Archive for Mei, 2015

h1

Tiga Dara Sebaya

Mei 13, 2015

Inilah kisah tiga dara muda sebaya yang memiliki hubungan khas dengan diriku, terutama kala mereka masih bocah bertahun silam. Mereka lahir di tahun yang sama dan telah menjelma sebagai putri jelita usia belasan saat ini. Salah satu di antara mereka masih kerap kujumpai lantaran ia kerabat dekatku dan tinggal sekota denganku. Yang kedua, sesungguhnya ia sanak saudara yang cukup karib pula, namun kami telah sekian waktu tak bertemu berhubung kota kami berjauhan. Sementara yang terakhir sama sekali tak memiliki hubungan darah denganku. Bahkan belum pernah kutahu persis lokasi rumahnya, kendati belum lama ini kami bersua beberapa kali tanpa rencana.

***

Nerra merupakan anak ketiga dari salah satu kakakku. Ia lahir di Jakarta, ketika Kak Mirna dan keluarganya masih tinggal di sana. Saban menjelang lebaran, keluarga kakakku biasanya pulang ke Yogyakarta. Pada Idul Fitri tahun itu, Nerra masih berusia sekitar enam bulan, jadi masih digendonglah ia kesana kemari. Sebagai paman ingin kurasakan pula menimang keponakanku yang lucu. Namun ia selalu merengek hingga menangis dengan suara keras setiap kucoba mengangkat tubuh mungilnya. Uniknya, Nerra malah pipis ketika akhirnya bersedia kugendong untuk pertama kalinya tanpa menangis. Jadilah bajuku basah karena keponakanku yang masih bayi mengompol dalam buaian sang paman. Peristiwa tersebut masih membekas dalam ingatanku hingga kini. Sekian tahun kemudian, Kak Mirna dan keluarganya hijrah ke Yogyakarta mengikuti tugas suaminya. Maka aku lebih kerap berjumpa dengan Nerra.

Nerra memiliki pengalaman hidup yang cukup kompleks bagi gadis seusianya. Ia pernah hampir dua tahun berada di Amerika Serikat ketika masih SMP. Di sana, Nerra tinggal bersama keluarga kakak dari ayahnya. Ia memutuskan pulang ke Indonesia karena terlalu banyak hal tak menyenangkan mesti dialaminya. Nerra kemudian sempat pula beberapa pekan tinggal di Australia mengikuti program pertukaran pelajar setelah pulang dan melanjutkan SMA-nya di Yogyakarta.

Ada masalah besar yang sebenarnya dihadapi Kak Mirna dan suaminya sekian tahun belakangan. Suami kakakku telah cukup lama meninggalkan Nerra, dua kakaknya, dan ibu mereka. Namun keponakanku masih berhubungan cukup intensif dengan ayahnya. Apa pun yang dimintanya, biasanya selalu dituruti sang ayah, kendati mereka amat jarang bertemu muka. Aku tak paham, mengapa Kak Mirna tidak bercerai saja dengan suaminya, yang jelas mengingkari janji setianya sesudah menikahi perempuan selain dirinya. Tapi aku salut pada ketegaran hati kakakku, sedangkan Nerra tampaknya mampu mewarisi hal positif itu dari ibunya.

***

Margareth atau biasa dipanggil Margie juga masih memiliki hubungan persaudaraan denganku. Margie adalah putri tunggal salah satu adik sepupu ibuku. Tante Sita baru sekitar empat bulan seusai melahirkan Margie, ketika aku dan Kak Reva datang ke rumahnya di Bandung untuk berlibur belasan tahun silam. Kami sempat menginap semalam di tempat tinggal Tante Sita. Jadi sejak Margie masih bayi, aku sesungguhnya telah bertemu dengannya. Sedari masih dalam buaian ibunya, keponakan ibuku itu sudah bisa ditengarai bakal cantik parasnya.

Ada sebuah hari yang tak akan kulupa kala mengingat nama Margie. Adik sepupu jauhku tersebut masih berusia sekitar sembilan tahun waktu itu. Entah apa sebabnya, serta merta dia dekat sekali denganku, kendati dalam satu hari belaka. Padahal di hari-hari sebelumnya, sikapnya terlihat biasa saja padaku. Aku beserta orangtua dan sejumlah saudaraku tengah berada di Bandung karena ada adik Tante Sita yang menikah.

”Margie, kok kamu berani sih, dekat-dekat denganku?” ucapku.

”Soalnya aku tahu Mas pasti nggak bakal marah sama aku,” sahut Margie dengan rona wajah menggemaskan.

Seharian kami berdua bercanda, tertawa bersama, hangat dan menyenangkan sekali rasanya. Ia sempat tiduran di atas pangkuanku, bermain kartu -bersama kerabat kami lainnya- dengan ceria, lalu ia malah memintaku menggendongnya segala. Semua orang yang melihat hubunganku dengan Margie agak terperangah melihat keakraban kami, termasuk ibuku maupun Tante Sita. Tak pernah kubayangkan bisa sekarib itu dengan seorang gadis kecil yang lucu dan rupawan. Bahkan dengan Nerra keponakanku sendiri, tak pernah sedekat hubunganku dengan Margie. Ketika sore hari itu aku berpamitan, Margie tampak sangat kecewa.

”Ah, kenapa sih, Mas harus pulang sekarang?” rajuk Margie cemberut.

”Andai saja besok tak ada jadwal ujian di kampusku, aku lebih suka menunda kepulanganku, Dik. Tapi kita masih bisa sms-an, kan?” sahutku mencoba menghiburnya. Margie tersenyum sekejab saat kukecup keningnya dan kubelai rambut ikalnya.

Sehabis itu, kami berhubungan lewat sms belaka. Kadang aku meneleponnya, hingga suatu hari nomor telepon selulernya tak bisa dihubungi, dan kami pun tak pernah berjumpa lagi di alam nyata. Aku baru menemuinya kembali ketika mengikuti situs jejaring sosial yang mulai populer belum lama ini. Kuketik nama lengkapnya Margareth Alifa dan kutemukan profilnya. Maka serta merta kuminta menjadi temannya. Margie telah menjelma sebagai dara usia belasan nan jelita dan duduk di kelas II SMA. Kesan lucunya ketika masih bocah masih tersisa di wajahnya, bahkan ia tampak lebih muda di antara kawan-kawannya. Cuma sayangnya, ia tak ingat pernah dekat denganku kala ia masih kanak-kanak. Namun bisa saja ia malu mengakuinya karena sekarang sudah remaja. Aku tak mengerti bagaimana caranya membangun hubungan persaudaraan yang hangat seperti dulu lagi. Tapi aku senang mengerti kabarnya kembali dari hari ke hari. Terakhir kali aku menghubungi Margie, ia sudah diterima sebagai mahasiswi di salah satu universitas swasta ternama di Bandung.

***

Selena kulihat pertama kali kala dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar, tapi entah kelas berapa, aku tak mengingatnya. Jadi, ketika itu di lingkungan tempat tinggalku, selalu ada beragam perlombaan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional setiap bulan Juli, yang melibatkan anak cucu semua warga satu rukun tetangga. Selena adalah salah satu cucu tetanggaku yang rumahnya rada berjauhan dengan rumahku, tapi ia tinggal di tempat yang berbeda dengan kakeknya. Saban ada acara tersebut, Selena dan adiknya selalu datang ditemani kakek, nenek, maupun ibunya. Selena pandai sekali melukis seperti kakeknya, jadi wajarlah jika lukisannya mendapat nilai tertinggi dalam lomba melukis. Biarpun masih bocah, gadis tersebut sudah tampak ayu. Kulitnya putih bersih, sedangkan senyumnya masih tampak malu-malu. Aku sendiri berstatus sebagai mahasiswa waktu itu. Bertahun-tahun tak pernah kutemui lagi sosok Selena, kendati masih tetap kuingat sosok indahnya dahulu. Aku bahkan pernah menjadikan namanya sebagai tokoh cerita pendekku

Kami bertemu lagi lewat situs jejaring sosial, sama dengan perjumpaanku kembali dengan Margie. Tanpa sengaja, kulihat namanya sebagai salah satu teman Nerra keponakanku. Mereka memang sudah saling mengenal sejak ada acara peringatan Hari Anak Nasional tempo hari, tapi tak kuduga mereka masih terkoneksi saat remaja. Kuminta berteman dengannya dan ia menerimanya. Setelah terhubung sebagai teman, kusapalah Selena.

”Apa Selena tahu, aku ini siapa?” tanyaku.

”Hehe, saya tahu, kok. Mas ini tetangganya eyangku, kan?” jawab Selena.

”Wah, tak kuduga lho, Selena masih mengingatku dengan baik.”

Selena yang duduk di kelas II SMA ternyata bersekolah di tempat yang sama denganku di masa lalu. Suatu ketika, ada reuni besar di SMA kami dan Selena menjadi salah satu panitianya. Maka aku sempat beberapa kali melakukan kontak dengannya. Sayangnya, tak bisa kuhadiri reuni tersebut karena kerabatku menikah di luar kota dalam waktu bersamaan. Aku pun belum jadi bertemu kembali dengan Selena di alam nyata. Hanya dapat kulihat wajah cantiknya lewat foto profilnya di situs jejaring sosial yang kami ikuti.

Sampai pada sebuah hari, aku berjumpa dengan Selena secara kasat mata di rumah kakeknya, yang malam itu menjadi tempat pertemuan bulanan warga. Terus terang, aku memang berharap dirinya berada di situ. Asaku pun menjadi nyata. Selena kini adalah gadis jelita dengan tubuh tinggi menjulang bak peragawati. Semula aku hanya melihatnya seraya bertanya dalam hati, apakah mungkin ia masih mengenalku? Kukira sebatas mampu mengaguminya dari kejauhan belaka. Namun yang terjadi selanjutnya, aku bagaikan mendapat kado kejutan. Dara rupawan usia belasan itu mengirimkan senyuman indahnya untukku. Tak hanya sekali dari kejauhan, ketika ia berdiri di dekatku, ia melirik ke arahku seraya tersenyum lagi. Sayang seribu sayang, kami akhirnya sebentar nian sempat berbincang, padahal kesempatan membentang. Sudah jelas aku bersukacita dan dapat kutatap dirinya bahagia bisa berjumpa denganku.

Anehnya, sebuah rasa yang tak biasa lantas hadir dalam hatiku sejak kembali bertemu dengan Selena. Ingin senantiasa aku tersenyum di mana saja berada. Hari-hari yang kulewati bagaikan lebih indah kutapaki, setelah kutatap dengan seksama sang empunya wajah ayu pada sebuah malam. Demikian pula ketika aku sempat dua kali melihatnya lagi dari kejauhan dan beberapa kali kami sms-an. Mungkinkah aku sudah jatuh cinta pada gadis yang pertama kali kukenal sedari masih bocah itu? Sebenarnya aku tak mau terlalu berharap, mengingat perbedaan usia kami cukup jauh. Tahun ini umur Selena persis separuh umurku. Kebetulan postur tubuhnya lebih tinggi pula ketimbang aku. Andaikata kami melangkah bersama, apakah ia tidak akan rikuh berada di samping lelaki yang jauh lebih tua dan kurang tinggi ini? Sejatinya aku pun masih ragu dengan apa kata kalbuku terhadap dirinya, kendati ia tak hanya cantik secara fisik, lantaran karakternya pun sangat menarik. Namun biarlah kuikuti saja waktu yang terus berjalan, yang pastinya nanti akan memberikan jawaban.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos Minggu, 10 Mei 2015.

Iklan