Archive for Juli, 2015

h1

Lebaran Terakhir Mama dan Ibunya

Juli 29, 2015

Nenek datang ke kota kami ditemani istri pamanku dan salah satu sepupuku, seminggu menjelang Idul Fitri. Beliau sudah tak kuasa membendung rindu dan begitu ingin menjumpai putri kesayangannya yang baru pulang setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. Mereka menginap di rumah Kak Okta dan rencananya akan berlebaran bersama kami di sini. Pada hari itu, kakak sulungku tersebut mesti mengantarkan Mama kembali ke rumah sakit. Waktu pemeriksaan sebelumnya, dokter tidak mengatakan hal yang signifikan. Tapi saat pemeriksaan kedua, ternyata dokter mengharuskan Mama untuk cuci darah secara rutin. Menjelang diperbolehkan pulang tempo hari, beliau memang sempat sekali melakukan cuci darah. Divonis seperti itu, Mama malah memutuskan tidak mau kembali ke rumah sakit.
“Saya tentu saja mau sembuh dan bisa sehat lagi, Bu. Tapi saya tetap pada prinsip saya bahwa menjalani cuci darah cukup sekali seumur hidup. Dan pada sisi yang lain, jika sewaktu-waktu Allah memanggil, saya yakin sudah siap,” ujar Mama di depan Nenek yang merasa trenyuh mendengarkan kata-kata putrinya.
“Ya, semoga Allah mengabulkan keinginanmu, Nak. Ibu menghargai pilihanmu dan sebatas dapat mendoakan yang terbaik bagimu.”
Mama justru menerima tawaran adik iparnya dengan mencoba pengobatan alternatif. Lima hari menjelang lebaran, kami mencari tempatnya di sebuah desa, tak terlalu jauh dari kota kami. Setelah bertanya berkali-kali, akhirnya lokasi yang kami tuju barulah ketemu, sekitar dua jam kemudian. Selanjutnya, pada hari terakhir puasa kuantarkan Mama ke tempat itu kembali. Sepertinya beliau cukup percaya bahwa di situlah adanya sebersit asa demi kesembuhan penyakitnya.  

***  

Ketika Idul Fitri tiba, cerialah hati kami semua. Ada Nenek dan Mama beserta segenap anak cucunya berkumpul di rumah Kak Okta. Padahal sudah lama kami tidak berlebaran bersama Nenek di kotanya, tapi kali ini terasa istimewa karena justru beliau yang hadir kemari. Semoga masih bakal hadir kembali indahnya kebersamaan serupa itu pada tahun mendatang. Begitulah asaku dalam kalbu. Kendati masih dibayangi keprihatinan lantaran Mama belum sembuh benar, syukurlah bahwa kami masih bisa bercengkrama dan bersukacita di hari lebaran. Seminggu sehabis Idul Fitri, Mama yang sempat tinggal di rumah Kak Okta sepulangnya dari rumah sakit, akhirnya kembali ke rumahnya sendiri untuk tinggal bersamaku dan Kak April belaka. Nenek sudah lebih dahulu pulang ke kotanya, tiga hari sebelumnya.
Selama sekian pekan berselang, laksana ada harapan Mama bakal sembuh seperti sediakala, sesudah seminggu sekali menjalani pengobatan alternatif di desa. Aku tahu, beliau sungguh berat menjalaninya. Mama diharuskan diet sangat ketat dan minum jamu super pahit dari sang tabib. Tapi lambat laun, kondisi kesehatan Mama nyatanya kembali melemah. Bahkan untuk dibawa kembali ke rumah sang tabib sekalipun, beliau sudah tak lagi sanggup. Mama pun tergolek tanpa daya di tempat tidurnya semata. Sesekali saja matanya terbuka, sempat terucap sepatah dua patah kata, lalu mata itu terpejam lagi.
Berdua belaka diriku dan Kak April yang tengah menunggui Mama di dalam kamar malam itu. Sejak pagi hingga petang, kakak-kakakku telah datang dan pulang bergiliran. Mama sempat terjaga, lalu bicara dengan suara keras yang tak kami pahami kata-katanya, tatkala hari masih pagi. Sehabis itu, beliau kembali terlelap dan tak kunjung lagi membuka matanya. Kendati masih kuharap benar Mama akan pulih kembali, tapi melihat kondisi terakhirnya, aku mesti berani berpikir alternatif. Aku pun mengajak bicara kakakku.
“Seandainya Mama akhirnya dipanggil Allah, bagaimana sikap Kak April?”
“Jika memang itu yang terbaik untuk Mama, aku bakal ikhlas menerimanya. Kasihan, jika kondisi Mama terus begini.”
Takjub diriku mendengar jawaban Kak April. Kakakku yang satu ini hampir saban hari menangis terharu ketika menonton sinetron kesayangannya. Menghadapi kenyataan serupa itu, ternyata dia justru memperlihatkan ketegaran jiwanya yang luar biasa. Baru usai kami bicara, Mama membuka matanya dan mengisyaratkan ingin tahu apa yang kami perbincangkan.
“Mama masih punya semangat hidup, kan?” tanyaku serta merta tanpa rencana.
“Masih, dong,” sahut Mama cukup jelas, tapi lantas tertutup lagi matanya.
Entah apakah Mama sempat mendengar pembicaraan kami sebelumnya atau tidak. Tak lama berselang, Kak Okta datang dan bersedia tidur di rumah kami.
Akhirnya kami memutuskan membawa Mama kembali ke rumah sakit, setelah semalaman hingga pagi hari berikutnya beliau tak lagi membuka matanya. Kata dokter, jantungnya sudah terdeteksi sangat lemah. Dan seolah tiada lain pilihan, dokter memutuskan bahwa Mama wajib kembali menjalani cuci darah. Kami hanya pasrah serta terserah apa maunya dokter saja, tentu demi pulihnya kondisi kesehatan satu-satunya orangtua kami yang tersisa. Malam harinya aku bertugas menjaga Mama di rumah sakit sampai menjelang siang hari selanjutnya. Ketika aku bermaksud kembali ke rumah, Mama sempat membuka matanya sekejab belaka.
“Ma, saya pulang dulu, ya. Nanti sore saya kemari lagi,” ujarku.
Mama tersenyum tipis menanggapi pamitku. Tanpa suara, beliau mengatakan terima kasih. Begitu kuucapkan salam, Mama membalasnya dengan tidak bersuara pula. Ternyata itulah saat terakhir kutemui ibuku dalam kondisi sadar. Mama tak pernah kembali terjaga dari tidurnya. Proses cuci darah yang direncanakan dokter sebenarnya sempat dijalankan, tapi gagal total. Tuhan mengabulkan hasrat Mama yang tak sudi melakukan cuci darah lagi. Mama mengembuskan napas terakhirnya, setelah sempat bertemu dengan Nenek yang tiba-tiba secara khusus hadir lagi demi menemui putrinya. Tampaknya mereka berdua tahu apa yang akan terjadi dan mendapatkan izin-Nya untuk berjumpa terakhir kalinya. Mama padam nyawa tepat sehari sehabis Idul Adha. Dengan sukarela tak kuikuti shalat Id pada pagi sehari sebelumnya karena tak tega meninggalkan sendiri orangtuaku yang tinggal satu. Dan ternyata memang tinggal tersisa sedikit waktu merasakan kebersamaan dengan Mama tercinta.  

***  

Seseorang pernah berkata kepadaku, ketika kita kehilangan salah satu orangtua, dan sudah ada seseorang yang menjadi pasangan hidup, rasa kehilangan itu tak akan sedalam jika masih sendiri. Tapi menurutku, manakala itu terjadi dan salah satu orangtua kita ternyata masih ada, rasanya tak terlalu menyedihkan pula. Nah, jika orangtua kita tinggal satu dan dia pun pergi selamanya, seorang pasangan hidup menjadi alternatif pengobat rasa kehilangan yang mujarab. Mengapa dia hanya menjadi salah satunya, lantaran yang terpenting adalah keikhlasan hati dan kepasrahan jiwa kepada Ilahi menerima kenyataan. Demikianlah yang kualami. Tatkala belum ada perempuan yang berstatus sebagai istriku, mesti kuterima takdir-Nya bahwa Mama tutup usia, berselang lima belas tahun sepeninggal Papa. Syukurlah, sanggup tegar belaka kuhadapi segala yang ada.
Tepat seratus tujuh hari setelah wafatnya Mama, Allah SWT menghendaki Nenek kembali ke hadirat-Nya pula. Dalam waktu kurang dari empat bulan, harus kulepas kepergian selamanya dua perempuan yang sangat kusayangi dan kuhormati. Berkat keberadaan mereka jua, maka aku hadir di atas buana dan senantiasa mendapatkan doa restu dalam setiap langkah kehidupan. Idul Fitri tempo hari ternyata merupakan lebaran terakhirku bersama Mama dan ibunya. Apa yang menjadi ketentuan Ilahi adakalanya sungguh tak terduga. Senantiasa bersiagalah kita menghadapinya.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Koran Merapi Minggu, 26 Juli 2015.  

Iklan
h1

Kisah Sebuah Persamaan dan Sejumlah Perbedaan

Juli 8, 2015

Ada sebuah persamaan khas yang kumiliki sebatas dengan keempat kemenakan dari kedua kakakku, yang tidak kupunyai dengan kemenakan yang lain. Hingga hari ini terdapat dua belas orang segenap kemenakanku. Baik aku maupun keempat kemenakanku itu sama-sama memiliki saudara seayah dari ibu yang berbeda. Biarpun demikian, bagaimana riwayat kami bermuara pada sebuah persamaan sudah tentu berlainan. Salah satu hal yang tak sama, yaitu aku merupakan putra dari istri kedua ayahku, sementara keempat kemenakanku justru anak-anak dari istri pertama ayah mereka.

***

Lebih dahulu kuceritakan tentang Aryani, putri tunggal kakak tertuaku Mbak Mira, saudaraku lain ibu. Ia menikah lantas melahirkan Aryani dalam usia awal dua puluh. Layaknya pasangan muda lainnya, bahtera rumah tangga Mbak Mira dan suaminya pun diterpa sejumlah badai gelombang masalah. Berulang kali mereka nyaris memutuskan berpisah, namun masih kembali bersatu. Menjelang sepuluh tahun usia pernikahan mereka, Mbak Mira akhirnya diceraikan suaminya. Kendati Aryani masih terlampau muda memahami yang terjadi, namun ia tahu ayahnya telah menyakiti hati perempuan yang melahirkannya. Ada orang lain yang dipilih ayahnya untuk menggantikan posisi ibunya. Bukan kepalang bencinya Mbak Mira terhadap mantan suaminya, sementara Aryani sempat terbawa sikap ibunya. Ia pun sempat tidak mau bertemu dan bahkan tak menaruh hormat lagi pada ayah kandungnya. Namun ibu kandungku dengan sabar dan telaten menasihati Aryani agar tetap menghargai keberadaan ayahnya.

“Bagaimanapun, tidak ada yang namanya bekas ayah atau bekas anak. Dia tetap ayahmu sampai kapan pun, meski sekarang menjadi mantan suami ibumu, Nak,” ucap sang nenek yang sebenarnya merupakan ibu tiri Mbak Mira.

Aryani kemudian sudi menjumpai ayahnya yang telah bersusah payah ingin menunjukkan kembali kasih sayangnya terhadap sang putri. Hubungan anak dengan ayahnya yang sempat putus sekian masa pun berangsur membaik, kendati tidak dalam waktu singkat. Sesuatu yang tak bisa begitu saja diterima Aryani adalah ketika ayahnya memperkenalkannya dengan dua bocah, adik-adiknya dari lain ibu. Tentu Aryani tidak melupakan istri ayahnya sekarang adalah perempuan yang membuat ayahnya dahulu meninggalkan ibunya. Mbak Mira sendiri tak mengerti mesti melakukan apa terhadap masalah yang menimpa anaknya. Ia sudah tidak keberatan ketika mantan suaminya ingin menjumpai putri mereka, kendati belum dimaafkannya juga kesalahan lelaki tersebut. Cukup sulit baginya memberi pemahaman pada Aryani, hingga ibuku akhirnya mengungkapkan sebuah fakta, yang selama ini mungkin belum pernah diketahui  kemenakanku itu.

“Apakah ibumu pernah bercerita tentang siapa nenekmu ini sebenarnya?” tanya ibuku pada Aryani, yang waktu itu masih kelas II SMP.

“Tentu saja Eyang Putri adalah ibu dari ibu saya. Memangnya kenapa, Eyang?”

“Sebenarnya ibumu itu bukan anak kandung Eyang Putri, lho.”

“Masak sih? Kalau begitu, di mana ibu kandung dari ibu saya?”

“Beliau sudah wafat puluhan tahun lalu. Kamu tahu kenapa Eyang mengatakan hal ini padamu?”

”Tidak tahu, kenapa?”

”Eyang ingin kamu tahu bahwa bukan hanya kamu yang memiliki adik dari satu ayah dengan ibu yang berbeda. Bukankah ibumu sebenarnya juga memilikinya?”

”Jadi, siapa saja anak kandung Eyang Putri?”

”Hanya Om Satrio, Tante Laras, dan Tante Sinta. Tapi sejak dinikahi Eyang Kakungmu, Eyang Putri sudah menganggap ibumu, Om Sunu, Tante Dian, maupun Tante Tia seperti anak kandung Eyang sendiri. Tidak ada perbedaan kasih sayang Eyang pada mereka. Dan yang penting juga kamu tahu, Eyang sudah menganggapmu sebagai cucu kandung Eyang sejak ibumu hamil dirimu, Nak.”

”Terima kasih, Eyang Putri. Saya tahu, Eyang selalu tulus menyayangi saya, bahkan saya tak mengira Eyang bukan nenek kandung saya,” ucap Aryani terharu. Lambat laun ia pun bisa menerima kehadiran adik-adik dari istri ayahnya hingga saat ini. Aryani menyaksikan sendiri, tidak pernah ada masalah besar yang terjadi antara ibunya dengan adik-adik dari ibu tirinya tanpa kecuali, termasuk denganku pula pastinya.

Mbak Mira berpulang ke Rahmatullah menjelang empat puluh lima tahun usianya, setelah sempat menikah lagi dua tahun sebelumnya. Orang yang sejatinya paling layak berduka adalah Aryani. Namun kemenakanku itu nyatanya sangat tegar menerima cobaan berat yang dihadapinya. Kami semua cukup takjub menyimak kata-katanya.

“Saya selalu mensyukuri segala peristiwa masa silam. Ibu bercerai dengan Ayah, lalu saya dan Ibu tinggal bersama keluarga Eyang Kakung dan Eyang Putri selama belasan tahun di sini. Belum tentu akhirnya jadi baik, seandainya saya masih tetap bersama Ayah saat ini. Dan saya pun merasa beruntung, hubungan saya dengan Ayah sudah baik lagi ketika Ibu meninggal,” ujar Aryani bijak.

Sudah sama sekali tiada masalah baginya dalam memandang keberadaan keluarga ayahnya, termasuk terhadap ibu tirinya. Akhirnya ia justru mampu menganggap istri ayahnya sebagaimana sahabat baginya, paling tidak untuk sekadar berbagi cerita sebagai sesama perempuan. Kini Aryani telah menikah dan dikaruniai sepasang anak. Boleh dikata, ia cukup berhasil mewujudkan keluarga yang bahagia dan tidak mengulangi kegagalan orangtuanya dahulu kala.

***

Selanjutnya kukisahkan tentang Raka, Dimas, dan Dinda, anak-anak Mbak Tia, kakakku yang nomor empat. Seperti halnya kakak sulungku, Mbak Tia pun mengakhiri masa lajangnya dalam usia muda. Bahkan ia menikah mendahului dua kakaknya, Mas Sunu dan Mbak Dian. Semula Mas Sunu keberatan dengan pernikahan adiknya, bukan karena ia merasa dilangkahi, melainkan lantaran ia mengerti reputasi buruk calon suami Mbak Tia yang merupakan teman SMA-nya. Namun pernikahan tersebut mau tak mau memang mesti segera dilangsungkan.

Raka cukup lama menjadi anak tunggal Mbak Tia, sampai akhirnya Dimas dan Dinda hadir di dunia dalam waktu kurang dari tiga tahun. Selama ini yang kutahu, Mbak Tia memiliki keluarga yang harmonis. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan multinasional, gajinya pun besar, sampai bisa membeli mobil baru dan rumah yang bagus di Jakarta. Namun apa yang pernah menjadi keberatan Mas Sunu di masa lalu menunjukkan buktinya, setelah sekian tahun usia pernikahan Mbak Tia menghasilkan tiga anak.

”Semasa SMA dulu, dia memang buaya darat, dan sudah kuperingatkan Tia agar tidak terlalu dekat. Bagiku sama sekali bukan kejutan, jika kini suaminya ketahuan sudah berselingkuh,” ujar Mas Sunu dengan sinis, sesudah mendengarkan Ibu bercerita tentang curhat Mbak Tia kepadanya. Kejadian tersebut berlangsung saat ayah kami telah tiada.

”Ah, kenapa ya, adikku mesti merasakan hal yang sama denganku dahulu? Apakah Tia akan segera bercerai dengan suaminya?” kata Mbak Mira -yang waktu itu masih ada- dengan hati pilu.

Kendati tahu persis suaminya telah menikahi perempuan lain, bahkan memiliki anak pula, namun Mbak Tia enggan mengakhiri pernikahannya. Ia tak ingin Raka, Dimas, dan Dinda kehilangan figur ayah serta menjadi anak-anak yang mengalami perpecahan keluarga. Mbak Tia dengan lapang dada bersedia memaafkan kesalahan besar suaminya dan meminta anak-anaknya pun memaklumi tindakan ayahnya. Tentu tak bisa secara serta merta ketiga kemenakanku tersebut menerima pahitnya kenyataan. Aryani, putri Mbak Mira yang pernah mengalami hal serupa, berusaha menghibur adik-adik sepupunya.

”Mungkin yang kualami dulu lebih menyedihkan ketimbang kalian. Ayah dan ibuku memutuskan berpisah, lalu mesti kutemui anak-anak ayahku yang bukan anak kandung ibuku. Semula tak mudah juga bagiku menerima semua itu. Dan aku hanya seorang diri, sementara kalian bertiga, kan? Paling tidak, kalian punya teman berbagi beban,” ucap Aryani seraya membuka kembali kisah dukanya.

Raka beserta kedua adiknya bisa memahami yang dikatakan Aryani. Mereka memang lebih beruntung, orangtua mereka tak bercerai, dan tidak sendirian menghadapinya. Akhirnya mereka tak mempermasalahkan keberadaan saudara lain ibu yang mereka miliki. Kendati kehidupan keluarga mereka tak lagi sehangat dulu, namun yang penting, mereka tetap mendapatkan kasih sayang dari sang ayah. Namun apakah Raka, Dimas, dan Dinda akhirnya pernah menjumpai adik mereka, yang bukan anak ibu kandung mereka, entahlah. Yang jelas, kini mereka sudah mengerti pula, sang ibu sesungguhnya mempunyai saudara dari ibu yang berbeda jua. Tiada salahnya mereka tahu bahwa banyak orang yang senasib dengan mereka sejatinya.

***

Terus terang, aku jauh lebih beruntung ketimbang para kemenakanku. Tak pernah kurasakan luka hati akibat ulah seorang ayah yang tega mengkhianati istri dan anak-anaknya. Ayahku pernah melewati masa menduda, sesudah istri yang memberinya empat anak meninggal dunia. Sekian tahun berselang, barulah ayahku menikahi perempuan yang akhirnya melahirkan diriku dan dua adikku. Ibu kandungku yang menjadi ibu tiri keempat kakakku, nyatanya mampu menjadi ibu yang baik bagi kami semua. Bahkan aku semula tak mengira bahwa kumiliki saudara lain ibu, saking tidak terlihat adanya perbedaan perlakuan ibuku terhadap anak kandung maupun anak tirinya. Yang masih tak kupahami hingga kini, ketika ibuku mengembuskan napas terakhirnya tempo hari, bukanlah anak-anak kandungnya yang berada di sisinya, melainkan anak-anak yang tidak pernah dilahirkannya justru menjadi saksi kepergiannya dari dunia fana. Biarlah hal itu menjadi rahasia Ilahi belaka.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos Minggu, 28 Juni 2015.