h1

Dua Wajah Bertentangan

Desember 18, 2014

Selama bertahun-tahun, sejak aku masih bocah hingga sekian bulan silam, kukenal seorang Poerwito alias Pak Itok semata-mata sebagai orang baik. Menurut pandanganku, ia orang yang selalu tulus, ringan tangan, hidupnya bersahaja, ramah, dan selalu bisa menyenangkan siapa saja. Yang jelas, setiap anak kecil -siapa pun mereka- senantiasa bisa akrab bercengkrama bersamanya hingga hari ini. Mungkin puluhan tahun lalu aku juga demikian. Apalagi anak-anak Pak Itok yang kini semua bekerja di rantau, kebanyakan merupakan teman sepermainanku di masa lalu. Warga masyarakat pun tampaknya sangat percaya dan menaruh hormat kepadanya. Tak heran, jika selama bertahun-tahun, Pak Itok sudah pernah menjadi pengurus RT, RW, dan beberapa organisasi kemasyarakatan lainnya. Namun sejak beberapa saat lalu, kutemukan figur Pak Itok yang berbeda. Semula hanya berdasarkan cerita sejumlah orang, kudengar bahwa kata-kata dan sikap Pak Itok sering melukai hati mereka. Ada yang sungguh merasa perih hatinya hingga kapok bertemu lagi dengannya, bahkan menyesal sempat mengenalnya. Tentu hal tersebut tak dapat kupercaya begitu saja. Apa iya, Pak Itok yang begitu mulia kulihat selama ini, bisa sampai menyakiti hati banyak orang?

***

Ternyata tak perlu kulakukan penelitian untuk membuktikan apa kata orang. Langsung aku sendiri yang tersinggung oleh kata-katanya yang tajam, laksana pisau mengiris hati. Kami sedang duduk santai di warung angkringan Pak Tri. Ada sekitar enam orang, kebetulan tetangga yang kukenal semua. Pak Itok sedang mengritik Pak Damar, ketua RW baru yang mencoba menghidupkan sejumlah kegiatan kemasyarakatan. Pak Itok yang menjabat sebagai bendahara RW merasa keberatan dengan banyaknya program yang akan dijalankan. Alasannya, hal itu cukup menguras kas RW yang menjadi tanggung jawabnya. Aku sedikit heran dengan sikapnya. Sebagai orang Jawa yang sudah sepuh, apakah ia tak memahami makna jer basuki mawa beya, bahwa semua keberhasilan selalu memerlukan pengorbanan? Semula aku masih tenang dan sabar sekadar mendengarkan, kendati hampir semua opininya tak kusetujui. Apalagi sempat ada nada penghinaan kepada Pak Damar maupun pengurus RW lainnya. Tapi ketika ia memrotes program, yang kebetulan aku dipercaya menanganinya, tak bisa lagi kupendam amarahku.

“Maaf, Pak. Saya memang belum banyak makan asam garam kehidupan seperti Bapak. Tapi setahu saya, di mana pun ada kemauan, di situ selalu ada jalan. Selama kita memiliki niat baik, saya percaya Tuhan pasti membantu kita. Pak Damar dan pengurus RW yang baru berniat baik dengan segala programnya, tujuannya tentu demi kemajuan warga. Dan yang terpenting, bukankah selama ini dana kita masih cukup?” tuturku panjang.
“Iya, tapi bagaimana kalau nanti habis?” tanya Pak Itok dengan raut wajah menyebalkan.
“Kalau habis, kan masih bisa dicari lagi? Saya sih yakin dengan Maha Pemurahnya Tuhan, karena niat kita toh baik. Jadi kita pasti akan diberi-Nya lagi rezeki. Entahlah, kalau Pak Itok ragu dengan hal itu!” sahutku sinis.
Aku sempat kaget sendiri dengan kalimat terakhirku, apalagi terucap dengan nada tinggi. Tak kuduga, aku mampu bersikap sedemikian rupa terhadap orang yang selama ini kuhormati.
“Apa menurutmu, saya orang yang tidak percaya Tuhan? Maksudmu, saya itu komunis atau bagaimana?” balas Pak Itok yang rupanya mulai tersinggung seraya berdiri.

Orang-orang yang bersama kami ikut tegang. Ada yang lantas berusaha menenangkan Pak Itok. Mereka barangkali juga tak mengira bisa melihatku bicara dengan suara keras. Aku dikenal sebagai seorang pendiam dan suaraku terbilang halus ketika berkata.
“Begini lho, Dik. Pak Itok itu hanya berniat menjaga amanahnya sebagai pengurus RW yang membawa uang milik warga,” kata Pak Harjo mencoba menengahi kami.

Aku bergeming saja dan meminum es tehku yang masih separuh gelas hingga tandas. Pak Itok masih terlihat tak suka dengan kata-kataku, tapi tak mengeluarkan suara lagi. Ia mengritik orang dan merasa pendapatnya selalu benar, maka ketika ada yang lain berbeda pemikiran dengannya, ia murka dan tak bisa menerimanya. Malah ia merasa dituduh yang tidak-tidak pula. Tidak bisa kupahami sikapnya. Pak Itok sendiri sepertinya sudah enggan berada di antara kami. Ia beranjak pergi setelah membayar susu jahe yang telah dipesannya. Orang-orang lega perdebatanku dengan Pak Itok tak berlanjut ke arah yang lebih buruk.

”Ya, begitulah Pak Itok. Jika bicara suka seenaknya sendiri dan tak peduli orang lain bisa tersinggung,” komentar Pak Tri, penjual warung angkringan yang kuingat pernah bercerita soal sikap buruk Pak Itok kepadanya.
“Terus terang, baru sekali ini kulihat kamu marah. Tapi tetap majulah saja dengan program itu. Saya tahu kok, maksud Pak Damar itu baik. Dan saya sebetulnya juga setuju dengan pendapatmu tadi. Saya hanya malas berdebat dengan Pak Itok,” tambah Pak Harjo menimpali.
Lebih tenang perasaanku mendengar kata-kata mereka. Yang jelas, aku telah melihat sendiri wajah lain Pak Itok yang belum pernah kutemui. Wajah itu bertentangan sekali dengan yang kuakrabi selama sekian waktu.

***

Memang pernah ada perdebatan seru yang emosional antara aku dengan Pak Itok yang begitu kukenang. Kendati begitu, hubungan kami tetap baik sebagai tetangga. Tak kupikirkan lagi peristiwa itu dan ia mungkin telah melupakannya pula. Barangkali kami telah sedikit memahami esensi demokrasi, jadi berbeda pendapat bukanlah problema berarti. Syukurlah, jika begitu adanya. Program RW yang kutangani terus berlangsung dan mulai terlihat manfaatnya bagi warga. Pak Itok sendiri tak lagi bersuara negatif menanggapinya. Namun masih tetap kudengar kemasygulan sejumlah orang terhadap sikapnya yang kerap tidak menyenangkan. Barangkali itulah dinamika kehidupan yang mesti kami jalani dengan seorang Poerwito di antara kami. Bagiku pribadi, asalkan aku tak kembali bermasalah dengannya saja sudah kusyukuri. Setidaknya aku bisa semakin tentram bekerja dengan program yang kupercaya pasti berguna untuk masyarakat di lingkungan kami.

Rapat pengurus RW baru saja berlangsung lagi. Pak Itok selaku bendahara kembali menyatakan kegundahannya dengan kas RW yang kian menipis. Sebenarnya jumlah uang yang ada masih cukup signifikan, jadi kekhawatirannya sedikit berlebihan. Ia meminta program-program yang sedang berjalan dihentikan. Peserta rapat tidak ada yang setuju dengannya dan Pak Itok pun pulang dengan hati kecewa.
“Ya, kita mesti maklumi Pak Itok yang sudah lanjut usia. Jadi mungkin sudah rada susah mau diajak maju,” ujar Pak Damar sehabis rapat.
“Mungkin memang pada dasarnya beliau keras kepala, Pak. Masih banyak kok, orang yang sudah sepuh, tapi tetap berpikiran maju dan selalu optimistis di sisa hidupnya,” respons Pak Harjo yang merupakan salah satu ketua RT.
“Tapi saya tetap heran dengan pesimismenya itu. Padahal saya yakin, keberhasilannya membesarkan anak-anaknya pasti tak pernah lepas dari optimisme yang konsisten dari dulu,” ujarku.
Kami pun melanjutkan diskusi tentang Pak Itok. Intinya, terlepas dari segala kekurangannya, pengurus RW masih akan memertahankan posisinya sebagai bendahara karena dedikasi dan kejujurannya yang luar biasa. Yang tak kalah penting, program-program kemasyarakatan masih tetap bisa berlangsung dengan dana yang tersedia.

***

Sekian hari berselang, ada berita mengejutkan kudengar sepulang kerja. Aku sedang mampir di warung angkringan Pak Tri malam itu.
”Kamu pasti belum dengar, toh?” tebak Pak Tri.
“Ada apa, Pak Tri?” tanyaku.
“Pak Itok menjelang petang tadi diserempet motor di jalan besar dekat situ.”
“Wah, saya memang baru tahu. Terus kondisinya bagaimana sekarang?”
“Yang jelas nyawanya masih bisa diselamatkan. Mungkin Pak Itok sebetulnya tidak cuma diserempet, Dik,” lanjut Pak Tri.
“Maksudnya?”
“Pak Itok itu coba dibunuh tadi sore. Dia sengaja ditabrak,” sela Pak Anung yang duduk di sampingku.
“Hah? Lantas siapa pelakunya? Apa sudah ketahuan siapa dia?” tanyaku lagi.
“Mungkin dia orang yang terbelit masalah hutang dengan Pak Itok. Begitulah dugaan banyak orang. Ya, jelas belum tertangkap, lha kan tabrak lari?” jawab Pak Anung.
“Tapi menurut saya, pelakunya itu hanya gara-gara tersinggung dengan kata-kata Pak Itok pun bisa, lho. Jika orang sudah marah, kan bisa nekad sekali. Apalagi jamannya seperti sekarang ini, banyak orang mudah panas,” komentar Pak Tri.
Aku cenderung memaklumi pendapat Pak Tri. Beruntunglah kita yang masih bisa senantiasa sabar pada masa yang kerap diibaratkan sebagai ’jaman edan’ layaknya sekarang. Mudah-mudahan Pak Itok segera sembuh seperti sediakala. Masih ingin kulihat lagi wajah kebaikannya, bukan sikap menyebalkannya.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos Minggu, 23 November 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: