Mbak,” ujarku lewat telepon kepada Mbak Suci kakakku di rumah, sambil menahan sesak di dada. Sakit rasanya mengetahui keadaan beliau serupa itu. Namun di luar dugaan semula, ternyata Pakde Nanung masih bisa bertahan sepanjang hari tersebut, bahkan hingga hari kedua dan hari berikutnya lagi, jiwa raganya masih tetap bersatu. Berbagai obat yang diberikan dokter tampaknya berpengaruh cukup positif pada kondisi tubuh beliau. Setiap pagi dan siang, Ibu kuantar jemput untuk menunggui Pakde di rumah sakit, lalu sore hingga malamnya aku bergantian dengan kakakku yang lain menemani Ibu kembali ke rumah sakit.

Pakde Nanung sendiri masih saja tetap tak sadar, tapi secara medis kondisinya relatif lebih stabil. Sementara itu, Mas Adil dan Mbak Suci kakakku ditugaskan oleh Ibu untuk mengurus surat identitas dan barang-barang berharga milik Pakde Nanung yang masih berada di rumahnya. Sama sekali tak terduga, hal itu belakangan mendatangkan fitnah tersendiri bagi keluarga kami.

Satu kakak dan dua adik kandung Pakde Nanung baru datang dari luar kota ke rumah sakit pada hari ketiga. Sebelumnya hanya para keponakannya yang sudah datang membezuk, selain tentu saja Ibu dan anak-anaknya. Bude Wening, adik Pakde Nanung yang bekerja sebagai staf ahli seorang menteri bersegera menjenguk kakaknya setelah ditelepon Mbak Nari, tetangga terdekat Pakde Nanung. Mbak Nari ternyata meminta Bude Wening dan semua saudara kandung Pakde agar segera datang. Menurutnya, ada indikasi bahwa terdapat pihak tertentu telah memanfaatkan sakitnya Pakde Nanung. Tentu saja kami terperanjat sekali mendengarkan hal itu dari Bude Wening. Malam sebelum kedatangannya, beliau menelepon ke rumah kami dan aku yang mengangkatnya. Ibu kebetulan sudah tidur karena kelelahan. Sementara Mas Wira kakakku malah sedang tidur di rumah sakit menunggui Pakde Nanung.

”Satria, kok Bude Wening diberitahu Mbak Nari kalau kondisi Pakde Nanung sudah kritis?” tanya Bude Wening dengan rada panik.
”Tidak kok, Bude. Jika memang begitu, Mas Wira pasti sudah memberitahu kami,” sahutku bingung. Setelah itu aku menelepon Mbak Nari untuk meminta penjelasan, namun dia tak bisa berkata apa-apa.

Yang kami tak habis pikir, satu-satunya orang yang paling kami kenali dan sangat kami percayai selama ini, justru adalah orang yang menebar fitnah busuk terhadap kami. Dirinyalah yang mengatakan kepada ketua RT tempat Pakde Nanung tinggal, bahwa kami telah menggunakan kesempatan dalam kesempitan, untuk secara diam-diam merampas harta milik Pakde, sementara beliau terbujur lemah tak berdaya di rumah sakit.

Entah bagaimana perasaan Pakde Nanung, andaikata beliau sampai tahu bahwa adik sepupu beserta para keponakan tercintanya dituduh sekeji itu. Pastilah beliau akan sangat sakit hati karena beliau paham benar bahwa kami adalah orang-orang yang sangat tulus menyayanginya serta memiliki sikap hidup yang tak jauh berbeda dengannya dalam menghadapi masalah harta kebendaan. Jadi sungguh mustahil bagi kami ‘merampok’ Pakde Nanung seperti yang dituduhkan.

Hanya orang-orang berhati keruh yang sempat berpikir bahwa semua orang bisa berbuat seburuk yang dituduhkannya. Bisa jadi pikirannya sudah terlampau terkontaminasi cerita sinetron tak bermutu yang setiap hari ditayangkan di layar kaca. Sedangkan orang-orang seperti kami, yang terbiasa berpikir lurus dan tidak mengikuti acara televisi semacam itu, tentu tak pernah terpikir sebersit pun untuk menguasai harta kekayaan saudara kami tercinta yang tengah tak berdaya begitu. Namun memang episode kehidupan terkadang seperti cerita sinetron yang sering tak masuk di nalar tersebut.
Bayangkan saja, Mbak Nari kemudian berkata kepadaku di depan umum,
“Sebagai orang yang lebih tua, saya merasa sakit hati dengan kata-kata Dik Satria malam itu!”

Aku waktu itu hanya bisa heran dan tak mengerti, kata-kata apa yang pernah kuucapkan kepadanya, hingga membuat kalbunya tersiksa? Jika saja aku sadar bahwa saat itu dia sesungguhnya sedang menuduh kami sebagai saudara Pakde Nanung yang berbuat jahat, pasti justru sanubariku yang jauh lebih terluka. Kalimat balasanku bisa jadi lebih menyakitkan lagi ketimbang kata-kataku -yang mana gerangan- yang sudah menyakiti hatinya itu. Seingatku, untuk dirinya hanya sedikit kutanya,
“Maksud Anda itu apa?”
Apakah kalimat sependek itu mungkin membuat seseorang sakit hatinya? Apakah intonasiku saat mengucapkan kalimat tersebut yang membuatnya tersinggung? Tapi tidakkah hal itu terlalu berlebihan? Aku bertanya sebatas ingin tahu, apa alasannya menelepon Bude Wening dan mengatakan bahwa Pakde Nanung sudah kritis, kendati kenyataannya kondisinya justru relatif stabil?

Belakangan baru kusadari bahwa perempuan itu ternyata begitu takut andaikata Pakde Nanung sampai meninggal dunia, kemudian mereka tidak bakal mendapatkan apa-apa. Padahal selama ini salah satu anaknya sudah menjadi semacam anak angkat Pakde Nanung. Kami sebagai keluarga terdekat Pakde Nanung tentunya menjadi benteng yang mesti dirubuhkan secepat mungkin, demi terpenuhinya ambisi busuknya.

Ketua RT dan sejumlah tetangga berkumpul di rumah Pakde Nanung bersama Bude Wening beserta kakak adiknya untuk mengadili Ibu dan keempat anaknya, yaitu Mas Adil, Mbak Suci, Mas Wira, dan diriku. Kami merupakan tersangka perampok harta Pakde Nanung, demikian tuduhan Mbak Nari yang seolah bertindak sebagai jaksa penuntut umum. Bude Wening sebagai wakil kerabat Pakde Nanung menyampaikan klarifikasinya di depan mereka sekaligus melakukan pembelaan bagi kami.

“Jeng Nungki dan anak-anaknya merupakan orang-orang terdekat Mas Nanung di kota ini. Mereka bahkan lebih dekat ketimbang kami, saudara-saudara kandungnya yang kebetulan tinggal di luar kota semua. Kami sangat percaya bahwa mereka tak mungkin melakukan hal tercela seperti yang disangka oleh Pak RT dan tetangga Mas Nanung di sini. Saya mohon, Anda semua bisa mempercayai mereka, seperti halnya kami.”

***

Sebulan sesudah dirawat di rumah sakit, Pakde Nanung akhirnya tutup usia. Pada sebuah pagi yang masih sunyi, malaikat maut menjalankan tugasnya. Selayaknyalah jika kematian beliau menjadi sebuah dukacita yang hebat, namun kenyataannya justru sebentuk hinaan tak berarti dari Mbak Nari yang masih tetap bersemayam di kalbu kami, terutama diriku yang termuda di antara yang lain. Kata sebuah pepatah, tidak ada satu pun obat yang bisa menyembuhkan sakit hati kecuali menerimanya dengan keikhlasan. Rasanya memang tiada pilihan lain, kecuali lapang dada menerima hal buruk itu, kendati perih kalbu kami sejatinya. Biarkan masa yang akan mampu mengenyahkan rasa tak nyaman di relung sanubari.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya Minggu, 5 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: