h1

Menjelang Pernikahan Adik Perempuanku

Agustus 11, 2014

ilustrasi cerpen menjelang p a p

Sebentar lagi, keluarga kami memiliki hajat besar. Bapak dan Ibu akan menikahkan Vina, adik bungsuku sekaligus satu-satunya anak perempuan orangtuaku. Untuk sementara kutinggalkan Jakarta agar bisa kubantu persiapan acara keluarga yang tak biasa di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Bagi Bapak dan Ibu, pernikahan Vina di hari Minggu nanti merupakan kesempatan tunggal bagi mereka mengadakan acara mantu, jadi kami sangat serius mempersiapkan semua hal, tentunya agar acara tersebut berlangsung mulus sesuai asa bersama.

Sehari sebelum pernikahan adikku, tepatnya pada Sabtu pagi, sebuah berita duka kami terima. Pakde Parto, kakak tertua ibuku -yang sudah sakit parah selama dua tahun terakhir- tutup usia. Beliau wafat ketika fajar menyingsing dan akan langsung dimakamkan siangnya karena semua anak cucu Pakde Parto kebetulan sudah berkumpul. Mereka datang sebenarnya untuk menghadiri pernikahan adikku keesokan harinya. Kota tempat tinggal Pakde Parto dan kota kami sendiri terpisah jarak belasan kilometer belaka.

”Mungkin ibumu jangan diberitahu dulu, demikian pula Vina,” usul Mbak Runi ketika memberi kabar padam nyawanya sang ayah lewat telepon.
”Iya Mbak, lebih baik begitu. Saya mewakili keluarga besar Bapak turut berduka atas wafatnya Pakde Parto. Mohon maaf, kami mungkin tak sempat melayat”
”Kami maklumi kalian yang tak bisa datang. Sekarang mending kamu urus persiapan pernikahan Vina. Sampai jumpa besok ya, Dik.”

Betapa tidak nyamannya perasaanku. Pakde Parto berakhir riwayat hidupnya, tapi Ibu yang merupakan adik kandung almarhum malah belum tahu. Padahal sejumlah kerabat yang berada di rumah kami sudah mengerti kabar itu. Kuminta mereka semua agar merahasiakan berita duka tersebut agar tidak sampai ke telinga Ibu maupun Vina. Kekhawatiran Mbak Runi memang beralasan lantaran ibuku memiliki penyakit jantung. Sebuah kejutan tak menyenangkan manakala tengah menyambut acara membahagiakan putri bungsunya, bisa saja mempengaruhi kondisi kesehatan Ibu. Demikian pula dengan Vina yang mesti dijaga agar konsentrasinya tak buyar menjelang hari istimewanya. Aku tahu, ia memiliki hubungan yang hangat pula dengan pakdenya. Kendati kecewa tak bisa mendatangi pemakaman Pakde Parto, tapi aku paham, tanggung jawabku tak ringan demi menjamin kelancaran hajat besar keluarga kami.

***
Lantaran Vina menikah mendahului Dino, salah satu kakaknya, maka ada upacara menyerahkan pelangkah sesuai dengan adat Jawa. Namun sehabis acara tersebut dilaksanakan, Dino kemudian pergi tanpa pamit. Ia menghilang begitu saja dari rumah.
”Bagaimana ini, Mas? Tidak ada yang tahu, Dino pergi ke mana,” ucap Beni adikku menjelang acara midodareni.
”Dino sudah dewasa, Ben. Tak usahlah kita terlalu memikirkan dia. Aku percaya, dia bisa jaga diri. Besok pagi ketika Vina menikah, dia pasti sudah pulang,” sahutku mencoba menenangkan Beni.

Beberapa saat setelah acara midodareni usai, Dino tetap belum terlihat batang hidungnya. Tiba-tiba Bapak memanggilku dengan raut wajah tegang.
”Ada apa, Pak? Baru saja Bapak terima telepon dari siapa?” tanyaku.
”Itu tadi dari kantor polisi. Adikmu Dino ada di sana,” sahut Bapak agak berbisik.

Ternyata Dino berada di tempat itu karena -menurut keterangan polisi- ia mabuk dan telah menabrak orang di jalan. Ah, ada-ada saja peristiwa yang terjadi menjelang pernikahan Vina besok pagi.
”Tolong, kamu jemput adikmu, ya. Kata polisi, dia boleh dibawa pulang, asal ada jaminannya,” kata Bapak lagi.
”Baiklah, Pak. Serahkan saja urusan Dino pada saya. Oh ya, tolong Bapak jaga Ibu agar tidak sampai tahu masalah ini,” ujarku. Bapak pun menganggukkan kepalanya.

Bergegas saja aku beranjak pergi bersama Beni dan Om Narso -adik kandung Bapak- menuju kantor polisi. Moga-moga kami bisa melakukan negosiasi dengan mereka agar Dino bisa pulang selekasnya.
”Ben, kamu tahu Dino sedang ada masalah apa?” tanyaku pada Beni di dalam mobil.
”Tidak tahu, Mas. Cuma beberapa hari ini, dia kelihatan lebih pendiam,” sahut Beni.
”Apa dia sebelumnya sering mabuk?”
”Sepertinya terakhir sekitar dua minggu lalu, waktu habis putus dengan pacarnya. Begitu yang saya dengar dari Ibu.”
”Apa mungkin dia sebenarnya kurang ikhlas, karena adiknya menikah mendahului dirinya?” tanya Om Narso.
”Mungkin saja, Om,” ucapku.
”Om hanya berpesan agar kalian jangan memarahi Dino. Biarkan dia nanti pulang dengan hati nyaman. Dia mungkin merasa kurang mendapat perhatian saja.”

Aku dan Beni mengiyakan apa kata Om Narso. Dalam hati kucoba memaklumi kelakuan adikku. Usia Dino hanya setahun lebih tua daripada Vina, sementara Vina satu-satunya anak perempuan, sehingga otomatis menjadi sosok paling istimewa di keluarga kami. Barangkali tanpa sengaja, baik Bapak dan Ibu, bahkan aku maupun Beni, sudah sering bersikap diskriminatif terhadap mereka sedari Dino dan Vina masih kecil. Ketika kedua bocah itu dahulu bermain bersama, lalu Vina menangis, maka Dino selalu disalahkan dan menjadi sasaran kemarahan kami. Seiring waktu, Vina lantas melanjutkan kuliah di Yogyakarta, sementara Dino memutuskan bekerja di bengkel sepeda motor sesudah lulus dari SMK. Seusai merampungkan kuliahnya, Vina bekerja di Jakarta, dan tak lama kemudian bertemu dengan jodohnya. Sementara itu, tempat Dino bekerja tidak banyak pelanggannya, jadi kadang ia bagaikan seorang penganggur belaka. Maklumlah, kota tempat tinggal orangtua kami memang tak terlalu besar. Lalu dalam soal asmara, mesti berkali-kali pula Dino patah hati.

Bukannya aku tak pernah mencoba membantu adikku. Aku sempat mengajaknya tinggal bersamaku supaya bisa bekerja di Jakarta. Dino tak mau, karena ia kasihan pada orangtua kami yang usianya semakin menua. Memang hanya dirinya yang masih tinggal bersama mereka. Beni dan keluarganya telah memiliki rumah sendiri, meski masih berada di kota yang sama. Kuhargai pilihan Dino, apalagi alasannya adalah berhasrat menjadi anak yang berbakti pada Bapak dan Ibu.

Sesampainya di kantor polisi, perlu waktu hampir dua jam sebelum kami akhirnya diperbolehkan membawa pulang saudara kami. Orang yang ditabrak Dino dengan sepeda motornya -menurut polisi- hanya mengalami luka ringan. Adikku sendiri mendapatkan luka yang tidak seberapa di wajah, dada, tangan, maupun kakinya. Beruntunglah Dino, lantaran pihak keluarga korban tak ingin membawa insiden tersebut ke ranah hukum. Mereka meminta penyelesaian masalah ganti rugi dilakukan secara kekeluargaan belaka tanpa tergesa-gesa.

”Apa yang akan kau katakan, jika Ibu melihatmu seperti itu?” tanyaku di dalam mobil yang membawa kami berlalu dari kantor polisi.
”Saya naik motor dan tabrakan di jalan. Apa lagi yang mesti saya bilang, Mas?” sahut Dino dengan raut wajah datar.
”Dino, apa kau tidak sadar sudah bikin susah banyak orang?” ucap Beni dengan suara agak keras. Ia tampak geregetan melihat sikap adiknya yang seolah tak merasa bersalah.
”Ben, yang penting malam ini Dino bisa pulang,” kataku yang berada di belakang kemudi. Beni duduk di sampingku, sementara Dino di kursi belakang bersama Om Narso.
“Dino, jika boleh Om menyarankan, nanti sampai rumah, kau bersedia kan, mandi dan segera tidur? Oh ya, kamu sudah makan belum?” Om Narso ikut bersuara.

Dino ternyata belum makan, sehingga kami memutuskan mampir di sebuah warung tenda yang masih buka di seputar alun-alun. Rasanya kami memang perlu menenangkan hati masing-masing sebelum kembali ke rumah.
”Mas Rano, Mas Beni, dan juga Om Narso, saya minta maaf. Seharusnya sejak sore tadi, saya tak perlu ke mana-mana,” ujar Dino setelah rampung makan mie ayam dan minum teh hangat. Kami bertiga sempat saling menatap, lantas tersenyum bersama menyikapi kata-kata Dino.
”Ya, sudahlah. Masih kau ingat kan, apa saran Om Narso tadi?” tanyaku.
”Iya, Mas. Terima kasih ya, kalian bertiga sudah mau menjemput saya sehingga bisa tidur di rumah malam ini,” sahut Dino sambil tersenyum.

Aku lega, kami bisa pulang dengan hati yang lebih tertata. Setibanya di rumah, Dino bersedia melakukan saran paman kami. Syukurlah, Ibu sudah masuk ke kamarnya, setelah sempat menemani Vina terjaga sampai pukul dua belas malam. Kulihat waktu menunjukkan jam satu lebih sepuluh menit dini hari. Masih ada beberapa kerabat kami yang terjaga di depan rumah.

***
Hari pernikahan adik perempuanku tiba. Segala sesuatunya berlangsung mulus tanpa aral gendala. Aku sebenarnya sempat khawatir, ketika melihat Ibu pagi-pagi bertanya pada Dino tentang wajahnya yang memar.
”Ibu tidak usah cemas. Tadi malam saya hanya jatuh dari motor,” sahut Dino.
Ibu tampak mengangguk dan menyibukkan diri lagi. Perasaanku kembali tidak tenang kala melihat putra-putri almarhum Pakde Parto datang. Tapi tampaknya Mbak Runi tahu mesti menjawab apa, jika Ibu menanyakan kabar ayahnya.

Sekian jam kemudian, ketika malam menjelang, kami sekeluarga tengah berkumpul di dalam rumah. Pada intinya, kami mensyukuri hajat besar keluarga dapat berjalan lancar. Bapak kemudian memintaku menceritakan apa yang terjadi sehari sebelum adik perempuanku bersanding di pelaminan.

”Ibu, sebelumnya kami mohon maaf. Ada sesuatu yang terjadi kemarin, tapi Ibu mungkin belum tahu,” kataku yang berusaha berhati-hati sekali menyusun kalimat.
”Apa maksudmu, Nak?” tanya Ibu.
”Mmm… Ini tentang Pakde Parto.”
“Hah, pakdemu kenapa?”
“Semoga Ibu bisa kuat dan sabar mendengar kabar ini. Pakde Parto kemarin sudah meninggalkan kita semua.”

Serta merta pecahlah suara tangisan Ibu. Mataku ikut berkaca-kaca menatap reaksi ibuku. Beliau tampak terpukul mendengar berita kepergian kakak sulungnya. Kami berusaha menenangkan kegalauan hati Ibu. Bapak lekas saja memeluk istrinya dan mengelus-elus punggungnya. Yang tidak kuduga, beliau ternyata memiliki firasat tersendiri tentang wafatnya Pakde Parto.

”Menjelang bangun tidur subuh tadi, Ibu sempat bermimpi didatangi Pakde Parto. Beliau hanya tersenyum, jadi Ibu mengira kondisinya baik-baik saja. Ternyata, mungkin itulah salam perpisahan dari beliau,” ujar Ibu yang masih berurai air mata.

Esok harinya, kami sekeluarga berziarah ke makam saudara tertua Ibu, setelah sebelumnya mengunjungi rumah keluarga Pakde Parto. Ibu berusaha mengikhlaskan diri menerima takdir Ilahi atas kakaknya. Yang paling penting, tiada masalah berarti selama acara pernikahan Vina kemarin. Tentang insiden yang terjadi pada Dino, biarlah nanti Bapak saja yang menceritakannya pada Ibu di lain waktu.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Lampung Post Minggu, 20 Juli 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: