h1

Persahabatan Prasojo

Januari 8, 2015

Belasan tahun silam, tiada yang istimewa dari sosok Stefani di mata Prasojo. Masih banyak dara yang lebih menarik hatinya ketika SMA tempo hari. Apalagi waktu itu Stefani bukanlah perempuan rupawan yang mengagumkan teman-teman lelakinya. Bahkan ketika dua tahun lalu mereka berjumpa dalam reuni, lantas kerap berkomunikasi, tetap saja Prasojo menganggap Stefani sebagai kawan biasa.

Prasojo tak akan berdusta, ia kemudian terpesona sosok Stefani masa kini. Namun bukan semata lantaran ia menjadi cantik, lantas Prasojo memiliki hubungan dekat. Ia merasa memiliki sesuatu yang tak ditemuinya pada sesiapa selain sosok Stefani. Banyak hal sejalan kala mereka berbicang berdua semata. Prasojo telah lebih dulu bertemu Hera atau Evita -teman-teman SMA lainnya- yang tak kalah menawan ketimbang Stefani. Faktanya, ia lebih nyaman mengakrabi satu nama belaka ketimbang mereka. Bukanlah kendala manakala teman dekatnya merupakan perempuan berkeluarga, sedangkan ia lelaki bujangan.

Mulai ada rasa berbeda di hati Prasojo, semenjak ia pertama kali mengunjungi rumah Stefani pada sebuah siang. Tak masalah menjumpai kawannya itu didampingi suami maupun anak lelakinya. Ternyata suami Stefani baru saja pergi ketika Prasojo tiba di rumah bertembok batu bata tanpa ditutup cat tersebut. Maka ia hanya bercakap-cakap dengan si perempuan cantik, kendati anak Stefani satu-satunya semula berada di samping ibunya. Bocah itu lalu beranjak pergi dan sibuk sendiri dengan mainannya. Seraya mendiskusikan beragam materi, Prasojo berkesempatan memandangi betapa indahnya figur kenalan lamanya. Bukan semata rona wajah dan bahasa tubuhnya nan menawan, kata-kata yang keluar dari bibir merah merekah Stefani kerap membuatnya tertegun jua.

“Sejujurnya, aku tak mengira kita bisa ngobrol seasyik ini, Stefi,” ujar Prasojo.
“Iya Pras, padahal dulu waktu SMA kamu kan begitu pendiam?” kata Stefani.
“Mungkin jika dahulu kita pernah saling bicara pun hanya basa-basi.”
“Hahaha, sepertinya begitulah yang terjadi.”
Mereka kemudian tertawa bersama, sempat bergeming sejenak, lantas saling menatap sembari tersenyum serentak. Sukacita belaka yang tampaknya bersemayam di hati Prasojo maupun Stefani pada siang hingga menjelang petang itu. Bahkan ketika Prasojo bermaksud memohon diri, Stefani begitu menyayangkannya.
”Kok sudah mau pulang, Pras?” komentar Stefani sambil mengernyitkan dahi.
”Hei, aku sudah lama lho di rumah kamu, bahkan mungkin sudah sekitar empat jam,” sahut Prasojo yang sebenarnya masih betah mengisi waktu bersama perempuan rupawan itu. Namun langit mulai gelap dan suami Stefani pun sebentar lagi pulang. Rasanya tak nyaman jika ia masih berada di situ.
”Iya deh, tapi jangan kapok kemari lagi ya, Pras.”
”Nanti pasti aku bakal datang lagi, Stefani.”

Prasojo dan Stefani pun berpisah dengan berat hati. Setelah itu, mereka sebatas bersua ketika reuni kembali diadakan, jadi tak mereka berdua semata yang berjumpa. Namun komunikasi di antara mereka terus berlangsung lewat piranti teknologi yang tersedia. Terdapat seberkas warna baru yang membuat keseharian Prasojo maupun Stefani tak lagi membosankan di sela-sela keduanya menjalani rutinitas hidup masing-masing. Persahabatan di antara mereka kian hangat terasa.

***
Pertemuan kedua di rumah Stefani menjadi saat terindah yang dialami Prasojo bersama temannya yang teristimewa. Berbeda dengan kehadirannya yang pertama, lelaki itu membawa sesuatu. Sebelumnya, Prasojo sempat mengabari Stefani bahwa ia akan datang bertandang. Kebetulan ada urusan pekerjaan yang lokasinya tak terlampau jauh dari rumah Stefani, sedangkan waktu Prasojo sangat lapang sesudah itu.
“Kalau mau datang ke rumah, nanti sekitar satu jam lagi saja. Maklumlah, sekarang aku belum mandi. Hahaha…” sahut Stefani menjawab sms dari Prasojo.
”Oke, tak masalah. Setelah urusan dengan klienku rampung, aku bisa mampir makan di warung dulu sebelum ke rumahmu. Maklumlah, aku tadi belum sarapan. Hehehe…” ujar Prasojo.

Sekian menit lekas berlalu hingga telepon seluler Prasojo kembali berbunyi, ternyata Stefani justru meneleponnya.
”Halo, Stefi. Ada yang bisa kubantu?”
”Pras, bolehkah aku minta tolong? Sebenarnya aku malu juga mau bilang.”
”Dengan senang hati, aku bersedia membantu. Katakan saja, apa maumu?”
”Kalau tak keberatan, tolong aku dibungkuskan sesuatu untuk sarapan. Kebetulan, aku tidak masak dan lagi kurang enak badan hari ini.”
”Aku baru saja pesan soto ayam. Kamu mau kubawakan itu?”
”Bolehlah, soto favoritku juga, kok. Terima kasih ya, maaf lho sudah merepotkanmu.”

Prasojo tersenyum simpul seraya siap melahap sarapannya. Sejatinya bungah hatinya bisa membawakan sesuatu yang bakal diterima Stefani dengan tangan terbuka, biarpun hanya berupa sebungkus soto ayam. Perempuan itu tersipu-sipu kala Prasojo tiba di rumahnya serta menyerahkan apa yang dimintanya. Mereka kemudian berdialog dengan topik yang tanpa batas selama beberapa jam yang cepat merambat.

Selama sekitar dua jam, mereka bahkan sempat berdua belaka. Ketika Prasojo tiba, ada tetangga yang hampir setiap hari datang membantu mencucikan baju dan kadang memasak bagi Stefani sekeluarga. Namun setelah membuatkan minuman untuk Prasojo, ia pun beranjak pergi. Prasojo bersukacita mengalami sebuah momentum yang baru sekali dilakoninya dengan Stefani. Tiada habisnya pesona yang ditebarkan perempuan berkulit terang itu kepada lelaki yang tengah duduk bersamanya. Bahkan sempat berdebar-debar hati Prasojo, kala ia berdiri sangat dekat dengan Stefani, yang bermaksud mengambilkan air mineral untuknya, sementara secangkir teh yang disajikan telah habis diminumnya. Mereka lalu kembali membicarakan segala sesuatu dalam suasana riang seutuhnya. Prasojo akhirnya berpamitan, tak lama sehabis anak lelaki Stefani pulang dari sekolah menjelang petang.

Sejak pertemuan kedua, figur Stefani kian kerap mengisi benak dan ruang hati Prasojo. Apalagi ia merasa perempuan itu sudah memperlakukan dirinya secara istimewa. Sesuatu tengah tumbuh di kalbu Prasojo, yang bukan tak mungkin bersemi pula dalam sanubari kawannya. Namun ia lekas mencabut perasaan tak biasa tersebut. Prasojo tahu diri agar tidak sampai telanjur jatuh cinta terhadap perempuan bersuami. Ia justru mengurangi intensitas kedekatannya dengan Stefani dan tetap menganggapnya sebagai sahabat semata. Paling tidak, masih ada bahagia yang tersisa.

***
Akhir-akhir ini perasaan Prasojo kembali terusik seusai Stefani mengatakan kisah hidup mutakhirnya tanpa basa-basi. Semula, perempuan itu seakan menghilang begitu saja. Akunnya di situs jejaring sosial mendadak lenyap. Padahal sebelumnya kerap sekali Stefani menuliskan sejumlah status maupun catatan yang menarik perhatian teman-temannya. Ketika Prasojo menghubunginya lewat telepon, ternyata tidak terdengar nada sambung. Menjadi hasrat lelaki itu mendatangi tempat tinggal Stefani, sebatas ingin mengerti bagaimana kabar sahabatnya. Namun ia merasa kurang sopan, jika tak mengabari terlebih dahulu rencananya bertamu. Maka ia berinisiatif menelepon Hera, sahabat Stefani sejak SMA. Menurut Hera, Stefani sebenarnya sempat sakit dan telepon selulernya sedang rusak, maka wajarlah jika tak dapat dihubungi. Namun Hera tidak menjelaskan sakit yang mendera sahabatnya maupun alasan yang membuatnya tak lagi aktif di jejaring sosial.

Suatu ketika, Stefani mengaktifkan kembali akunnya. Di sisi yang lain, Prasojo berkali-kali mengirim sms ke nomor telepon perempuan itu, tapi tak kunjung ditanggapi. Tiba-tiba ia mendapat balasan dari sang empunya nomor. Semula Stefani tak mau berterus terang tentang masalah yang menimpanya. Namun yang terakhir Prasojo tahu, Stefani sedang mengandung anak keduanya.
“Jika boleh kutebak, apakah masalahmu itu dalam hal ekonomi?” tanya Prasojo.
“Bukan. Yang jelas, aku tak menduga menghadapi masalah itu,” sahut Stefani.
“Tak apa-apa, bila kamu belum berterus terang sekarang. Aku hanya bisa berdoa dan berharap masalahmu lekas ada solusinya.”
Sekitar dua pekan kemudian, Prasojo dan Stefani kembali berjumpa di fasilitas obrolan situs Facebook.
“Semoga masalahmu tempo hari sudah bisa dituntaskan, ya,” tulis Prasojo.
“Yah, sayangnya belum rampung juga masalah itu,” jawab Stefani.
“Aku harap kamu selalu sabar, meski tak kupahami apa masalahmu.”
“Mungkin sudah saatnya kamu boleh tahu. Masalahku adalah suamiku.”
“Apakah dia menduakanmu?” Prasojo serta merta menebak.
“Yah, begitulah. Dia sudah menyakiti hatiku dengan mengawini kekasih gelapnya.”
“Aku ikut prihatin dengan apa yang terjadi padamu, kawan. Semoga kamu tansah sabar dan tegar menjalaninya.”
“Iya, terima kasih. Hatiku memang sempat hancur tempo hari. Saat ini aku sedang berupaya membangunnya kembali, tapi ternyata sangat sulit rasanya.”
Prasojo terpaku membaca tanggapan Stefani, sementara perempuan itu menangis sesenggukan di depan notebook yang merupakan hadiah ulang tahun dari suaminya sekian bulan silam. Serta merta terbesit di benak Prasojo, andaikata Stefani merupakan kekasihnya, mustahil baginya melukai hati perempuan yang diam-diam dicintainya itu.

***
Memang tiada salahnya, dari semula sahabat lantas menjadi kekasih. Tapi tentu tidak seperti Prasojo yang sempat jatuh cinta kepada Stefani. Lelaki itu tampaknya mesti mencari perempuan lain, yang tak hanya bisa ia cintai sepenuh hati, namun tak terlarang mencintainya pula. Ia tak mungkin melangkah seiring sejalan bersama Stefani. Bahkan kini Prasojo tak memiliki hubungan apa-apa dengan perempuan yang sempat menjadi teman terbaiknya. Bisa jadi yang namanya sahabat itu pun datang dan pergi. Mungkin sementara ini, tiada lagi Stefani sebagai sahabat Prasojo, namun sesungguhnya tetap tersemat namanya di relung jiwa. Dan apa pun yang pernah terjadi tersimpan pula sebagai rahasia hati.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos Minggu, 4 Januari 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: