Archive for Februari, 2015

h1

Rekor Positif Madrid Kembali

Februari 26, 2015

Real Madrid sempat seolah berada di neraka seusai takluk 0-4 dari Atletico Madrid pada jornada 22 La Liga 2014/15. Cristiano Ronaldo dan beberapa rekannya pun dihujat pendukung Los Blancos karena malah mengadakan pesta ulang tahun, hanya beberapa jam sesudah laga menyedihkan itu. Semua menjadi serba salah, namun Carlo Ancelotti mampu membuat anak-anak asuhnya langsung bangkit. Los Blancos berhasil tiga kali meraih kemenangan beruntun dengan skor identik 2-0, yaitu menghadapi Deportivo La Coruna (14/2), Schalke 04 (17/2), dan Elche (22/2). Laga melawan Deportivo dan Elche merupakan pertandingan Liga Spanyol, sementara dijamu Schalke merupakan laga leg pertama babak 16 besar Liga Champion.

Real-Madrid-players-celebrate-Cristiano-Ronaldo-goal-vs.-Schalke-04-Champions-League

Ronaldo yang sempat puasa mencetak gol dalam beberapa pekan akhirnya kembali membobol gawang lawan kala bertandang ke markas Schalke dan Elche. Karim Benzema pun membuat gol saat melawan Deportivo dan Elche. Isco dan Marcelo ikut masuk papan skor menemani Benzema (Madrid vs Deportivo) dan Ronaldo (Schalke vs Madrid).

CR7 mempertajam rekor golnya di Liga Champion dengan total 76 gol sekaligus menyamai rekor Raul Gonzales dan Lionel Messi. Di La Liga pun dia masih memimpin daftar pencetak gol terbanyak dengan 29 gol.

Hal positif lainnya adalah penampilan Lucas Silva dalam tiga laga tersebut. Gelandang muda Brasil yang baru bergabung pada transfer musim dingin itu tampil sejak sepak mula dalam dua pertandingan terakhir Los Merengues, setelah menjalani debutnya sebagai pemain pengganti dalam laga Madrid vs La Coruna.

cristiano-ronaldo-&-jonathas-35798

Dengan kemenangannya atas Schalke, Madrid mengukir rekor 10 kemenangan beruntun di Liga Champion (April 2014-Februari 2015) dan menyamai rekor Bayern Muenchen (April-November 2013). Jika bisa mengalahkan Schalke dalam leg kedua perdelapan final Maret nanti, El Real mengukir rekor baru. Ancelotti pun bisa tersenyum lebar melakoni laga ke-100 bersama Madrid dengan meraih kemenangan atas Elche (rekornya menjadi 78 kali menang dari 100 laga).

Los Blancos masih kokoh memimpin klasemen Primera Division mengumpulkan poin 60 dan terbantu kekalahan Barcelona 0-1 dari Malaga, sehingga kedua tim pada jornada 24 berselisih empat angka. Setelah kehilangan gelar Copa del Rey, peluang Madrid menjuarai La Liga masih terjaga, demikian pula untuk mempertahankan trofinya di Eropa musim ini.

* Opini ini dimuat di Mingguan BOLA Edisi 2.603/2015.

Iklan
h1

Peran Artis/Penyair

Februari 26, 2015

Peran saya di masyarakat, artis atau penyair, adalah untuk mencoba mengekspresikan apa yang kita semua rasakan. Bukan untuk memberitahu orang cara merasakan. Bukan sebagai pengkhotbah atau pemimpin, melainkan sebagai refleksi bagi kita semua. (John Lennon)

h1

Disharmoni Sebuah Keluarga

Februari 20, 2015

Sesiapa yang pernah melihat keluarga Pandu agaknya sepakat, keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan tersebut merupakan keluarga harmonis. Pandu adalah lelaki berwajah tampan dengan pekerjaan yang mampu membuatnya membeli sebuah rumah asri dan mobil bagus. Istri Pandu yang bernama Saras adalah perempuan ayu yang luwes. Ia sempat bekerja di tempat usaha kakaknya, tapi belakangan Saras memilih berkonsentrasi menjadi ibu rumah tangga, seraya mencoba berbisnis sendiri di rumah. Putri tunggal mereka, Mayra, yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar memiliki sejumlah prestasi. Ia menjadi juara kelas, pandai melukis, pintar bernyanyi, dan dikenal sebagai sosok penyayang di mata tetangganya.

Senyuman senantiasa tercurah dari orang-orang jika berjumpa dengan mereka. Seakan kebahagiaan sudah berkawan karib dengan Pandu beserta istri dan anaknya. Selayaknya jua andaikata banyak yang ingin merasakan keluarganya sempurna laksana mereka. Namun apa yang terlihat secara kasat mata ternyata tak selalu benar selamanya.

Pada sebuah malam, terdengarlah tangisan dan jeritan histeris seorang perempuan. Tetangga paling dekat di sekitar rumah Pandu bergegas keluar mencari asal suara. Ternyata itu suara Mayra! Apakah gerangan yang terjadi? Bu Joko, Bu Wirya, Pak Wirya, dan Andra bergegas menuju tempat tinggal keluarga Pandu. Sebuah prahara rupanya telah singgah di rumah tangga Pandu.

“Lho, ada apa ini?” tanya Bu Joko panik.
Pintu depan kebetulan terbuka dan mereka pun memasuki rumah Pandu. Di dalam rumah, tampaklah Mayra memeluk ibunya yang terkulai lemah di lantai. Sementara Pandu berdiri terpaku dengan napas terengah-engah, tak jauh dari situ.
“Tolong mama saya, Bude. Papa sudah jahat pada Mama!” teriak Mayra menuding ayahnya. Pak Wirya mengajak Pandu ke luar ruangan, sementara Bu Joko, Bu Wirya, dan Andra mengangkat tubuh Saras yang ternyata pingsan ke atas tempat tidur.

“Nak Pandu, apa yang sudah terjadi tadi?” tanya Pak Wirya di serambi rumah Pandu.
“Maaf, Pak Wirya. Ini urusan internal rumah tangga saya. Bapak tak usah turut campur!” sahut Pandu dengan raut wajah tegang dan tetap dalam posisi berdiri.
“Sebaiknya kamu duduk dulu, Nak Pandu. Bukannya kami turut campur, tapi siapa tahu kami bisa membantu sesuatu? Ini air putih diminum dulu, supaya kamu tenang.”

Pandu bersedia duduk dan meminum air putih yang dibawakan Andra, anak Pak Wirya yang disuruh ibunya keluar. Sekian menit pun berlalu dalam keheningan. Seraya mengatur napasnya, Pandu yang mulai tenang kembali berucap,
“Hmm, maukah Pak Wirya melihat kondisi istri saya? Katakan padanya, saya mengkhawatirkannya.”
“Baiklah. Andra, tolong temani Mas Pandu, ya.”
Pak Wirya berjalan memasuki kamar. Dilihatnya Saras yang wajahnya terlihat pucat sudah dalam keadaan sadar di atas dipan. Sementara Mayra sedang menceritakan apa yang terjadi kepada ibu-ibu tetangga yang biasa dipanggilnya dengan ’Bude’.
“Mama sudah tahu bahwa Papa selingkuh. Tapi, Papa tidak terima dibilang seperti itu. Dia marah dan menggampar Mama sampai jatuh lemas. Bude tahu kan, mama saya punya penyakit? Huh, Papa jahat sekali! Tega dia berbuat begitu pada istrinya, pada ibu anaknya sendiri!” tukas Mayra emosional.

Saras menangis melihat kemarahan anaknya, sementara Bu Joko dan Bu Wirya mencoba menenangkan Mayra, kendati berkaca-kaca pula mata mereka. Pak Wirya yang berdiri di dekat pintu menggeleng-gelengkan kepala, menghela napas seraya berzikir agar bisa lebih menyabarkan dirinya. Tak lama berselang, Pak Wirya kembali menemui Pandu yang berada di luar rumah.

“Nak Pandu, istrimu sudah sadar. Jika kondisimu tenang, tak ada salahnya menemuinya sekarang,” ujar Pak Wirya.
“Terima kasih, Pak. Mungkin lebih baik saya pergi dulu. Saya masih perlu waktu agar bisa menenangkan diri,” sahut Pandu yang segera beranjak menuju mobilnya dan membawanya pergi.

Pagi hari berikutnya, mobil Pandu telah terlihat lagi berada di depan rumahnya. Barangkali perdamaian sudah terjadi dan kerukunan kembali bersemi. Tetangga terdekat mereka, seperti keluarga Pak Wirya maupun Bu Joko merasa lega mengetahui kondisi rumah tangga Pandu yang agaknya harmonis kembali. Kendati demikian, mereka masih belum yakin, mengingat gonjang-ganjing keluarga tersebut -menurut cerita Mayra- berpangkal dari perselingkuhan Pandu. Sesuatu yang penting kemudian terjadi. Memang tiada kehebohan seperti tempo hari. Pandu serta merta pergi begitu saja pada sebuah malam. Suara mobilnya terdengar kencang melaju meninggalkan tempat tinggalnya.

“Mas Pandu sudah pergi, Bu. Kami akan bercerai secepatnya,” sahut Saras ketika esok paginya ditanya Bu Wirya.
“Apa kalian sudah pikir matang rencana itu? Bagaimana dengan masa depan Mayra? Kasihan dia, jika orangtuanya mesti berpisah.”
“Mas Pandu sudah tidak mencintai saya. Lagi pula saya sudah telanjur kecewa dengan sikapnya yang mendua. Dan percayalah, Mayra akan baik-baik saja bersama saya.”

***
Keluarga harmonis tinggal kenangan bagi Pandu, Saras, dan Mayra. Tanpa suaminya, Saras mesti menanggung sendiri biaya kehidupannya bersama putrinya. Apalagi kedua orangtuanya telah tiada. Biasanya Saras menjual kain dan perhiasan pada ibu-ibu tetangga maupun temannya arisan sebagai bisnisnya selama ini. Tapi terjadinya krisis ekonomi di masyarakat membuat laju bisnisnya terhambat jalannya.

Terpaksalah Saras meminjam uang pada tetangga dan teman-temannya guna membayar kebutuhan hidup kesehariannya. Proses perceraiannya dengan Pandu sendiri telah dimulai. Jika dikabulkan, tentu Saras akan mendapatkan harta gono-gini dari harta bersamanya dengan Pandu. Ia juga menuntut ayah Mayra membiayai keperluan hidup anak mereka satu-satunya. Namun proses yang dijalaninya ternyata tidak secepat harapannya. Maka Saras semakin menjadi-jadi dalam berhutang. Satu kesalahannya adalah tidak mengubah gaya hidupnya yang selama ini terbilang mewah. Padahal kakaknya semata wayang pun telah cukup membantu biaya hidupnya selama ini.

“Dulu, saat masih ada Pandu, wajarlah kalau gaya hidupnya seperti itu. Tapi sekarang, Saras sendiri tak punya pekerjaan, kok gayanya masih seperti orang kaya, ya?” keluh Bu Joko kepada Bu Wirya.
“Sebetulnya saya pernah mengimbau Nak Saras tentang hal itu, saat dia pinjam uang. Tapi, semua itu kembali pada yang menjalaninya, kan? Oh ya, apa Bu Joko meminjamkan uang pada Nak Saras juga?”
“Terus terang, saya tak sanggup membantunya. Untuk membiayai hidup anak-anak saya saja sudah pas-pasan.”
“Sayang ya, padahal dulu mereka keluarga paling harmonis di lingkungan ini dan menjadi kesayangan kita semua. Sekarang kok begitu nasibnya?” ujar Bu Wirya prihatin.

***
Ketika hutangnya terus bertambah dan bantuan dari saudaranya tak lagi mencukupi, Saras memutuskan menjual rumah yang ditinggalinya selama ini. Kebetulan, rumah itu sudah diatasnamakan Saras sejak semula. Bukan atas nama Pandu, lelaki yang pernah mencintainya dahulu, tapi telah mencampakkannya kini.

“Tolong ya, ibu-ibu. Kalau ada teman atau saudaranya yang mau membeli rumah saya, silakan segera menghubungi saya. Harganya berkisar seratus lima puluh juta rupiah dan jelas bisa dinegosiasikan,” pesan Saras di depan arisan ibu-ibu.

Tak berselang lama, berdatanganlah calon pembeli rumah Saras. Sayangnya, ia begitu teguh pendirian pada angka yang ditetapkannya. Memang berat baginya menurunkan harga karena hutangnya yang menggunung harus dilunasi segera. Terakhir, ada calon pembeli yang menawarkan harga seratus dua puluh lima juta rupiah, Saras tetap bergeming dan enggan melepasnya.

“Pokoknya, Mama baru mau melepas rumah kita, kalau ada yang membelinya minimal seratus empat puluh juta,” tegas Saras di depan putrinya.
“Ma, daripada rumah kita tidak laku, kenapa tidak segera dilepas saja, sih? Kita itu sedang perlu banyak uang, tidak hanya demi membayar hutang Mama, tapi juga membiayai keseharian kita. Dan buat kita, angka seratus dua puluh lima juta itu bukan angka yang kecil, kan?” Mayra begitu menyayangkan sikap ibunya.
“Mama masih yakin ada yang mau membeli rumah kita dengan harga yang Mama tetapkan. Tunggulah sebentar lagi, May.”

Ternyata sepekan sesudah Saras menolak calon pembeli terakhirnya, gempa yang begitu dahsyat melanda kota tempat tinggalnya. Kepanikan melanda semua orang pada hari itu. Korban jiwa berjatuhan dan banyak bangunan mengalami kerusakan, bahkan hancur berantakan. Rumah Saras termasuk kategori rusak berat, kendati masih beruntung karena belum sampai ambruk. Tapi Saras dan Mayra tidak berani kembali menempati rumah yang menjadi tak layak huni tersebut. Mereka pun mengungsi dan memilih menumpang di rumah kakak Saras.

Sementara itu, proses perceraian Saras dan Pandu telah sampai pada putusan hakim. Mereka akhirnya resmi berpisah. Saras mendapatkan haknya atas harta gono-gini. Mayra ditetapkan tinggal bersama ayahnya. Saras lantas menghilang dari kotanya demi menghindari orang-orang yang hendak menagih hutangnya. Hidupnya pun dilanda kecemasan tak berkesudahan. Sekiranya waktu itu Saras jadi menjual rumahnya sepekan sebelum gempa, barangkali ia masih dapat hidup lebih tenang, kendati tanpa Pandu dan Mayra lagi bersamanya.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos Minggu, 8 Februari 2015.

h1

Pemerintah dan Timnas

Februari 20, 2015

Ada yang mengatakan, “Sesungguhnya rakyat Indonesia tidak memerlukan Pemerintah yang baik. Pemerintah dan Negara, ada atau tidak, sebenarnya juga relatif legitimasi kerakyatannya. Kalau ada Pemerintah korupsi, nggak apa-apa juga asal jangan terlalu berlebihan. Atau kalau terpaksanya Pemerintah memang direstui Tuhan pekerjaannya ngrepotin rakyat dan mentikusi harta rakyat, mungkin tidak terlalu masalah juga – asalkan timnas sepakbola kita menang.”
(Emha Ainun Nadjib)

h1

Skor Anomali 2014

Februari 16, 2015

Sepak bola memang kerap sekali diwarnai kejutan demi kejutan. Sepanjang tahun 2014 terdapat beberapa pertandingan dalam turnamen atau kompetisi resmi yang menghasilkan skor akhir yang di luar dugaan. Hal itu tidak hanya melibatkan timnas Indonesia, tapi juga tim-tim ternama di dunia. Kita akan mengupasnya satu demi satu.

Salah satu hal yang menjadi warna kusam perjalanan Tim Merah Putih di Piala AFF 2014 adalah ketika Indonesia tunduk 0-4 dari Filipina (25/11). Rekor baru tercipta karena itulah kekalahan pertama timnas dalam sejarah pertemuan kedua tim. Siapa pun tidak pernah membayangkan bahwa Firman Utina dkk akan kalah dengan skor sebesar itu dari tim yang belum pernah sekali pun menang atas Skuat Garuda kebanggaan kita. Tim asuhan Alfred Riedl pun gagal lolos ke semifinal, lantaran sebelumnya hanya mampu bermain imbang 2-2 dengan Vietnam, dan kemenangan 5-1 atas Laos di laga pamungkas menjadi sia-sia.

indo dikalahin filip

Sebelum itu, Indonesia yang diwakili timnas U-23 kalah 1-4 dari Korut di babak 16 Besar Asian Games 2014 Korea Selatan pada September. Namun bukan itu kejutannya, karena hasil tersebut sudah bisa diprediksi. Kekalahan 0-6 dari Thailand (22/9) di laga ketiga babak penyisihanlah yang mencengangkan, mengingat tim Aji Santoso sebelumnya menang telak atas Timor Leste (7-0) dan Maladewa (4-0). Beruntunglah Ferdinand Sinaga dkk yang masih bisa lolos ke babak selanjutnya, meski akhirnya kandas pula.

Di Piala Dunia 2014 Brasil, skor anomali terjadi beberapa kali. Spanyol dikandaskan Belanda 1-5 pada laga pertama Grup B (14/6). Spanyol yang berstatus juara bertahan masih tetap dengan pemain terbaiknya, seperti Iker Casillas, Sergio Ramos, dan Xabi Alonso. Namun mereka tidak berdaya menghadapi Robin van Persie dkk, yang pernah mereka kalahkan 1-0 di final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Tim besutan Vincente del Bosque akhirnya terhenti di babak penyisihan grup, sementara tim besutan Louis van Gaal meraih posisi ketiga.

Kejutan terbesar di Piala Dunia 2014 adalah ketika Brasil kalah 1-7 dari Jerman di semifinal (9/7). Brasil sebenarnya hanya kehilangan Thiago Silva (akumulasi kartu) dan Neymar (cedera), bermain di depan pendukungnya sendiri, tapi justru meraih hasil paling memalukan sepanjang sejarah sepak bola juara Piala Dunia lima kali itu. Yang lebih menyedihkan lagi, tim asuhan Luiz Felipe Scolari juga kalah telak 0-3 dari Belanda (13/7) dalam perebutan peringkat ketiga.

brasil vs jerman 1-7

Sebelum Piala Dunia 2014 berlangsung, Bayern Muenchen pernah ditundukkan Real Madrid 0-4 di semifinal leg kedua Liga Champion 2013/14 (30/4). Padahal Muenchen adalah juara bertahan Eropa, bermain di kandang sendiri, dan sudah memastikan gelar juara Bundesliga 2013/14. Sesudah itu, kemenangan Los Blancos atas Atletico Madrid dengan skor 4-1 dalam final Liga Champion di Lisabon (25/5) cukup mencengangkan pula. Los Colchorenos sebenarnya sempat unggul lebih dulu 1-0 dan baru memastikan gelar juara La Liga 203/14 waktu itu. Sebelum dan sesudah laga tersebut, tim besutan Carlo Ancelotti nyatanya selalu kesulitan meraih kemenangan dari tim besutan Diego Simeone. Madrid bahkan telah gagal mempertahankan trofi Copa del Rey pada musim 2014/15, setelah kalah agregat 2-4 dari Atletico pada Januari 2015.

Bayern Muenchen kembali membuat cerita di pertandingan Grup E Liga Champion 2014/15. Bermain di Stadion Olimpico, tuan rumah AS Roma dibantai 1-7 oleh tim yang diarsiteki Pep Guardiola (22/10). Padahal Roma merupakan saingan terberat Juventus dalam merebut gelar juara Serie A musim ini. Beberapa pemain Jerman seperti mengalami déjà vu, karena mereka pernah merasakannya ketika di Piala Dunia 2014 menaklukkan Brasil. Pemain yang sama-sama memperkuat timnas Jerman dan Muenchen adalah Manuel Neuer, Philip Lahm, Jerome Boateng, Mario Goetze, dan Thomas Mueller. Neuer kebobolan satu gol dan Mueller membuat satu gol pula dalam kemenangan Jerman maupun Muenchen dengan skor 7-1 tersebut.

* Opini ini dimuat di rubrik ‘Interaktif’ BolaVaganza No.160 – Februari 2015.

h1

Dampak Positif Pemain Baru Milan

Februari 5, 2015

Setelah melewati Januari tanpa kemenangan di Serie A dan disingkirkan Lazio di Coppa Italia, akhirnya AC Milan mampu kembali membuat penggemarnya tersenyum ceria. Milan mengalahkan Parma 3-1 dalam giornata 21 Serie A yang berlangsung Minggu (1/2) di San Siro. Dua gol Rossoneri dicetak Jeremy Menez, sementara satu gol lagi dibuat Cristian Zaccardo yang merupakan mantan pemain Parma. Uniknya, Antonio Nocerino yang mencetak gol tunggal Gialloblu adalah mantan pemain Milan. Dengan dua golnya, Menez telah mencetak total 12 gol, sama dengan rekor gol Gonzalo Higuain (Napoli), dan hanya kalah dari Carlos Tevez (Juventus) yang sudah mengoleksi 13 gol.

menez destro 462_n

Kemenangan Jeremy Menez dkk tentu sangat melegakan Filippo Inzaghi yang tetap dipertahankan manajemen Milan, kendati sempat dua kali dikalahkan Lazio secara beruntun di Serie A dan Coppa Italia pada Januari lalu. Tim besutan Pippo mengumpulkan poin 29 dan naik ke nomor 8, setelah pekan sebelumnya terjerembab di nomor 11. Perjuangan menembus papan atas Serie A masih cukup berat, apalagi pekan depan (8/2) Tim Merah-Hitam mesti bertandang ke markas Juventus, sang pemimpin klasemen yang unggul 21 angka ketimbang Milan. Namun kehadiran sejumlah pemain baru telah memberikan dampak positif bagi permainan Rossoneri.

Ketika menundukkan Parma, Inzaghi untuk pertama kalinya menurunkan Salvatore Bocchetti (bek sayap/Spartak Moskow) dan Mattia Destro (striker/AS Roma). Selain itu, Alessio Cerci (gelandang sayap/Atletico Madrid) yang baru bergabung di awal 2015 pun kian nyata memberikan kontribusi. Pemain baru Milan lainnya adalah Suso (bek sayap/Liverpool), Luca Antonelli (bek sayap/Genoa), dan Gabriel Paletta (bek tengah/Parma). Mudah-mudahan mereka bisa lekas menyatu dengan Riccardo Montolivo dkk, apalagi kecuali Suso, semua pemain tersebut merupakan orang Italia. Proses adaptasi mestinya bukanlah problema berarti. Forza Milan!

* Opini ini dimuat (dengan revisi) di Mingguan BOLA Edisi 2.601/2015.

h1

Benang Merah Pergantian Pemain Madrid

Februari 4, 2015

Tanpa kehadiran Cristiano Ronaldo yang dilarang bermain dua laga akibat kartu merah yang diterimanya pekan lalu, Real Madrid sukses menggilas Real Sociedad dengan skor 4-1 pada Sabtu (31/1) di Santiago Bernabeu. Lebih dulu tertinggal 0-1 di menit pertama, Los Blancos mampu membalikkan keadaan dengan gol-gol yang dihasilkan oleh James Rodriguez, Sergio Ramos, dan Karim Benzema (dua gol). Bermain dengan formasi 4-4-2 yang menempatkan Benzema-Gareth Bale sebagai duet striker, anak-anak asuh Carlo Ancelotti ternyata tidak kehilangan ketajamannya. El Real pun masih kokoh memuncaki klasemen Primera Division 2014/15 dengan poin 51 dari 20 laga, hanya berselisih satu angka dengan Barcelona di posisi kedua. Madrid akan menjamu Sevilla pada Rabu (4/2) untuk menyamakan jumlah pertandingan dengan tim lainnya menjadi 21 laga. Los Blancos bakal unggul empat angka atas Azulgrana sekiranya mampu menundukkan Sevilla.

madrid vs sociedad 4-1

Terdapat hal menarik dalam proses pergantian pemain yang tiga kali dilakukan Ancelotti kala menjamu Sociedad. Ketiga pasang pemain tersebut masing-masing memiliki benang merah tersendiri. James digantikan oleh Jese pada menit ke-74. Baik James maupun Jese sama-sama memiliki nama belakang Rodriguez, meski berbeda kewarganegaraan : James (Kolombia) dan Jese (Spanyol). Selanjutnya, Toni Kroos digantikan oleh Sami Khedira pada menit ke-81. Kedua pemain merupakan anggota skuat Jerman, tim juara Piala Dunia 2014 Brasil. Pergantian Benzema oleh Javier ”Chicharito” Hernandez juga terjadi pada menit ke-81. Benz dan Chicharito sama-sama berposisi sebagai striker dan memiliki potongan rambut cepak.