Archive for Desember, 2014

h1

Milan, Madrid, dan Manchester United di Akhir Tahun 2014

Desember 31, 2014

AC Milan Nomor 7
AC Milan mengakhiri tahun 2014 dengan berada di posisi tujuh klasemen Serie A 2014/15. Rossoneri telah menjalani 16 laga dengan hasil 6 kali menang, 7 kali imbang dan 3 kali kalah, dengan catatan gol 25-18. Tim asuhan Filippo Inzaghi mengumpulkan poin 25, sementara di atasnya Lazio (3), Napoli (4), dan Sampdoria (5) mengoleksi angka 27. Genoa tepat berada di atas Milan dengan poin 26. Persaingan untuk merebut tiket ketiga Liga Champion masih dimiliki oleh beberapa tim -termasuk Milan- dan akan berlangsung ketat hingga akhir musim. Peluang meraih scudetto tampaknya tinggal menjadi jatah Juventus dan AS Roma belaka.

Real Madrid Tim Terbaik 2014
Real Madrid adalah tim terbaik di dunia tahun 2014. Setelah musim 2013/14 Los Blancos menjadi juara Liga Champion (la decima) dan Copa del Rey, tim besutan Carlo Ancelotti menambah koleksi trofinya dengan Piala Super Eropa 2014 dan Piala Dunia Klub 2014. Prestasi lainnya adalah memuncaki klasemen Primera Divison di akhir 2014 dan mencatat 22 kali kemenangan beruntun dalam pertandingan resmi yang menjadi rekor baru di Eropa. Sebelumnya, Barcelona yang memegang rekor 19 kali menang berturut-turut ketika ditangani Frank Rijkaard pada musim 2005/06. Masih ada rekor dunia yang dipegang klub Brasil Coritiba yang pernah 24 kali tanpa jeda selalu meraih kemenangan pada 2011. Cristiano Ronaldo dkk jelas masih berpeluang mengejar rekor Coritiba tersebut.

FBL-UAE-FRIENDLY-REAL MADRID-AC MILAN

Milan vs Madrid (4-2)
Menjelang hadirnya tahun 2015, Milan dan Madrid bertemu dalam sebuah laga persahabatan bertajuk Dubai Football Challenge yang berlangsung Selasa (30/12) di Sevens Stadium, Dubai, Uni Emirat Arab. Kedua tim merupakan kolektor terbanyak trofi Piala/Liga Champion : Madrid (10) dan Milan (7). Adidas dan Fly Emirates sama-sama menjadi sponsor tim ternama Eropa tersebut. Terjadi reuni di antara kedua pelatih. Carlo Ancelotti adalah mantan manajer Rossoneri yang sangat sukses, sementara Filippo Inzaghi pernah menjadi pemain andalannya kala berjaya.

Hasil laga tersebut cukup mengejutkan, Milan menang 4-2 atas Madrid. Stephan El Shaarawy mencetak dua gol, sementara Jeremy Menez dan Giampaolo Pazzini masing-masih membuat satu gol bagi Milan. CR7 dan Karim Benzema masing-masih menyumbang sebuah gol untuk Madrid. Kendati hanya uji coba, namun Rossoneri mendapat motivasi besar dalam melanjutkan perjalanan di Serie A. Bagi Los Blancos pun kekalahan itu menjadi berarti karena bisa membuat tim kembali menapak bumi dan meningkatkan kewaspadaan agar target juara dapat tercapai di tahun 2015.

falcao and rooney

Kebangkitan ManUtd
Louis van Gaal untuk sementara telah mampu membuktikan bahwa dirinya memang tepat menangani Manchester United seusai masa keterpurukan musim 2013/14. Red Devils mengakhiri 2014 dengan menempati nomor tiga klasemen Premier League 2014/15 pekan ke-19 di bawah Chelsea dan Manchester City. Tepat setahun silam, Setan Merah berada di nomor enam. Dua pertandingan terakhir sebelum pergantian tahun, United mengalahkan Newcastle United 3-1 di Old Trafford (26/12) dan bermain sama kuat 0-0 melawan Tottenham Hotspur di White Hart Lane (28/12). Wayne Rooney dkk sudah berada di jalur yang tepat untuk memperbaiki nasibnya di tahun baru nanti dan ikut memanaskan persaingan menjadi yang terbaik di Liga Inggris.

h1

Aksi Kiper ”Setan Merah” asal Spanyol

Desember 19, 2014

Dua klub kondang Eropa yang memiliki julukan ”Setan Merah” sama-sama mengantungi kemenangan dalam laga liga lokal yang berlangsung Minggu (14/12) lalu. Manchester United unggul 3-0 atas Liverpool di Old Trafford. Tiga gol dicetak oleh Wayne Rooney, Juan Mata, dan Robin van Persie. Hasil pertandingan tersebut merupakan kemenangan keenam beruntun tim asuhan Louis van Gaal dan menempatkan United di posisi tiga klasemen EPL pekan ke-16 dengan raihan angka 31. Chelsea masih memimpin klasemen diikuti Manchester City.

De Gea vs Sterling-Manchester-United-Liverpool-AFP_LNCIMA20141215_0047_5

Sementara itu, Milan berhasil menaklukkan Napoli 2-0 di San Siro. Jeremy Menez dan Giacomo Bonaventura menyumbang gol kemenangan. Tim besutan Filippo Inzaghi naik satu peringkat ke nomor enam klasemen Serie A pekan ke-15 dengan poin 24, sama dengan koleksi angka Napoli. Rossoneri hanya unggul selisih gol dari tim yang baru dikalahkannya. Persaingan meraih scudetto mungkin hanya akan berlangsung antara Juventus dan AS Roma yang hanya berselisih satu angka. Namun perebutan tiket ketiga ke Liga Champion musim depan masih sulit diprediksi. Uniknya, giornata 15 Serie A menghasilkan beberapa tim yang memiliki poin sama. Lazio (3), Sampdoria (4), dan Genoa (5) memiliki poin 26. Milan (6) dan Napoli (7) mendulang angka 24. Di bawah Fiorentina (8) terdapat Udinese (9) dan Palermo (10) memiliki poin 21.

Selain itu, ada benang merah yang menghubungkan nasib baik The Red Devils dan Il Diavolo Rosso pekan lalu. Kemenangan dengan tanpa kebobolan (clean sheet) bisa diraih karena aksi cemerlang para kiper yang berasal dari Spanyol. David de Gea tampil luar biasa mengawal gawang United, melakukan delapan kali penyelamatan, dan bahkan menjadi pemain terbaik dalam laga tersebut. Raheem Sterling dan Mario Balotelli (Liverpool) pantas frustrasi karena sejumlah peluang mereka dikandaskan De Gea.

AC Milan's goalkeeper Lopez makes a save on Napoli's Higuain during their Italian Serie A soccer match in Milan

Diego Lopez pun sudah bekerja keras untuk membuat gawang Milan tetap perawan. Gonzalo Higuain dan Jose Callejon (Napoli) tak mampu menaklukkan mantan rekan mereka di Real Madrid. Iker Casillas mungkin masih berjaya bersama Madrid dan tetap menjadi kiper nomor satu La Furia Roja, kendati gagal total di Piala Dunia Brasil. Namun ketika nama Victor Valdes dan Pepe Reina sudah mulai hilang dari peredaran, Spanyol ternyata masih memiliki De Gea dan Lopez yang menjadi pelapis sepadan bagi Casillas.

* Opini ini dimuat (dengan revisi) di Mingguan BOLA Edisi 2.594/2014.

h1

Lelah Bukanlah Susah

Desember 19, 2014

Lelah di badan bukanlah hal menyusahkan manakala sukacita hinggap di hati.

h1

Dua Wajah Bertentangan

Desember 18, 2014

Selama bertahun-tahun, sejak aku masih bocah hingga sekian bulan silam, kukenal seorang Poerwito alias Pak Itok semata-mata sebagai orang baik. Menurut pandanganku, ia orang yang selalu tulus, ringan tangan, hidupnya bersahaja, ramah, dan selalu bisa menyenangkan siapa saja. Yang jelas, setiap anak kecil -siapa pun mereka- senantiasa bisa akrab bercengkrama bersamanya hingga hari ini. Mungkin puluhan tahun lalu aku juga demikian. Apalagi anak-anak Pak Itok yang kini semua bekerja di rantau, kebanyakan merupakan teman sepermainanku di masa lalu. Warga masyarakat pun tampaknya sangat percaya dan menaruh hormat kepadanya. Tak heran, jika selama bertahun-tahun, Pak Itok sudah pernah menjadi pengurus RT, RW, dan beberapa organisasi kemasyarakatan lainnya. Namun sejak beberapa saat lalu, kutemukan figur Pak Itok yang berbeda. Semula hanya berdasarkan cerita sejumlah orang, kudengar bahwa kata-kata dan sikap Pak Itok sering melukai hati mereka. Ada yang sungguh merasa perih hatinya hingga kapok bertemu lagi dengannya, bahkan menyesal sempat mengenalnya. Tentu hal tersebut tak dapat kupercaya begitu saja. Apa iya, Pak Itok yang begitu mulia kulihat selama ini, bisa sampai menyakiti hati banyak orang?

***

Ternyata tak perlu kulakukan penelitian untuk membuktikan apa kata orang. Langsung aku sendiri yang tersinggung oleh kata-katanya yang tajam, laksana pisau mengiris hati. Kami sedang duduk santai di warung angkringan Pak Tri. Ada sekitar enam orang, kebetulan tetangga yang kukenal semua. Pak Itok sedang mengritik Pak Damar, ketua RW baru yang mencoba menghidupkan sejumlah kegiatan kemasyarakatan. Pak Itok yang menjabat sebagai bendahara RW merasa keberatan dengan banyaknya program yang akan dijalankan. Alasannya, hal itu cukup menguras kas RW yang menjadi tanggung jawabnya. Aku sedikit heran dengan sikapnya. Sebagai orang Jawa yang sudah sepuh, apakah ia tak memahami makna jer basuki mawa beya, bahwa semua keberhasilan selalu memerlukan pengorbanan? Semula aku masih tenang dan sabar sekadar mendengarkan, kendati hampir semua opininya tak kusetujui. Apalagi sempat ada nada penghinaan kepada Pak Damar maupun pengurus RW lainnya. Tapi ketika ia memrotes program, yang kebetulan aku dipercaya menanganinya, tak bisa lagi kupendam amarahku.

“Maaf, Pak. Saya memang belum banyak makan asam garam kehidupan seperti Bapak. Tapi setahu saya, di mana pun ada kemauan, di situ selalu ada jalan. Selama kita memiliki niat baik, saya percaya Tuhan pasti membantu kita. Pak Damar dan pengurus RW yang baru berniat baik dengan segala programnya, tujuannya tentu demi kemajuan warga. Dan yang terpenting, bukankah selama ini dana kita masih cukup?” tuturku panjang.
“Iya, tapi bagaimana kalau nanti habis?” tanya Pak Itok dengan raut wajah menyebalkan.
“Kalau habis, kan masih bisa dicari lagi? Saya sih yakin dengan Maha Pemurahnya Tuhan, karena niat kita toh baik. Jadi kita pasti akan diberi-Nya lagi rezeki. Entahlah, kalau Pak Itok ragu dengan hal itu!” sahutku sinis.
Aku sempat kaget sendiri dengan kalimat terakhirku, apalagi terucap dengan nada tinggi. Tak kuduga, aku mampu bersikap sedemikian rupa terhadap orang yang selama ini kuhormati.
“Apa menurutmu, saya orang yang tidak percaya Tuhan? Maksudmu, saya itu komunis atau bagaimana?” balas Pak Itok yang rupanya mulai tersinggung seraya berdiri.

Orang-orang yang bersama kami ikut tegang. Ada yang lantas berusaha menenangkan Pak Itok. Mereka barangkali juga tak mengira bisa melihatku bicara dengan suara keras. Aku dikenal sebagai seorang pendiam dan suaraku terbilang halus ketika berkata.
“Begini lho, Dik. Pak Itok itu hanya berniat menjaga amanahnya sebagai pengurus RW yang membawa uang milik warga,” kata Pak Harjo mencoba menengahi kami.

Aku bergeming saja dan meminum es tehku yang masih separuh gelas hingga tandas. Pak Itok masih terlihat tak suka dengan kata-kataku, tapi tak mengeluarkan suara lagi. Ia mengritik orang dan merasa pendapatnya selalu benar, maka ketika ada yang lain berbeda pemikiran dengannya, ia murka dan tak bisa menerimanya. Malah ia merasa dituduh yang tidak-tidak pula. Tidak bisa kupahami sikapnya. Pak Itok sendiri sepertinya sudah enggan berada di antara kami. Ia beranjak pergi setelah membayar susu jahe yang telah dipesannya. Orang-orang lega perdebatanku dengan Pak Itok tak berlanjut ke arah yang lebih buruk.

”Ya, begitulah Pak Itok. Jika bicara suka seenaknya sendiri dan tak peduli orang lain bisa tersinggung,” komentar Pak Tri, penjual warung angkringan yang kuingat pernah bercerita soal sikap buruk Pak Itok kepadanya.
“Terus terang, baru sekali ini kulihat kamu marah. Tapi tetap majulah saja dengan program itu. Saya tahu kok, maksud Pak Damar itu baik. Dan saya sebetulnya juga setuju dengan pendapatmu tadi. Saya hanya malas berdebat dengan Pak Itok,” tambah Pak Harjo menimpali.
Lebih tenang perasaanku mendengar kata-kata mereka. Yang jelas, aku telah melihat sendiri wajah lain Pak Itok yang belum pernah kutemui. Wajah itu bertentangan sekali dengan yang kuakrabi selama sekian waktu.

***

Memang pernah ada perdebatan seru yang emosional antara aku dengan Pak Itok yang begitu kukenang. Kendati begitu, hubungan kami tetap baik sebagai tetangga. Tak kupikirkan lagi peristiwa itu dan ia mungkin telah melupakannya pula. Barangkali kami telah sedikit memahami esensi demokrasi, jadi berbeda pendapat bukanlah problema berarti. Syukurlah, jika begitu adanya. Program RW yang kutangani terus berlangsung dan mulai terlihat manfaatnya bagi warga. Pak Itok sendiri tak lagi bersuara negatif menanggapinya. Namun masih tetap kudengar kemasygulan sejumlah orang terhadap sikapnya yang kerap tidak menyenangkan. Barangkali itulah dinamika kehidupan yang mesti kami jalani dengan seorang Poerwito di antara kami. Bagiku pribadi, asalkan aku tak kembali bermasalah dengannya saja sudah kusyukuri. Setidaknya aku bisa semakin tentram bekerja dengan program yang kupercaya pasti berguna untuk masyarakat di lingkungan kami.

Rapat pengurus RW baru saja berlangsung lagi. Pak Itok selaku bendahara kembali menyatakan kegundahannya dengan kas RW yang kian menipis. Sebenarnya jumlah uang yang ada masih cukup signifikan, jadi kekhawatirannya sedikit berlebihan. Ia meminta program-program yang sedang berjalan dihentikan. Peserta rapat tidak ada yang setuju dengannya dan Pak Itok pun pulang dengan hati kecewa.
“Ya, kita mesti maklumi Pak Itok yang sudah lanjut usia. Jadi mungkin sudah rada susah mau diajak maju,” ujar Pak Damar sehabis rapat.
“Mungkin memang pada dasarnya beliau keras kepala, Pak. Masih banyak kok, orang yang sudah sepuh, tapi tetap berpikiran maju dan selalu optimistis di sisa hidupnya,” respons Pak Harjo yang merupakan salah satu ketua RT.
“Tapi saya tetap heran dengan pesimismenya itu. Padahal saya yakin, keberhasilannya membesarkan anak-anaknya pasti tak pernah lepas dari optimisme yang konsisten dari dulu,” ujarku.
Kami pun melanjutkan diskusi tentang Pak Itok. Intinya, terlepas dari segala kekurangannya, pengurus RW masih akan memertahankan posisinya sebagai bendahara karena dedikasi dan kejujurannya yang luar biasa. Yang tak kalah penting, program-program kemasyarakatan masih tetap bisa berlangsung dengan dana yang tersedia.

***

Sekian hari berselang, ada berita mengejutkan kudengar sepulang kerja. Aku sedang mampir di warung angkringan Pak Tri malam itu.
”Kamu pasti belum dengar, toh?” tebak Pak Tri.
“Ada apa, Pak Tri?” tanyaku.
“Pak Itok menjelang petang tadi diserempet motor di jalan besar dekat situ.”
“Wah, saya memang baru tahu. Terus kondisinya bagaimana sekarang?”
“Yang jelas nyawanya masih bisa diselamatkan. Mungkin Pak Itok sebetulnya tidak cuma diserempet, Dik,” lanjut Pak Tri.
“Maksudnya?”
“Pak Itok itu coba dibunuh tadi sore. Dia sengaja ditabrak,” sela Pak Anung yang duduk di sampingku.
“Hah? Lantas siapa pelakunya? Apa sudah ketahuan siapa dia?” tanyaku lagi.
“Mungkin dia orang yang terbelit masalah hutang dengan Pak Itok. Begitulah dugaan banyak orang. Ya, jelas belum tertangkap, lha kan tabrak lari?” jawab Pak Anung.
“Tapi menurut saya, pelakunya itu hanya gara-gara tersinggung dengan kata-kata Pak Itok pun bisa, lho. Jika orang sudah marah, kan bisa nekad sekali. Apalagi jamannya seperti sekarang ini, banyak orang mudah panas,” komentar Pak Tri.
Aku cenderung memaklumi pendapat Pak Tri. Beruntunglah kita yang masih bisa senantiasa sabar pada masa yang kerap diibaratkan sebagai ’jaman edan’ layaknya sekarang. Mudah-mudahan Pak Itok segera sembuh seperti sediakala. Masih ingin kulihat lagi wajah kebaikannya, bukan sikap menyebalkannya.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos Minggu, 23 November 2014.

h1

Impian, Tekad, dan Usaha

Desember 16, 2014

Kita semua punya impian. Tapi untuk membuat impian itu menjadi kenyataan diperlukan tekad yang kuat, dedikasi, disiplin, dan usaha mewujudkannya. (Jesse Owens – legenda atletik dunia)