h1

Kontradiksi Rossoneri

Februari 16, 2014

AC Milan belum mampu bangkit dari keterpurukan di Serie A. Sesudah menang atas Atalanta 3-0 (6/1), Ricardo Kaka dkk mesti menelan pil pahit kembali dengan kalah 3-4 dari Sassuolo. Posisi Rossoneri ada di nomor 11 pada pekan ke-19 (paruh musim pertama) berselisih 30 poin dengan Juventus sebagai pemuncak klasemen dan 20 poin di bawah Napoli yang duduk di peringkat ketiga Serie A (zona Liga Champion). Kesabaran pihak manajemen telah habis, Massimiliano Allegri pun resmi dipecat pada pertengahan musim 2013/14. Clarence Seedorf telah ditunjuk sebagai pelatih baru, meski mantan pemain Tim Merah-Hitam tersebut masih nihil pengalaman manajerial. Sebelum Seedorf resmi bertugas di San Siro, Mauro Tasssoti sebagai pelatih sementara membawa timnya menang 3-1 atas Spezia (15/1) dan lolos ke 8 besar Coppa Italia. Keisuke Honda mencetak gol pertamanya untuk Milan. Giampaolo Pazzini yang baru pulih dari cederanya pun mampu kembali membuat gol. Sebuah sinyal bagus menyambut kehadiran pelatih baru tentunya.

acmilan_tassoti_seedorf

Melihat posisi Rossoneri yang bagaikan tim semenjana di Liga Italia musim ini menjadi sebuah kontradiksi kala melihat kiprahnya di Eropa. Ketika masih ditangani Allegri, Milan justru mampu menyelamatkan muka sepak bola Italia dengan menjadi wakil tunggal Serie A di babak 16 Besar Liga Champion Eropa 2013/14. Milan menjadi runner-up Grup H di bawah Barcelona.
Juventus yang begitu perkasa di dalam negeri dan siap mencetak hattrick meraih scudetto musim ini ternyata tak kuasa lolos dari persaingan Grup B. Real Madrid dan Galatasaray menjadi tim yang lolos dari grup tersebut. Sementara itu, Napoli boleh dibilang tidak beruntung karena mesti tersisih, padahal memiliki poin yang sama dengan Borussia Dortmund dan Arsenal sebagai wakil Grup F.

Milan akan berjumpa dengan Atletico Madrid di babak 16 Besar Liga Champion yang berlangsung pada 19 Februari dan 19 Maret 2014. Di atas kertas, tim besutan Diego Simeone lebih pantas dijagokan menang. Atletico merupakan tim yang diprediksi mampu mengakhiri dominasi Barcelona dan Madrid dengan menjadi jawara La Liga musim ini. Posisi di paruh musim telah menunjukkan kehebatan Diego Costa dkk. Simeone pun terbukti bertangan dingin dengan membawa timnya memenangkan Liga Europa 2011/12, Piala Super Eropa 2012, dan Copa del Rey 2012/13. Sementara itu, Rossoneri justru ditangani oleh Seedorf yang masih hijau sebagai pelatih. Namun siapa tahu, pengalaman lelaki Belanda itu sebagai pemain bermental juara bisa ditularkan kepada anak asuhnya. Apalagi Milan sendiri memiliki tradisi bagus saban berlaga di ajang antarklub Eropa. Jadi, siapa pun masih mungkin lolos ke babak selanjutnya. Hasil di lapangan jelas bisa berbeda dengan prediksi di atas kertas.

* Opini ini dimuat di BolaVaganza No.148 – Februari 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: