h1

Mengikuti Jejak Sang Paman

Mei 29, 2013

Sama sekali saya tak menduga bahwa ada sebuah benang merah yang membuat hubungan saya dengan Om Dipo menjadi lebih dekat ketimbang dengan adik-adik Ibu yang lain. Kebetulan semua adik kandung Ibu adalah laki-laki. Hal itu bahkan baru saya ketahui pada sebuah senja, sekian jam sehabis jenazah Ibu dimakamkan.

“Sebenarnya aku dulu yang menanam ari-arimu,” kata Om Dipo cukup mengagetkan, lantaran belum pernah terbayang sebelumnya.
“Oh ya? Kenapa saya baru mendengarnya sekarang, Om?”
”Jadi, Bapak atau Ibu belum pernah menceritakannya padamu?”
”Seingat saya, belum pernah. Bagaimana ceritanya?”
”Sebelum aku menanam ari-arimu, kutuliskan sebuah doa pada secarik kertas. Doanya kubaca, kuamini, kumasukkan ke dalam amplop, lalu aku mengebumikannya bersama ari-ari itu. Selain Al Fatihah, ada doa yang kutulis khusus buat kamu.”
”Lantas, apakah doa khusus itu dikabulkan Tuhan?”
”Tidak,” sahut beliau tersenyum.
”Memangnya apa isi doa Om Dipo untuk saya?” tanya saya penasaran.
”Aku mohon kepada Tuhan, agar kamu tidak mengikuti jejakku.”
”Haha… Yang terjadi malah sebaliknya ya?”Om Dipo sebatas tersenyum lagi tanpa berkata apa-apa. Saya tak sempat bertanya lebih jauh, mengapa justru beliau yang menanam ari-ari saya, bukan Bapak atau adik-adik Ibu yang lebih tua daripada dirinya. Saya membayangkan paman saya itu masih duduk di bangku SMP karena selisih usia kami empat belas tahun. Tanpa sengaja dan tidak dengan rencana, saya memang laksana ditakdirkan mengikuti jejak Om Dipo. Setelah rahasia tersebut terungkap, perjalanan hidup saya -anehnya- justru seperti semakin menapaktilasi apa yang pernah dilakukan oleh paman saya.

Nah, sebelum itu pun sesungguhnya tak hanya sekali wajah saya pernah dikomentari mirip dengan Om Dipo. Hal tersebut terjadi sejak kira-kira dua tahun sebelum wafatnya Ibu dan kian kerap lagi sesudahnya. Uniknya, semua yang mengatakannya adalah orang-orang yang dekat dengan kami berdua. Ada mendiang Ibu, istri Om Dono, istri Om Dino, juga Bude Dian yang secara senada -dengan kalimat yang tak jauh berbeda- menyuarakan,
”Kok kamu sekarang jadi seperti Om Dipo?”
Namun mereka senantiasa mengucapkannya ketika saya dan beliau tidak sedang berada di tempat yang sama. Jadi saya ragu, apakah Om Dipo tahu bahwa keponakannya yang satu ini pernah dibilang serupa dengan dirinya berkali-kali? Saya sendiri tidak pernah merasa wajah saya hampir sama dengan sang paman, maka entahlah mengapa mereka bisa mengatakannya demikian.

***
Ada memang sejumlah hal yang saya lakukan -yang boleh dikata- bagaikan mengikuti jejak Om Dipo. Pertama, beliau pernah kuliah di sebuah universitas negeri ternama, belum pernah lulus sebagai sarjana dari sana, namun hal itu tak pernah menjadi beban dalam hidupnya. Sementara saya pernah kuliah di universitas negeri ternama -namun di kota yang berbeda- dan tidak menyelesaikan studi pula. Saya pun tidak merasa bahwa gagal menjadi sarjana berarti masa depan saya tak lagi cemerlang. Di sini saya terinspirasi pada sosok Om Dipo, yang nyatanya tetap berdaya menjalani hidupnya dengan berguna, kendati tiada gelar sarjana tersemat pada namanya. Sebelumnya tak pernah terbesit niat saya menghentikan studi, namun akhirnya saya memilih jalan baru dengan bekerja, yang otomatis membuat saya tak lagi memiliki waktu mengurusi skripsi. Terus terang, saya memang telah berada pada puncak kejenuhan ketika pengerjaan tugas akhir tak kunjung usai. Jadi dengan sukarela saya tanggalkan status sebagai mahasiswa universitas negeri ternama dengan menjadi karyawan sebuah tempat usaha kecil, yang ikut saya modali bersama sejumlah kerabat dekat. Namun bisnis kami tak panjang usia rupanya. Sekitar lima tahun saja saya berkiprah di situ, hingga tempat usaha tersebut bangkrut dan tutup.

Pada tahun terakhir saya bekerja di situ, saya sudah mulai menulis cerita pendek. Entahlah, serta merta saja saya mendapatkan ilham untuk melakukan sesuatu yang baru dalam hidup saya, kendati menulis sendiri merupakan hal yang sudah lama saya sukai. Belakangan saya baru mengerti bahwa Om Dipo ternyata pernah menjadi penulis cerpen produktif di masa silam. Yang saya tahu, beliau pandai menulis lirik lagu, puisi, maupun naskah drama, sekaligus seorang sutradara teater yang andal. Di situ saya lebih nyata mengikuti langkah beliau, ketika cerpen saya untuk pertama kalinya dimuat di sebuah majalah yang pernah berkali-kali memuat karyanya ketika masih muda dahulu.

Di masa selanjutnya, saya lebih banyak pula berkiprah di jalan kesenian, sesuatu yang sudah puluhan tahun ditekuni oleh Om Dipo. Bisa jadi hanya berupa cerpen, puisi, lagu sekaligus lirik yang pernah dihasilkan oleh beliau, sedangkan saya pun membuatnya dengan gaya yang tak sama tentunya. Selebihnya, saya pun kadang terlibat dalam beberapa pertunjukan, kendati untuk jenis seni yang berbeda dengan paman saya. Selain itu, Om Dipo sering membagi ilmu pengetahuannya di berbagai tempat di Indonesia. Layak saja jika dirinya disebut juga sebagai ’sang guru’. Beliau pernah pula menjadi pembicara untuk sebuah pelatihan kesenian bagi guru dan murid SMA di Papua. Saya ingat, beliau mencari pil kina sebagai obat anti-malaria sebelum berangkat ke sana, tapi ternyata sudah diganti dengan obat lainnya yang disebut vermint.

Sebelum fokus berkesenian, Om Dipo pernah bekerja kantoran di perusahaan swasta pada masa silam, namun hal itu tak membuatnya betah, meski secara materi jelas menjanjikan sekali. Saya sendiri belum merasakan hidup mapan ketika bekerja kantoran, tapi saya tidak khawatir dengan apa yang saya lakukan sampai saat ini. Yang saya lihat, Om Dipo mampu mencurahkan segala keresahan serta kegelisahannya melalui dunia seni budaya. Dan di dunia itu pula kebahagiaan yang hakiki diperolehnya. Mungkin lantaran senantiasa ada cinta yang menyertainya. Sejauh ini, saya pun lebih banyak bersuka menapaktilasi langkah kakinya.

***
Suatu ketika saya begitu merindukan sosok Om Dipo. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan pada beliau. Kami tinggal di kota yang tak sama dan sesekali saja Om Dipo datang ke kota saya atau sebaliknya. Sepertinya sudah cukup banyak jejaknya yang saya ikuti. Namun apakah dalam berjodoh pun bakal serupa pula, jalan yang akan saya tempuh sebagaimana sang paman? Belasan tahun silam Om Dipo pernah menikahi janda beranak satu. Namun mereka berpisah sekitar lima tahun sesudah dikaruniai seorang putra. Saya hanya pernah mendengar cerita perceraian mereka sepotong-sepotong dari sejumlah kerabat, tapi tidak dari Om Dipo sendiri. Entah kebetulan atau bukan, saya sempat memiliki hubungan dekat dengan janda beranak dua. Ia kenalan lama yang baru saya temui kembali. Saya memang belum yakin, apakah dapat mencintai dirinya, kendati saya pernah menjadi pengagumnya di masa silam. Yang terang, saya masih lajang dan punya hasrat menikah. Ingin saya mengerti apa opini Om Dipo tentang dilema yang saya hadapi. Sungguh senang, akhirnya saya berkesempatan bicara dari hati ke hati dengan sang paman yang hadir di waktu yang tepat.

