Archive for April, 2015

h1

Perseteruan Sementara

April 30, 2015

Secara jarak usia, keduanya pantas menjadi kakak adik. Hanung cuma lebih tua empat tahun ketimbang Lea. Berhubung ibu Lea adalah kakak tertua Hanung, jadilah Lea keponakan Hanung. Ketika ayah ibunya belum bercerai, Lea tinggal bersama mereka di Surabaya. Setelah orangtuanya berpisah, gadis itu mengikuti ibunya yang pulang ke Yogyakarta. Hubungan Lea dan Hanung terbilang akrab, bahkan mereka biasa bermain bersama saat masih bocah. Tapi ketika Lea menjadi anak SMP dan Hanung sendiri SMA, hubungan itu mulai berubah. Adakalanya mereka berdua justru laksana seteru.

Sebagaimana layaknya gadis-gadis yang sebaya dengannya, Lea pun mulai ingin tampil cantik. Seperti juga sahabat-sahabatnya seperti Cessa dan Shelly, Lea mengenakan tanktop dan celana pendek ketika mereka akan menghabiskan sebuah sore di mal. Hanung cukup terkejut melihat penampilan keponakannya. Kebetulan dia baru saja pulang dari kegiatan ekskul di sekolahnya.

“Mau ke mana?” tanya Hanung.

“Mau jalan-jalan ke mal. Om Hanung mau ikut?”

“Nggak, makasih. Baju apa yang kamu pakai itu?”

“Baju yang modis dong, Om. Biasa kan cewek cakep kayak aku pakai baju begini? Kenapa sih, Om Hanung nanyanya aneh deh…”

“Kamu nggak pantas pakai baju seperti itu! Apa nggak takut digoda cowok-cowok di mal?”

“Asal godainnya nggak sampe colak-colek sih, it’s ok aja, Om. Aku kan nggak sendiri, ada temen-temen yang jalan bareng aku nanti.”

“Ya sudah, terserah kamulah.”

Hanung menghentikan ucapannya. Setiap mau menasihati Lea, keponakannya itu selalu punya banyak amunisi untuk adu argumentasi, hingga Hanung kehabisan kata. Tentu dia begitu sayang pada keponakannya, namun Lea bisa jadi tak memahaminya.

Sekian jam kemudian, sehabis jalan dengan teman-temannya, Lea pulang dengan wajah sembab. Ibu dan neneknya pun cemas melihatnya.

“Kamu kenapa Lea, wajahmu pucat begitu?” tanya ibu Lea.

“Ibu…Eyang…” Lea menghambur ke pelukan ibunya sambil menangis sesenggukan. Gadis itu pun dibimbing ibunya menuju kamar tidurnya. Nenek Lea menemani Cessa, teman Lea di ruang tamu. Hanung yang semula berada di kamarnya beranjak keluar menemani ibunya.

“Ada apa ini, Nak Cessa?” tanya nenek Lea.

“Anu Eyang, tadi kami digodain cowok, terus Lea sampai dipeluk-peluk begitu,” sahut Cessa dengan wajah tegang.

“Kurang ajar! Kamu tahu siapa mereka, Ces? Mereka harus diberi pelajaran!” seru Hanung sambil menggebrak meja.

“Maaf, saya nggak tahu, Om. Eyang Putri dan Om Hanung, saya permisi pulang dulu. Moga-moga Lea baik-naik saja dan besok bisa masuk sekolah,” harap Cessa.

***

Peristiwa malam itu membuat Lea mengubah gaya berpakaiannya. Semua tanktop, celana super pendek, dan rok mini disingkirkannya dari dalam lemari bajunya. Dengan berat hati, gadis itu menyetujui komentar pamannya tempo hari. Namun untuk hal-hal lainnya, mereka tetap kerap tak sependapat. Hanung bahkan makin tak bisa memahami jalan pikiran Lea ketika sudah menjadi anak SMA, sementara dia sendiri mulai kuliah.

Waktu itu tepat malam Minggu. Sudah lebih dari jam sepuluh malam, Lea masih sudi menerima kedatangan seorang teman laki-lakinya. Dan ternyata lebih dari sejam kemudian, mereka masih bercakap berdua di teras rumah. Setahu Hanung, lelaki itu bukan yang menyukai Lea, mungkin dia tengah curhat semata pada keponakannya. Tapi apakah esok sudah tak bakal hadir lagi, sehingga mereka mesti bicara tanpa peduli waktu telah larut malam? Begitulah pikir Hanung.

Menjelang jam dua belas malam, penghuni rumah lainnya sudah terlelap, termasuk ibu Lea. Ingin sekali sebenarnya Hanung mengingatkan gadis itu supaya ingat waktu dan menyudahi dialognya, namun dia khawatir bakal murka jika sempat bicara. Maka Hanung memilih melakukan sesuatu tanpa kata, yang diharapkannya bisa menjadi peringatan bagi Lea. Dia mematikan lampu ruang tamu dan teras rumahnya, lalu masuk kamar, sejenak menunggu sekian menit. Ternyata lantas terdengar suara motor dinyalakan. Pintu rumah ditutup dan terdengar langkah seseorang masuk. Lea pun membuka pintu kamar Hanung.

“Kenapa sih, Om Hanung nggak ngomong aja?” tanya Lea.

“Bosan. Kalau aku bicara, jarang kamu dengar, kan? Oh ya, apa besok sudah tiada waktu lagi buat kalian berdua?” sindir Hanung. Lea hanya diam seraya menutup pintu.

***

Mereka berdua sesungguhnya teman diskusi yang baik. Kendati ada adu argumentasi juga, tapi Hanung tak pernah terpancing emosinya jika mereka berdialog soal situasi politik, film terbaru, grup musik favorit mereka, bahkan kadang sampai gosip selebritis. Hanung sesekali mengajak Lea nonton film atau pertunjukan musik selagi dia jomblo. Lea sendiri kerap meminta tolong pamannya. Kini sudah ada yang menjadi kekasih Hanung. Lea pun telah memiliki teman lelaki yang spesial. Lantaran sibuk dengan kehidupan pribadinya, mereka tak  sering berkonfrontasi lagi.

Hubungan Lea dan Hanung kembali merenggang ketika ibu Lea memutuskan akan menikah lagi. Gadis itu menentang rencana ibunya. Dia tidak percaya pada calon suami ibunya, seorang duda tua yang kaya harta. Keluarga besar ibunya pun semula  kurang sepakat, termasuk Hanung pula. Berhubung lelaki itu pandai mengambil hati calon mertua dan adik iparnya, akhirnya semua setuju.

Hanung adalah satu-satunya saudara kandung laki-laki ibu Lea. Kakek Lea sudah lama wafat dan tak punya saudara lelaki. Maka Hanung berhak menggantikan ayahnya sebagai wali pernikahan kakak perempuannya. Hal itu membuat Lea agak membenci pamannya. Permusuhan mereka seolah kembali mengemuka.

“Memangnya salah, saya menjadi wali nikah Mbak Nining, Bu?” tanya Hanung pada ibunya.

“Ya, tidak. Kamu betul menggantikan tugas bapakmu. Ibu sih yakin, lama-lama Lea menerima pernikahan ibunya. Memang tidak seharusnya dia memusuhimu. Tapi cobalah kamu maklumi lagi sikapnya,” sahut sang ibu. Hanung manggut-manggut  mencoba menyetujui kata ibunya.

Lambat laun Lea bisa menerima pilihan ibunya. Dia menuruti nasihat neneknya agar berdoa supaya ibunya mendapatkan lebih banyak kebahagiaan setelah menikah lagi. Namun Lea enggan mengikuti ibunya yang tinggal di rumah ayah tirinya. Dia tetap tinggal bersama neneknya dan kedua adik ibunya yang belum menikah, termasuk Hanung. Namun Lea jadi jarang berada di rumah neneknya. Hanung jadi sempat sewot dibuatnya.

“Lea itu sekarang sudah seperti anak kos, Mbak. Di sini dia cuma numpang mandi, makan pagi, dan tidur,” ujar Hanung ketus pada salah satu kakaknya yang tak tinggal serumah dengannya. Tak ayal Lea terperangah dan marah mendengar komentar pamannya, seperti yang disampaikan sang bibi padanya. Tapi dia tak pernah menyatakan keberatannya secara langsung terhadap Hanung.

***

Hari terus bergulir hingga dua tahun berlalu sejak pernikahan ibu Lea. Sebuah peristiwa besar akhirnya mengubah hubungan Lea dengan Hanung. Pagi itu, ayah tiri Lea memberi kabar mertuanya bahwa ibu Lea mendadak jatuh dan tak sadarkan diri di kamar mandi. Ibu Hanung meminta cucunya agar bersiap-siap menjenguk ibunya. Tapi dia malah tetap santai dan beralasan mau mandi dulu. Ibu Hanung hampir habis kesabarannya melihat ulah cucunya.

“Ya ampun, Lea! Ibu kamu itu sudah tidak sadar, kita diminta cepat ke sana, dan kamu masih mau santai? Terus terang, firasat Eyang Putri tidak enak ini.”

“Sabar, Bu. Sudahlah Lea, sekali ini turutilah kata eyangmu,” kata Hanung yang geregetan juga.

Akhirnya Lea pergi bersama neneknya menuju ke rumah suami ibunya. Ternyata ibu Lea terkena stroke. Berdasarkan pemeriksaan di rumah sakit, sebagian besar fungsi otak ibu Lea sudah tak berfungsi. Hanya jantungnya masih berfungsi dengan baik. Sungguh sesuatu yang tak terduga bagi semua yang menyayanginya.

“Sedih banget aku lihat ibuku. Tapi aku siap andaikan Tuhan memang menghendaki Ibu kembali pada-Nya,” ujar Lea sambil terisak.

“Lea, jangan berpikir begitu! Kita doakan bersama biar ibumu masih bisa panjang umur,” cetus Hanung yang sudah tiba di rumah sakit.

Sama sekali tak terbayang, kakak sulungnya sudah di ambang maut. Bisa jadi Lea memiliki firasat sendiri tentang nasib ibunya. Selama dua hari dua malam, Lea bersama nenek dan ayah tirinya menunggui kakak sulung Hanung di rumah sakit. Hanung bersama kakaknya yang lain saban hari bergantian menengok ibu Lea.

Sejak kakak sulungnya tak sadarkan diri, Hanung memikirkan hubungannya dengan Lea. Dia mencoba memahami sikap keponakannya yang selalu merasa benar, sok pintar, dan sering tak mau dinasihati. Sedari kecil, Lea tak merasakan kasih sayang ayahnya sejak orangtuanya bercerai. Hanya sesekali sang ayah menjenguk anaknya, meski kebutuhan Lea secara materi selalu dipenuhinya. Ketika ibunya menikah lagi, kasih sayang sang ibu barangkali sedikit berkurang karena mereka tak serumah lagi. Hanung berharap Lea bisa berubah setelah ibunya sakit, jadi hubungan mereka menjadi baik pula. Sejujurnya dia jenuh dengan perseteruan mereka.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Di awal hari ketiganya di rumah sakit, ibu Lea mengembuskan napas terakhirnya di depan anak, ibu, dan suami keduanya. Hanung sendiri tengah dalam perjalanan ketika hal itu terjadi. Setibanya di kamar, Hanung langsung menghampiri Lea dan memeluknya.

“Om, maafkan ibuku, ya,” kata Lea yang masih bercucuran air mata.

“Sudahlah, yang penting kamu ikhlas,” ucap Hanung yang sejenak melupakan semua keburukan keponakannya. Setelah memeluk ibu dan kakak iparnya, Hanung mendekati jasad kakak sulungnya. Seraya menahan sedih, dalam hatinya dia berujar,

“Mbak Nining tak usah khawatir dengan Lea. Aku akan lebih menyayangi dia dan mencoba memahaminya. Aku juga akan selalu melindunginya. Mbak Nining, yang tenang ya menghadap Ilahi.”

***

Setelah kehilangan ibunda, lambat laun sifat dan sikap Lea mulai berubah. Gadis yang dahulu paling jago ngeyel, kini sudah sering mau mendengarkan kata orang-orang di sekitarnya, termasuk juga Hanung. Memang terkadang masih ada sikap Lea yang membuatnya mangkel, tapi dia lebih sabar menghadapinya kini. Perseteruan tampaknya telah berakhir.

TAMAT

# Cerpen ini -dengan penyuntingan redaktur- dimuat di CERMA Minggu Pagi No.49 Th.67 Minggu I Maret 2015. Yang dimuat di sini adalah versi asli -yang lebih panjang- dari penulisnya.

Iklan
h1

Mengarang Seperti Berolahraga

April 30, 2015

Jadikanlah mengarang itu seperti berolahrga. Berolahraga untuk sehat, bukan untuk menjadi juara PON, SEA Games, Asian Games, atau Olimpiade. Artinya, selagi masih kreatif, menulislah terus. Selagi sehat, teruslah berolahraga. (Sori Siregar)

h1

Yang Baru di LSI 2015

April 14, 2015

Pengantar

Tulisan ini dibuat pada pertengahan Maret 2015, lalu dikirim dan dimuat di sebuah majalah yang terbit pada April 2015. Liga Super Indonesia 2015 akhirnya jadi bergulir sejak 4 April 2015 dengan nama resmi QNB League 2015 by ISL. Qatar National Bank menjadi sponsor utama untuk tiga musim ke depan dan menjadi salah satu hal baru dalam LSI 2015.

Sayang sekali, konflik Menpora-BOPI vs PSSI/PT Liga Indonesia masih terus berlanjut  dan cenderung kian memanas hingga melibatkan FIFA. Hal itu berawal dari keputusan Menpora melarang Arema Cronus dan Persebaya sebagai peserta liga dengan alasan yang tidak jelas benar salahnya. LSI 2015 pun untuk sementara dihentikan, rencananya hingga usainya Kongres PSSI 18 April 2015. Maka lanjutan LSI 2015 pun kini tanpa kepastian, setelah peserta liga rata-rata telah melakoni dua laga. Penghentian sementara kompetisi akibat faktor nonteknis pun menjadi salah satu hal baru. 

Sejumlah Hal Baru di LSI 2015

Liga Super Indonesia (LSI) 2015 yang semula dijadwalkan dimulai 20 Februari 2015 telah ditunda oleh Menpora Imam Nahrawi, berdasarkan rekomendasi BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) dan Tim Sembilan bentukan Menpora. Hal itu memang mengecewakan banyak pihak, namun sekaligus menjadi kesempatan bagi seluruh elemen untuk memperbaiki diri, baik itu PSSI, PT Liga Indonesia, maupun tim-tim peserta LSI.

Jika tiada aral gendala lagi, LSI 2015 bakal digelar sejak 4 April 2015. Kompetisi sepak bola kasta tertinggi Indonesia tahun ini diikuti oleh 18 tim yang tersebar di Sumatra (2), Jawa (7), Bali (1), Kalimantan (4), Sulawesi (1), dan Papua (3). Persik Kediri dan Persiwa Wamena dicoret PT Liga Indonesia karena tidak memenuhi syarat finansial. Sejumlah tim lainnya yang memiliki masalah keuangan tetap mendapat lisensi berlaga di liga paling atas. Selanjutnya kita akan membahas beberapa hal baru dalam LSI 2015.

Yang pertama, kompetisi berlangsung dalam satu wilayah. Seluruh 18 tim peserta akan melakoni 34 laga dalam semusim. Hal ini berbeda dengan LSI 2014 yang terdiri dari 22 tim dan dibagi dalam dua grup. Musim lalu, Persib menjadi juara dengan mengalahkan Persipura, setelah melewati perjalanan panjang : penyisihan grup, delapan besar, semifinal, hingga final di Palembang.

persib-dan-semen-padang-di-laga-perdana-isl-2015_663_382 (1)

Juara Divisi Utama 2014, Pusamania Borneo FC, menjadi satu-satunya pendatang baru di LSI tahun ini. PBFC menjadi peserta Divisi Utama setelah mengakuisisi Perseba Super Bangkalan. Sebenarnya PBFC promosi bersama Persiwa, tim yang akhirnya dieliminasi PT LI, sehingga batal berlaga di LSI 2015.

Mulai tahun 2015, pencinta sepak bola di Bali dapat menyaksikan langsung LSI, setelah Persisam Putra Samarinda hijrah dari Samarinda dan berganti nama menjadi  Bali United Pusam. Tim dengan nama baru itu bermarkas di Stadion Dipta Kabupaten Gianyar.

Yang menarik ditunggu adalah kiprah mantan pelatih timnas U-19 dan timnas senior Indonesia. Indra Sjafri, yang namanya menanjak ketika menangani timnas U-19, tahun ini menjadi pelatih Bali United. Alfred Riedl, yang terakhir membesut timnas senior di Piala AFF 2014, kini merupakan pelatih PSM Makassar. Selain Riedl (Austria), terdapat dua pelatih asing yang memulai petualangan barunya di Indonesia, yaitu : Scott Cooper (Mitra Kukar/Inggris) dan Osvaldo Lessa (Persipura/Brasil). Lessa sendiri tidak benar-benar baru karena sebelumnya pernah menjadi asisten Jacksen F Tiago, sebelum ditunjuk menjadi pelatih kepala Persipura.

Yang juga menarik dinanti adalah aksi para pemain muda mantan timnas Indonesia U-19 tahun 2013-2014. Evan Dimas, Ravi Murdianto, Maldini Pali, Yabes Roni, dan kawan-kawan akan menjalani debutnya sebagai pemain sepak bola profesional. Mereka beredar di sejumlah klub LSI, seperti : Persebaya, Mitra Kukar, Barito Putera, PSM, Persiba Balikpapan, dan Bali United.

Hal baru lainnya adalah pembatasan pemain asing. Klub peserta LSI 2015 hanya diperbolehkan memiliki maksimal tiga pemain asing. Musim kemarin, setiap klub masih diperkenankan mengontrak lima pemain asing, meski hanya boleh menurunkan empat orang di antaranya. Pembatasan tersebut membuat klub harus selektif dalam memilih pemain asing terbaik. Lalu dengan berkurangnya jumlah pemain asing, potensi pemain lokal bisa lebih terangkat ke permukaan. Apalagi klub peserta kompetisi Divisi Utama 2015 justru dilarang memakai pemain asing sama sekali.

arema vs persija_samsul vs ilham

LSI 2015 mencatat kembalinya dua orang pelatih dan sejumlah pemain ke klub yang pernah dibelanya. Pelatih Rahmad Darmawan kembali ke Persija dan Nilmaizar kembali ke Semen Padang. Sementara itu, Bambang Pamungkas, Ambrizal, M.Ilham, dan Greg Nwokolo kembali memperkuat Persija. Dedi Kusnandar juga kembali bermain untuk Persib, setelah beberapa musim memperkuat Pelita Jaya, Arema, dan Persebaya. Selain itu, ada pula pemain Indonesia yang pulang seusai semusim merantau di Liga Malaysia, yaitu Hamka Hamzah (PKNS FC ke PBFC) dan Patrich Wanggai (T-Team FC ke Sriwijaya FC).

Stefano Lilipaly, pemain naturalisasi Belanda menjalani debutnya di LSI bersama Persija. Pemain yang pernah sekali memperkuat timnas Indonesia tersebut musim lalu bermain di Consodale Sapporo (Jepang). Beberapa pemain asing juga baru bermain di LSI, seperti trio Persija : Martin Vunk (Estonia), Yevgeni Kabayev (Rusia), dan  Alan Aciar (Argentina).

Dengan segala problema dan kekurangannya, semoga LSI 2015 dapat berlangsung baik dan lancar. Seiring dengan hal itu, mudah-mudahan nasib sepak bola Indonesia bisa menjadi lebih apik pula di tahun 2015.

* Opini ini dimuat di BolaVaganza No. 162 – April 2015.