h1

Ibu Tiri

April 29, 2014

Alia sungguh berharap kedua orangtuanya tidak akan terkejut dengan keterusterangan yang disampaikannya, kendati barangkali mereka tidak serta merta menyetujui pilihannya. Tujuan utama kepulangannya kali ini memang merundingkan rencana masa depannya bersama Santoso di hadapan bapak ibunya. Setelah sampai di rumah dan sejenak beristirahat di kamarnya, Alia lantas menghadap kedua orangtuanya yang tengah bersantai di serambi rumah, Minggu pagi itu.

“Bapak dan Ibu, Alia ingin mengatakan sebuah hal penting,” ujar Alia.
“Silakan saja, Bapak dan Ibu siap mendengarkan,” sahut bapaknya sambil menaruh koran yang baru dibacanya. Ibu yang sedang membaca sebuah majalah pun menganggukkan kepalanya seraya menatap lembut wajah putri terkasihnya.
“Seperti yang Bapak dan Ibu tahu, saya kan sudah beberapa bulan ini dekat dengan Mas Santoso. Nah, kami sudah bersepakat untuk melangkah lebih jauh. Mas Santoso berniat akan segera melamar saya. Bagaimana menurut Bapak dan Ibu?”
”Ya, kalau kau sendiri sudah mantap dengan pilihanmu, tinggal dicari saja waktu yang tepat, supaya orangtua Santoso bisa datang kemari,” ucap Bapak.

”Mmm… Mas Santoso sudah tidak punya orangtua, Pak. Dan ada satu hal lagi yang belum pernah saya haturkan kepada Bapak dan Ibu,” kata Alia lagi.
”Apa itu, Nak?” tanya Ibu dengan mengernyitkan dahi.
”Mas Santoso adalah duda dengan tiga orang putri. Dan usia Mas Santoso dua puluh tahun lebih tua ketimbang saya”
”Hah, jadi pacarmu itu sudah cukup berumur dan punya anak?” komentar Bapak cukup kaget. Ibu pun tampak sedikit terperanjat, tapi dapat lekas menguasai diri.
”Iya, Pak. Memang kenapa jika demikian?” Alia ingin lekas tahu pendapat orangtuanya.

”Buat Ibu sih, terserah kau saja, siapa yang sungguh kau cintai dan kau anggap baik. Tapi apa kau sudah siap menjadi seorang ibu tiri, Alia? Ibu sih percaya, putri kesayangan Ibu pasti bisa menjadi ibu yang baik. Ibu kenal sekali karaktermu seperti apa. Namun pasti tak mudah bagimu menjadi ibu tiri yang baik, Nak,” tutur Ibu yang sedikit khawatir dengan masa depan putrinya.
”Insya Allah, saya akan berusaha benar untuk itu. Terima kasih ya, Bu. Jika ada doa restu dari Ibu dan Bapak, saya pasti sanggup menjalaninya,” jawab Alia.

”Memang Bapak terus terang rada kaget dengan yang kau ucapkan baru saja. Bapak setuju apa kata ibumu. Yang terpenting, tetap kau sendiri yang akan menjalaninya. Hanya lebih baik biarkan Santoso ketemu kami lebih dahulu, sebelum keluarganya nanti resmi datang melamarmu. Bapak ingin kenal betul dengan calon menantu Bapak,” ucap Bapak bijak.

Alia lega sekali, kedua orangtuanya ternyata tidak keberatan menerima lelaki yang dicintainya adalah seseorang yang telah berkeluarga. Ia ingat, Nora kakaknya sempat ditentang habis-habisan ketika memilih Wayne Rogers, seorang lelaki Inggris, menjadi pasangan hidupnya. Apalagi Nora malah kemudian hijrah ke negeri Ratu Elizabeth mengikuti suaminya.

”Sebetulnya Bapak lebih suka mendengar calon suamimu itu perjaka yang usianya tak beda jauh denganmu, Alia. Tapi Bapak sudah belajar dari pengalaman kakakmu dulu, jadi tidak ada gunanya lagi menghalangi keinginan putri kami sendiri,” lanjut Bapak kepada Alia.
”Mungkin memang begitulah nasib putri-putri kita, Pak. Dulu Nora dipersunting orang Inggris dan pindah ke sana, sementara sekarang Alia akan menikah dengan duda beranak tiga,” komentar Ibu yang tersenyum seraya mengelus-elus rambut putrinya.

”Terima kasih ya, Bapak dan Ibu. Alia sangat bersyukur memiliki orangtua yang memahami keinginan anaknya,” sahut Alia dengan mata berkaca-kaca.
”Kami juga bersyukur punya anak sebaik dirimu. Bapak yakin, Tuhan akan memberikan jalan terbaik sepanjang hidupmu, apa pun yang kau pilih nanti,” ucap Bapak yang tampak terharu pula bersama Ibu.
”Alia, apakah putri-putri Mas Santoso sudah mau menerimamu sebagai calon ibu baru bagi mereka?” tanya Ibu seusai mengusap air matanya dengan sapu tangan.
”Sebetulnya, selama ini saya sudah berhubungan cukup dekat dengan mereka bertiga, Bu. Tapi anehnya, begitu tahu Mas Santoso mau menikahi saya, si sulung yang bernama Andara tampaknya keberatan. Dia kemudian malah mengambil jarak dengan saya. Sementara adik-adiknya, Devina dan Elvara, justru senang sekali. Mereka berdua jadi lebih akrab dengan saya akhir-akhir ini.”

”Lalu, apa yang sudah kalian lakukan menghadapi sikap Andara?” tanya Bapak.
”Mas Santoso sedang berusaha meyakinkan putrinya bahwa saya mampu menjadi ibu yang baik bagi Andara dan kedua adiknya. Saya sendiri akan mengajaknya bicara dari hati ke hati dan mencoba membuatnya percaya kepada saya.”
”Semoga upaya kalian berhasil, Nak. Yang jelas, Ibu dan Bapak di sini pasti akan menerima serta menyayangi Andara dan adik-adiknya sebagaimana cucu kandung kami sendiri. Lihat saja, jika kami bertemu dengan mereka nanti,” ujar Ibu memberi jaminan.
”Iya Bu, sekali lagi terima kasih. Saya mesti yakin, kami kelak bisa menikah dengan restu seluruh putri Mas Santoso,” kata Alia dengan suara bergetar.

***

Santoso kemudian bertandang ke rumah orangtua Alia dengan membawa ketiga putrinya. Ketulusan sikap dan perhatian dari seluruh keluarga Alia saat menerimanya, membuat Santoso yakin bahwa Alia adalah perempuan terbaik yang mampu menjadi istrinya dan ibu baru untuk anak-anaknya. Andara yang semula masih memasang wajah tegang kala datang pun mulai mencair sikapnya melihat Devina dan Elvara cepat akrab dengan orangtua maupun adik-adik dari Alia. Tampaknya, kecemasannya akan memiliki seorang ibu tiri yang jahat mesti segera disirnakannya dari hati.

Sekian pekan berselang, Santoso dengan diantarkan oleh kerabatnya secara resmi datang melamar Alia. Yang unik, orang yang menggantikan posisi orangtua Santoso adalah mantan mertuanya, bapak dari almarhumah istri pertamanya yang telah tutup usia.

”Sepeninggal putri kami, Nak Santoso sudah seperti anak kandung kami sendiri. Oleh karena itu, justru saya yang sekarang datang melamar untuk dirinya. Sekiranya nanti Nak Alia menjadi istri Nak Santoso, dia menjadi seperti pengganti putri kami,” ujar mantan bapak mertua Santoso di hadapan keluarga Alia.
“Bapak, kami semakin percaya bahwa Saudara Santoso merupakan lelaki yang mulia hatinya. Baru kali ini, kami menemui ada seorang mantan mertua yang bersedia datang melamar untuk suami putrinya yang telah tiada. Kami sekarang tinggal menyerahkan semuanya kepada Alia agar bisa menjawabnya,” sahut salah satu paman Alia mewakili keluarga besarnya.

Tentu saja, Alia tak lagi berpikir panjang dan menerima lamaran Santoso. Dua bulan kemudian, mereka berdua jadi bersanding di pelaminan. Andara, gadis berusia empat belas tahun itu, sudah menerima pilihan bapaknya serta berjanji akan menerima dengan baik Alia sebagai ibu barunya.

***

Kehidupan rumah tangga baru Alia dan Santoso telah berlangsung sekian bulan. Alia tiba-tiba merasa sangat gelisah. Sebuah film baru yang bertajuk ’Ratapan Anak Tiri’ sedang menjadi buah bibir di seluruh penjuru negeri dan sebentar lagi kabarnya akan diputar di bioskop yang ada di kota tempat tinggalnya. Ia kemudian mencurahkan kegundahan hatinya kepada sang suami, sepulang mereka berdua dari bekerja.

”Mas Santoso sudah tahu, ada film judulnya ’Ratapan Anak Tiri’ yang sebentar lagi diputar di sini?” tanya Alia tanpa menyembunyikan kecemasannya.
”Iya, saya sudah dengar. Tapi apa ceritanya, saya belum tahu persis.”
”Ceritanya tentang anak yang lahir batinnya menderita karena memiliki seorang ibu tiri yang jahat, Mas.”
”Hah, begitu ceritanya? Sangat klise. Siapa sih yang membuat film itu, apa dia tidak pernah mengerti, di alam nyata ini, seorang ibu tiri pun bisa baik hatinya?” kata Santoso sedikit sewot.
”Ya, dia mungkin memang tidak tahu. Saya sebetulnya khawatir, anak-anak bakal terpengaruh dengan film itu, Mas. Walaupun sejauh ini rasanya saya tidak pernah berbuat jahat terhadap Dara, Vina, maupun Vara,” ucap Alia sembari berusaha menahan air matanya supaya tak sampai tumpah. Santoso yang memahami kesedihan istrinya pun lekas memeluk perempuan yang sungguh dicintainya.
”Tidak, Dik Alia. Saya yakin, anak-anak tidak akan percaya dengan isi film tidak bermutu itu. Andara dan adik-adiknya sudah tahu persis, Dik Alia adalah ibu yang baik bagi mereka. Sudahlah, mending kita tak perlu terlalu khawatir dengan film itu, apalagi sampai menontonnya.”

”Mas, bagaimana jika kita ajak saja anak-anak menonton film itu?” ujar Alia serta merta, yang membuat Santoso tentu saja sangat terperanjat.
”Hah, apa aku tidak salah dengar? Bagaimana dengan kecemasanmu tadi?”
”Justru itu, aku ingin membuktikan apa kata Mas Santoso. Jika anak-anak percaya bahwa aku merupakan ibu tiri yang baik bagi mereka, pasti mereka tidak akan terpengaruh dengan apa pun materi film itu kan, Mas?” ucap Alia yang jadi bersemangat.
”Dik Alia, aku memang tak salah memilihmu sebagai pendamping hidupku. Cara berpikirmu itu luar biasa! Aku setuju dan mendukung gagasanmu. Mari kita ajak anak-anak menonton ’Ratapan Anak Tiri’ dan biarkan mereka justru bersyukur karena kenyataan yang mereka hadapi tidak seperti yang digambarkan film itu.”

Maka ketika film yang ramai dibicarakan khalayak tersebut jadi diputar di bioskop, Santoso pun mengajak Alia bersama ketiga putrinya menyaksikannya beramai-ramai. Mereka memang sempat terharu melihat nasib malang si anak karena ulah ibu tirinya yang sangat jahat dalam cerita film tersebut. Lantas, apa kata ketiga putri Santoso setelah film usai?

”Itu sih salah bapaknya, kenapa dia memilih wanita jahat sebagai istrinya?” ucap Devina, si anak kedua yang berusia dua belas tahun.
”Iya, betul itu, Kak. Orang gadis yang baik masih banyak, kenapa dia mesti memilih wanita itu?” komentar Elvara, sang bungsu yang baru berumur sembilan tahun.
Santoso dan Alia sebatas tersenyum mendengarkan komentar mereka. Andara yang semula hanya diam, akhirnya ikut bersuara sambil matanya melirik ke arah Alia.
”Yang paling penting, kenyataannya kita bertiga hanya punya seorang ibu yang baik hati. Tidak ada itu, ibu tiri yang jahat dalam hidup kita. Dan bukankah kita sangat senang menjalani hidup seperti ini, adik-adikku?”
”Iya, kami setuju!” teriak Devina serta Elvara nyaris berbarengan. Ketiga gadis muda tersebut saling memandang, lalu sama-sama menatap Alia dengan senyuman.
”Kami semua sayang sama Ibu,” kata Andara, Devina, dan Elvara secara spontan, sambil tiba-tiba memeluk Alia dengan hangat.

Sempat terpana belaka Alia mendapat perlakuan serupa itu. Ia begitu bersukacita, maka dibiarkannya saja air mata haru membasahi wajah cantiknya dalam pelukan tulus ketiga putrinya. Memilih Santoso sebagai suaminya serta menjadi ibu tiri bagi Andara, Devina, dan Elvara ternyata sebuah karunia yang indahnya luar biasa. Sementara itu, Santoso tersenyum dengan mata berkaca-kaca memerhatikan apa yang terjadi. Sekali lagi, ia merasa sungguh beruntung telah dipertemukan dengan gadis berhati mulia yang akhirnya menjadi istri terkasihnya.

TAMAT

# Cerpen ini (versi yang sudah disunting redaktur) dimuat di Inilah Koran Minggu, 27 April 2014. Judul aslinya adalah “Memilih Menjadi Ibu Tiri”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: