h1

Pemimpin Boneka

Juli 6, 2013

Puluhan tahun sudah aku berkiprah di berbagai bidang. Tentu banyak nian yang kudapatkan. Beragam jabatan pernah kududuki, harta berkecukupan bisa kumiliki. Rumah besar serta mobil mewah mampu kubeli, anak-anak pun dapat kusekolahkan ke luar negeri. Namun ada sesuatu yang rasanya masih kurang dalam perjalanan hidupku. Aku belum menjadi orang yang memiliki kekuasaan besar dan dikenal di seluruh penjuru negeri. Meski ada beberapa orang yang menghormatiku, tapi jumlahnya jelas tidak signifikan karena mereka hanya berada di tempat tertentu. Masih belum kupahami benar bagaimana caranya agar menjadi figur publik, yang tindak tanduknya dan kata-katanya menjadi perhatian khayalak ramai, tapi tanpa harus menjadi artis. Aku malah terobsesi menjelma sebagai seorang pahlawan yang berjasa besar bagi negeri ini, kendati konteksnya tentu berbeda dengan masa lampau yang berjuang melawan penjajahan bangsa asing.

Kemudian serta merta hadirlah tawaran yang bagaikan sebuah rezeki tak terduga bagiku. Aku diajak untuk terlibat dalam sebuah pertempuran. Sesungguhnya aku cinta damai, jadi semula enggan mesti maju perang, demi sesuatu yang belum kutahu pasti seluk beluknya. Namun orang yang kuhormati berhasil mengiming-imingi diriku dengan hal-hal yang justru berhubungan erat dengan impianku. Aku malah diberi kesempatan untuk mengejawantahkannya dengan dukungan sepenuhnya dari beliau.

”Sudah, pokoknya Anda tinggal bilang ’saya bersedia’, maka Anda pasti akan menguasai organisasi tersebut. Saya punya tim sukses yang bekerja profesional dan sangat berpengalaman. Mereka tak mungkin gagal kali ini,” kata beliau berupaya meyakinkanku.
”Tapi, bukankah saya tidak punya cukup modal untuk berkuasa?” tanyaku sarat keraguan.
”Soal itu, Anda tak usah khawatir. Saya sudah siapkan modal besar berupa dana tak terbatas maupun sumber daya manusia berkualitas. Kita akan membuat perubahan signifikan di negeri ini. Dan Andalah yang menjadi pemimpinnya.”

Aku mulai tergiur dengan ucapan orang yang -kutahu- memiliki kekuasaan luar biasa atas sejumlah pihak di berbagai sudut negeri. Tampaknya inilah kesempatan emasku agar bisa menjadi penguasa yang terpandang. Memimpin organisasi besar itu dengan mengusung tema perubahan, pastilah peluangku kian nyata mewujudkannya.

”Anda tahu kan, kenapa pemimpin yang lama amat berat melepas kursinya? Lantaran ada begitu banyak keuntungan yang diperolehnya selama ini. Dia tinggal bisa gigit jari belaka kini. Sudah saatnya giliran kita meraih keuntungan besar itu. Andalah yang terpilih untuk memimpin kita meraih kejayaan. Jadi, bagaimana keputusan Anda?”
”Baiklah, saya bersedia maju dalam pemilihan itu. Saya percaya, Bapak pasti akan mendukung saya sepenuhnya.”

Tanpa kesulitan berarti, akhirnya aku terpilih menjadi pemimpin utama. Ternyata tak perlu terjadi pertempuran habis-habisan sebagaimana yang kubayangkan sebelumnya. Tidak sekadar senang, aku pun bangganya luar biasa dapat meraih kedudukan itu. Bayang-bayang kejayaan sudah berada tepat di depan mata. Menjadi pemimpin yang berkuasa atas nasib banyak orang, jelas membuatku bakal tenar di mata masyarakat. Tentu pundi-pundi kekayaanku dipastikan akan bertambah jumlahnya, barangkali malah bisa menjadi bekal untuk anak cucuku sampai keturunan kesekian nanti.

***
”Jadi, langkah pertama apa yang harus saya ambil, Pak?” tanyaku kepada orang yang telah mendorongku untuk tampil.
”Pertama, singkirkan segera orang-orang lama yang masih bercokol di organisasi. Jangan sampai mereka punya peluang untuk bangkit dan melawan kita.”
”Maaf, Pak. Apakah hal itu tidak malah membahayakan kita? Apakah posisi saya bakal aman sampai empat tahun ke depan?”
”Anda tak perlu khawatir. Kita punya pasukan yang hebat untuk membentengi kekuasaan Anda. Percayalah, mereka tak bakal berkutik.”
”Oh, begitu. Baiklah, saya akan selalu menuruti apa saran Bapak saja.”
”Hahaha… Saya memang tak salah memberi Anda kepercayaan.”

Maka aku mulai membuat keputusan-keputusan penting untuk organisasi, sesuai dengan petunjuk beliau yang merupakan junjunganku. Aku senantiasa menuruti apa kata beliau tanpa kompromi. Sudah semestinya aku melakukan hal itu. Beliau adalah orang yang sangat berjasa menempatkanku pada posisi istimewa saat ini. Anehnya, selalu terjadi kontroversi yang mengiringi setiap keputusanku. Bahkan lambat laun semakin banyak pihak yang memusuhiku. Kekacauan malah menjadi-jadi, stabilitas organisasi sudah tiada lagi. Aku jelas tak bisa melaksanakan tugasku dengan penuh konsentrasi. Tidak bisa tidak, aku harus bertanya kembali kepada beliau yang kuhormati.

”Bagaimana ini, Pak? Kursi saya kok terus bertambah panas? Perlawanan mereka semakin nyatadan mengancam kekuasaan kita.”
”Nah, inilah saatnya bagi Anda menunjukkan kualitas sejati kepemimpinan Anda. Saya sudah memberi jalan lebar untuk Anda melangkah jauh. Silakan, Anda mau berbuat apa, terserah sajalah. Pokoknya, mulai sekarang saya hanya mau tahu beresnya saja.”

Sungguh, aku bagaikan tersesat di padang gersang kini. Sosok yang selama ini menjadi penunjuk jalanku malah memintaku mencari jalan sendiri. Jadi, ke arah mana mesti kuayunkan langkah? Siapa gerangan sekarang yang sanggup menolongku? Sudah tibakah saatnya bagiku mengibarkan bendera putih saja?

Yogyakarta, 31 Januari 2013

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Kedaulatan Rakyat Minggu, 23 Juni 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: