h1

Harapan Perubahan di Era Alfred Riedl

Maret 18, 2014

Kekalahan 0-1 dari Arab Saudi dalam pertandingan terakhir Grup C Kualifikasi Piala Asia 2015 pada 5 Maret 2014 lalu menjadi debut Alfred Riedl dalam periode keduanya menangani timnas senior Indonesia. Kendati Hamka Hamzah dkk sudah bertahan habis-habisan dan Kurnia Meiga mampu mementahkan sejumlah peluang emas tim tuan rumah, tapi Fahad Al-Muwallad masih bisa satu kali membobol gawang Skuat Garuda di menit ke-86. Walau akhirnya gagal membawa pulang poin dari kota Dammam, namun tidak kalah telak dari juara Grup C Kualifikasi Piala Asia 2015 merupakan hasil lumayan.

Berada satu grup dengan Arab Saudi, Irak, dan Cina memang hasil undian yang tidak menyenangkan untuk Indonesia. Ketiga tim tersebut merupakan tim papan atas Asia. Apalagi pada awal kualifikasi, konflik internal yang terjadi di PSSI membuat timnas tidak bisa tampil dengan materi pemain terbaiknya.

Tim Merah-Putih melewati enam laga kualifikasi Piala Asia di bawah tiga pelatih yang berbeda. Materi pemain yang diandalkan pun mesti berkali-kali mengalami perubahan. Ketika dilatih Nilmaizar dan duet Rahmad Darmawan-Jacksen F Tiago, timnas masing-masing sekali kalah dari Irak (0-1) dan Arab Saudi (1-2). Satu-satunya hasil imbang diraih ketika Indonesia menjamu Cina (1-1) di bawah JFT. Selanjutnya timnas besutan pelatih Brasil itu dua kali kalah dari Cina (0-1) dan Irak (0-2). Laga tandang menghadapi Arab Saudi -di bawah Riedl- memungkasi perjalanan Indonesia di kualifikasi Piala Asia 2015. Indonesia menjadi juru kunci grup dengan hasil sekali imbang dan lima kali kalah. Boaz Solossa memborong dua gol timnas, sementara delapan gol bersarang di gawang Indonesia yang bergantian dijaga oleh Endra Prasetya, Kurnia Meiga, dan Made Wirawan.

Meski memanggil sejumlah pemain baru yang belum pernah memperkuat timnas senior, tapi Alfred masih menurunkan para pemain senior ketika melawan Arab Saudi. Mungkin dipandang riskan menurunkan pemain debutan pada laga resmi menghadapi sebuah tim yang di atas kertas jelas memiliki kekuatan lebih baik ketimbang Indonesia. Hasilnya pun hanya kalah tipis. Dalam awal periode keduanya bersama Skuat Garuda, Alfred cenderung memakai formasi 4-3-3. Berbeda dengan periode pertamanya tempo hari (2010-2011), pelatih asal Austria itu fanatik dengan formasi 4-4-2. Formasi yang juga sering dipakai di tim-tim yang pernah ditukanginya macam Vietnam serta Laos.

Sesudah gagal tampil di Piala Asia 2015, kini saatnya timnas menatap ke depan, yakni menjalani proses berikutnya menuju target menjuarai Piala AFF 2014.

Berharap Darah Muda
Dalam sejumlah laga uji coba nanti, pelatih akan mencoba pemain-pemain pilihannya hingga tersusun komposisi tim yang terbaik. Perubahan formasi juga bukan merupakan hal yang mustahil. Kita pun layak berharap nama-nama seperti Alfin Tuasalamony, Manahati Lestusen, Irsyad Maulana, Bayu Gatra, atau bahkan Evan Dimas bakal menjadi pemain andalan timnas senior selanjutnya dan mereka mampu mempersembahkan gelar juara bagi Indonesia.

Pelatnas di masa libur kompetisi seiring pelaksanaan Pemilu Legislatif menjadi awal bagi Alfred membangun kekuatan timnas buat keperluan Piala AFF 2014. Banyak waktu bagi pelatih asal Austria itu mencoba kemampuan sebanyak mungkin pemain.

Biarpun sedikit terlambat, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-30 untuk BOLA. Semoga kian berjaya dan tetap setia mengawal dunia olah raga Indonesia berproses menuju ke arah yang lebih baik.

* Opini ini dimuat di Opini Publik Harian BOLA Selasa, 18 Maret 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: