h1

Faktor Non-Teknis Kekalahan Telak Indonesia

Agustus 1, 2013

Begitu banyak hal yang bisa dibicarakan sesudah timnas Indonesia –dengan tiga nama berbeda- menjamu tiga klub raksasa Liga Premier Inggris sepanjang Juli 2013. Tim asuhan Jacksen F. Tiago kalah telak 0-7 dari Arsenal (14/7) dan hanya kalah 0-2 dari Liverpool (20/7). Sementara itu tim asuhan Rahmad Darmawan dihabisi 1-8 oleh Chelsea (25/7). Sudah sangat beragam komentar diberikan oleh para pakar, jurnalis, dan pemerhati sepak bola nasional pada umumnya jika dilihat dari faktor kualitas teknis. Demikian pula jika dihubungkan dengan faktor ekonomis-bisnis yang menjadi alasan kehadiran klub-klub itu di Jakarta. Namun ada sejumlah hal non-teknis lainnya yang mungkin lolos dari perhatian kita, yang mewarnai tiga hasil laga yang tidak menyenangkan tersebut.

bni indo as vs chelsea

Pertama adalah soal nama yang dipakai oleh timnas Indonesia. Label tambahan ‘dream team’ dan ‘all stars’ ketika menghadapi Arsenal dan Chelsea tampaknya terlalu berat ditanggung oleh para pemain timnas. Frasa tersebut memang terasa rada berlebihan. Maka Indonesia Dream Team dan BNI Indonesia All Stars pun mesti menanggung malu mengalami kekalahan dengan skor besar yang dideritanya. Nah, ketika Indonesia XI tampil melawan Liverpool ternyata angka kekalahannya tidak terlalu mencolok. Para pemain pun bisa sedikit percaya diri dan publik juga tidak terlalu kecewa dengan hasil tersebut.

Kedua, kostum warna putih yang dikenakan oleh M. Roby dkk sepertinya cenderung membawa ketidakberuntungan. Indonesia Dream Team menggunakan kaos putih dan celana merah. BNI Indonesia All Stars memakai kaos dan celana putih. Hasilnya adalah dua kekalahan telak. Sedangkan saat Indonesia XI mengenakan kostum serba merah, para pemain bagaikan memiliki semangat dan motivasi tambahan, maka Liverpool hanya mampu mencetak dua gol ke gawang Kurnia Meiga.

indonesia_xi-300x336

Lantas kehadiran sejumlah tokoh politik di tribun VIP penonton -yang bisa dicurigai sebagai kampanye terselubung- ketika Arsenal dan Chelsea berlaga rupanya menghadirkan dampak negatif. Berbeda ketika mereka tak ada, penampilan timnas nyatanya bisa lebih baik.

Khusus dalam laga menghadapi Chelsea, perseteruan BNI dengan pihak My Events yang masih mengganjal bagi kedua pihak seolah menambah aura negatif pula ketika tim asuhan Rahmad Darmawan tampil.

Namun bagaimanapun, semua hal yang terungkap di sini barangkali kebetulan belaka.

indonesia_all_star_vs_chelsea-20130725-002-bola.net

Secara teknis, Arsenal dan Chelsea tampaknya memang lebih baik ketimbang Liverpool, baik dilihat dari materi pemainnya maupun sosok pelatihnya. Arsene Wenger dan Jose Mourinho merupakan pelatih dengan segudang pengalaman menjadi juara, sementara Brendan Rodgers adalah pelatih muda yang baru semusim menangani klub bernama besar seperti The Reds. Jadi layak saja The Gunners dan The Blues bisa berpesta gol di depan penggemarnya di Indonesia.

Di masa depan, PSSI mesti lebih cermat menerima tawaran pihak promotor yang ingin menghadapkan timnas dengan klub-klub besar dari Eropa. Jadwal laga yang terlalu dekat diakui oleh Jacksen F. Tiago sangat berat bagi tim asuhannya dan hasilnya memang membuat hati tak nyaman. Semoga pada pertandingan selanjutnya Boaz Solossa dkk bisa menghadapi timnas yang tak jauh berbeda kualitasnya dan meraih hasil yang lebih apik. Pada sisi yang lain, pembinaan pemain muda mutlak menjadi perhatian serius bagi PSSI agar menjadi tidak sia-sia berkah melimpahnya talenta pesepak bola muda di negeri ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: