Archive for Desember, 2015

h1

Berbekal Wasiat

Desember 24, 2015

Imra merasa sudah mendapat wasiat, sesuatu bernilai istimewa yang laksana hadir pada masa nan akurat. Masih teringat jelas setiap kata yang diucapkan sang lelaki tua -yang mirip mendiang kakek buyutnya- dalam sebuah mimpi.

“Selagi engkau berkuasa, gunakanlah kekuasaan itu sekehendak hatimu. Tak perlu peduli jika ada yang mengatakan tindakanmu kejam dan semena-mena. Biarkan saja, teruslah melangkah maju. Yang paling penting, orang tahu bahwa engkau adalah penguasa yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dan jika engkau sanggup bertahan dengan prinsipmu, maka kelak engkau bahkan berhak menggenggam tiket masuk surga”

Sepercik keraguan sempat terbayang di benak Imra. Ada sejumlah hal yang ingin ia tanyakan kepada sang pembawa pesan, namun serta-merta terbukalah kedua matanya seusai kalimat tersebut disampaikan. Ia terjaga dari tidurnya dengan keringat dingin membasahi sekujur raganya. Terasa berdetak lebih kencang irama jantungnya. Ia sempat bisa bergeming belaka. Namun lelaki yang belum seumur jagung berkuasa itu lantas mengerti mesti berbuat apa. Ia bergegas berangkat menuju wahana bekerjanya demi meminta pendapat orang-orang di sekitarnya –para sesepuh- yang sudah sangat ia percayai kredibilitasnya.

“Bagaimana sekiranya mereka tidak mematuhi perintah saya, Paman Debro?”
“Anda lupa sedang menjadi penguasa, Pangeran Imra?” tanya Debro.
“Iya, saya tentu ingat, Paman. Tapi apa yang mesti saya lakukan sekiranya justru terjadi perlawanan?”
“Beri mereka tindakan yang tegas. Lucuti semua senjata mereka. Jangan biarkan mereka bisa bergerak sedikit saja. Tunjukkan pada mereka, siapa penguasa sejati itu. Tentu Andalah sosoknya, Pangeran.”
“Baiklah, Paman. Kini saya yakin, wasiat kakek buyut saya tempo hari memang benar adanya. Bagaimana dengan Paman Roman, apakah setuju dengan pendapat Paman Debro?”
“Tentu saya sepakat dengan pendapat Saudara Debro yang saya hormati. Saya ingin menambah nasihat belaka. Jangan biarkan mereka datang untuk meminta syarat tertentu dari Anda. Tutup saja semua kemungkinan berkompromi. Jika mereka menyatakan menyerah kalah, barulah Anda berikan mereka pengampunan. Di saat itulah Anda justru bakal dipuji seantero negeri sebagai pahlawan sejati,” ujar Roman yang merupakan mantan jenderal dan di masa aktifnya pernah beberapa kali memimpin pasukan untuk berperang membawa panji negara.

Opini Debro maupun dukungan Roman membuat Imra akhirnya mengerti benar makna pesan sang kakek dalam bunga tidurnya. Apalagi jika benar hal itu membuatnya bisa memiliki tiket masuk surga. Sungguh sebuah kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan pastinya. Maka ia berjanji tak akan ragu-ragu dalam segala tindakannya.

Tentu Imra tak akan melupakan aspirasi sejumlah mantan punggawa pasukan yang pernah dikecewakan oleh Bara, orang yang sudah lama dikenalnya. Mereka tersingkir hanya karena tak sependapat dengan kehendak Bara sebagai sang komandan. Ia pernah berjanji untuk memberi pelajaran kepada pangeran nan arogan tersebut. Langkah pertamanya adalah mengirimkan surat kepada pasukan yang dipimpin musuh besarnya di masa lalu. Ia memberi ultimatum akan memperbolehkan pasukan Bara tetap melakukan aktivitasnya dengan sejumlah syarat yang secara sepihak ditentukan oleh Imra, tentunya atas petuah dari Debro dan Roman. Surat pertama tak berbalas. Rupanya mereka tak mematuhi perintahnya.

Pada kesempatan lain, Bara justru menyatakan bahwa pasukannya akan tetap melaksanakan kegiatan rutinnya. Ia tentu saja tak mau anak buahnya justru menuruti Imra yang secara struktural jelas bukan komandan mereka. Tidak berputus asa, Imra kembali mengirim surat kedua yang isinya senada, ternyata tak jua ditanggapi. Begitu surat ketiganya tidak mendapat perhatian lagi dari Bara, ia pun membuat keputusan berani. Imra membekukan pasukan yang dipimpin oleh Bara. Ia meminta tolong Jenderal Odin agar mengerahkan pasukan kerajaan menghentikan langkah wadyabala Pangeran Bara.

 

***
Imra sungguh ingin membuktikan diri mampu mengalahkan Bara, kendati di luar arena belaka. Mereka berdua memang memiliki kisah tersendiri di waktu dahulu. Tempo hari Imra pernah ditundukkan Bara dalam sebuah pertarungan pedang nan seru, sesuatu yang menjadi aib besar dalam kehidupan Imra. Luka yang tergores di pipi kanan Imra menjadi kado terpahit dari Bara yang tak bisa dilenyapkan bekasnya. Luka yang pedihnya merasuk hingga relung kalbu Imra. Menjadi penguasa merupakan kesempatan paling apik bagi Imra menuntaskan dendam lamanya. Apalagi terdapat sekelompok orang yang menyimpan kebencian yang sama terhadap Bara dan berhasrat serupa dengan dirinya. Dukungan tokoh-tokoh senior seperti Debro dan Roman menambah motivasinya, apalagi kakek buyutnya pun mendukungnya secara tidak langsung melalui satu wasiat dalam mimpi. Imra percaya begitu saja apa yang telah diperolehnya ketika lelap dalam tidurnya.

Bara sendiri sesungguhnya tidak ingin melanjutkan konfliknya dengan Imra yang terjadi pada masa silam. Ia berusaha menempuh jalan damai dengan mendatangi istana Imra tanpa membawa senjata sama sekali. Namun Imra justru meninggalkan tempat tinggalnya dengan tergesa-gesa, begitu mendengar kabar Bara akan mengajaknya berdialog secara elegan. Ia masih mengingat pesan Roman dan akan melaksanakannya secara konsisten. Jangan sampai dirinya bertemu dengan musuhnya dan terlena hingga memberi hati kepada Bara. Ia mesti terus menunjukkan jati dirinya sebagai penguasa yang tak kenal jalan tengah dan musyawarah. Ia tak peduli tindakannya membuat elemen bangsa terpecah belah. Ia memilih menutup mata ketika para punggawa tak bisa mendapat penghasilan karena dilarang melaksanakan tugasnya sebagai anggota pasukan Pangeran Bara.

Imra merasa yakin telah melakukan tindakan mulia yang membuatnya bakal disebut sebagai pahlawan di masa depan. Dan ia tak akan melupakan kalimat pamungkas kakek buyutnya, berupa tiket masuk surga yang berada dalam genggaman.

# Cerpen ini dimuat di Minggu Pagi No.38 Th.68 Minggu III Desember 2015.