”Saya tidak ada masalah dengan statusnya. Tapi seperti ada hal-hal yang tidak sreg di hati, ketika mengisi waktu berdua dengannya. Bagaimana menurut Om Dipo?” ujar saya.
”Ada satu hal yang mesti kamu perhatikan. Menurutku ini penting, meski terserah kamu mau setuju atau tidak dengan pendapatku,” sahut Om Dipo.
”Apakah itu, Om?”
”Jangan pernah menikahi seorang perempuan, hanya lantaran kamu kasihan padanya.”

Saya manggut-manggut belaka, tidak menanggapinya dengan seberkas kata. Sudah saya pahami pengalaman hidup Om Dipo yang mampu membuatnya menyatakan kalimat demikian. Saya sependapat bahwa pesan itu penting dan saya berjanji akan mengingatnya. Apalagi perjumpaan kami tersebut -tanpa terduga- adalah yang terakhir kali terjadi secara ragawi. Tak sampai satu tahun kemudian, Om Dipo berpulang ke Rahmatullah dalam usia menjelang lima puluh tahun, tanpa saya pernah menemuinya kembali.

***
Kini Om Dipo telah tiada. Kepergiannya untuk selamanya sungguh mengejutkan semua orang, termasuk bagi saya yang mendadak merasakan kehilangan yang amat dalam. Beliau sedang berada di luar kota untuk menjalankan tugas mulianya sebagai seorang bijak bestari, yang gemar berbagi pengetahuan, dan tiba-tiba maut menjemputnya. Barangkali Tuhan justru tidak mengabulkan harapan Om Dipo untuk keponakannya ini -ketika menanam ari-ari saya- karena jejak langkahnya di atas buana memang layak untuk diikuti. Hatinya bersih penuh welas asih, sikapnya tulus tanpa pernah berharap balasan, wawasan berpikirnya yang luas serta pengalaman hidupnya yang kompleks, tak pernah segan dibagikan pada siapa saja. Saya menyadari bahwa banyak orang yang menyayangi dirinya, ketika menghadiri acara pemakamannya di Jakarta. Malah terlihat ada sejumlah figur publik yang mengenali sosok paman saya dengan sangat dekat. Mereka bahkan bermuram durja seperti saya yang merupakan kerabat dekatnya.

”Apakah Dipo orang baik?” tanya seorang sutradara dan aktor senior negeri ini dengan suara bergetar. Beliau tengah memberi sambutan di depan para pelayat, ketika jenazah Om Dipo akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya dari rumah duka. Semua yang hadir tanpa ragu menjawab ’iya’ dengan menahan sesak di dada, termasuk saya yang sempat tak mampu membendung air mata, kala duduk di dekat jasadnya yang telah terbujur kaku.

”Ketika semua orang sibuk dengan berbagai wacana, Dipo tanpa basa-basi sudah melangkah jauh membuat sejumlah hal yang berarti bagi banyak orang dengan caranya sendiri,” ucap seorang dramawan dan penulis terkemuka. Beliau sedang mendeskripsikan sosok yang dikenalnya sejak masih muda dan telah wafat dalam usia yang belum cukup tua.

Rasa kehilangan di hati saya laksana menjadi-jadi ketika mengetahui betapa berartinya hidup Om Dipo selama ini, lebih ketimbang yang saya ketahui. Akhirnya malah menjadi tekad saya untuk bersungguh-sungguh mengikuti jejak Om Dipo, yaitu hidup dan mati sebagai orang baik. Hal yang amat bersahaja sejatinya, namun bisa jadi tak semudah kata untuk mengejawantahkannya.

* Sepercik Kenangan tentang (Alm) Ags. Arya Dipayana (1961-2011)

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Tribun Jabar Minggu, 19 Mei 2013.

3 komentar

  1. pengalaman yang inspiratif dan penuh hubungan emosional antara paman dan keponakannya…
    salam kenal, kak
    kak mau nanya, kiranya cara untuk mengirim tulisan agar dimuat oleh media (seperti tribun) gimana ya ?


    • terima kasih atas apresiasinya. kalo sudah punya karya, tinggal kirim saja ke berbagai media yg alamatnya tersebar di mana-mana. coba saja buka ini : http://lakonhidup.wordpress.com/redaksi/


      • oke, thanks ya kak atas infonya ….



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: