h1

Riwayat Orang Keempat

Februari 27, 2016

Sejak ibunya wafat sekian bulan berselang, Seto hanya tinggal dengan Ratih-kakak perempuannya-di rumah yang terlampau lapang bagi mereka berdua. Adik kakak itu belum memiliki pasangan hidup. Ketika Seto masih bocah, kedua orangtuanya masih hidup, dan ketiga kakaknya -selain Ratih- belum menikah, rumah itu terasa hangat dengan riuh rendah suara penghuninya. Kini, kala ayah dan ibunya telah berpulang, sementara kakak-kakaknya -Sinta, Laras, dan Bimo- sudah mapan bersama keluarganya masing-masing, tersisalah Seto dan Ratih berteman sepi. Laras masih kerap datang bersama suami dan ketiga anaknya, sementara Sinta maupun Bimo berada di kota berbeda. Mereka biasanya datang sekiranya ada yang mesti dibicarakan sepeninggal ibu mereka.

 Sekitar setahun sesudah sang ibu tiada, hadirlah orang ketiga selain Seto dan Ratih. Dialah Jordan, kemenakan mendiang ibu Seto, yang disambut dengan sukacita. Selanjutnya terbit satu harapan Seto, jika rumah mereka kedatangan orang keempat, maka dialah orang yang dicintainya dan akan mendampingi sisa hidupnya. Seto sudah beberapa kali jatuh cinta, tapi selalu pada orang yang salah. Buktinya dia belum menikah, sedangkan mayoritas kawannya telah berkeluarga dengan bahagia.

 

***

 

Belum lama Seto berjumpa lagi dengan teman-teman SMA-nya, sesudah lebih dari sepuluh tahun mereka lulus. Tersebutlah Rania, salah satu temannya yang belum menikah. Ketika sekolah dulu, Seto dan Rania hanya saling mengenal nama. Namun kini Seto ingin lebih karib dengannya. Awalnya, Rania seperti menyambut baik niat Seto. Sehabis reuni, mereka pernah berjumpa dan berbincang hanya berdua. Kendati hatinya belum bertautan dengan Rania, Seto merasakan sejumlah hal yang cocok di antara mereka.

Seto ingin bersua empat mata lagi dengan Rania. Dia ingin mengemukakan rencana masa depannya, termasuk niatnya menikah. Seto akan menanyakan hal yang sama pada Rania. Jika ternyata jawaban gadis itu sesuai harapannya, Seto berencana menyatakan cintanya, kendati belum yakin kalbunya.

”Jadi kalau mungkin, aku bakal menikah tahun depan. Bagaimana denganmu, Rania?” tanya Seto mengakhiri paparannya.

”Sebenarnya masih banyak rencana yang mesti kujalani sendiri. Aku tak mau menikah buru-buru, meski hampir semua temanku telah berkeluarga. Untuk apa menikah, jika hal itu menghalangi segala cita yang ingin kucapai? Kalau sudah waktunya, aku pasti bakal punya suami yang bisa menerimaku apa adanya,” sahut Rania.

Kecewa ternyata yang dirasakan Seto. Jawaban Rania justru berlawanan dengan asanya. Ada sejumlah perbedaan prinsip pula, jadi barangkali mereka masih bisa berteman, begitu pikirnya. Tapi setelah pertemuan itu, Rania laksana lenyap dimakan bumi. Saban teman-teman SMA-nya kembali berkumpul, Seto pun turut serta, Rania tak pernah lagi menampakkan dirinya. Orang keempat di rumah Seto belum kunjung tiba.

Ada lagi perempuan bernama Listy. Seto sempat merasakan pandangan Listy terhadapnya seperti bermakna tertentu. Saban berbincang dengannya, dunia lebih indah warnanya bagi Seto. Namun belum sempat mengakrabinya, telah dilihatnya Listy membonceng motor seorang lelaki, yang belakangan dikenalkan kepadanya sebagai kekasihnya. Pupuslah asa Seto terhadap Listy.

”Bilakah hadirmu, wahai orang keempat di rumahku?” gumam Seto dengan gundah gulana.

 

***

Hampir genap setahun setelah Seto, Ratih, dan Jordan tinggal serumah, sesuatu yang penting terjadi. Sinta, kakak tertua Seto meminta adik-adiknya segera menerima kehadiran warga baru di rumah mereka, yaitu Rully. Dia adalah putra almarhum sepupu jauh Seto, yang akan kuliah di kota mereka. Seto tidak ingat pernah bertemu dengannya, sementara dulu dia sebatas mengenal ayah Rully.

”Aku sudah bilang tidak masalah pada Mbak Nova. Pokoknya kita bisa menerima anaknya. Jadi, Rully mulai lusa akan tinggal bersama kalian. Biar dia sekamar dengan Jordan,” kata Sinta lewat telepon.

”Kok mendadak sekali, Mbak? Apa kita tidak bisa bertemu dulu membicarakan rencana itu?” jawab Seto yang kaget dengan instruksi mendadak dari kakaknya.

”Gampanglah, besok aku dan Mas Yopi datang ke rumah.”

”Apa Mbak Laras dan Mas Bimo tahu rencana akan tinggalnya Rully dengan kami?”

”Aku belum bilang. Jadi tolong, Mbak Laras dan Mas Bimo kamu yang kabari.”

Seto merasa, Sinta seperti tidak menganggap penting keberadaan adik-adiknya, begitu saja menerima permintaan tolong dari seseorang yang ingin anaknya nunut di rumah. Bahkan Laras maupun Bimo juga tidak dikabarinya. Laras yang baru diberitahu Seto pun ikut tersinggung.

”Kok Mbak Sinta begitu, sih? Apa tak bisa kita diberitahu jauh-jauh hari? Kehadiran warga baru kan perlu persiapan, tidak hanya secara fisik, tapi juga mental penghuni lamanya. Kecuali kalau rumah kita memang rumah kos, pastilah tak masalah.”

”Itulah yang jadi ganjalan buatku, Mbak. Apalagi aku belum kenal siapa dan bagaimana sosok Rully,” ujar Seto masygul.

Sementara Bimo yang ditelepon Seto belakangan tidak bisa berkomentar banyak, lantaran sedang bertugas di tempat yang jauh.

 ”Pokoknya semua dibicarakan baik-baiklah, antara kamu, Mbak Sinta, Mbak Laras, dan Mbak Ratih. Jordan juga jangan dilupakan. Sayangnya aku tak bisa pulang,” pesan Bimo kepada adik bungsunya.

Hari berikutnya, Sinta datang bersama Yopi suaminya. Sebenarnya Seto marah terhadap kakak sulungnya itu, tapi dia masih menghormati Sinta maupun kakak iparnya. Dia akan menunggu seluruh kakaknya-kecuali Bimo-hadir dahulu. Maka sore itu berkumpullah Seto dengan Sinta, Yopi, Laras, Danang (suami Laras), dan Ratih. Jordan, adik sepupu mereka, kebetulan sedang pulang berlibur di rumah orangtuanya.

”Dulu, ketika Jordan akan tinggal di sini, aku tidak keberatan. Selain dia sepupu kita, aku kenal dia sedari bocah. Dia sebelumnya pun sering kemari dan ngobrol denganku. Sementara Rully, aku bahkan lupa, apa pernah melihat sosoknya atau belum. Yah, meski dengan almarhum ayahnya aku cukup dekat, tapi zaman dulu sekali,” ucap Seto rada sinis.

”Minimal kita mesti ada persiapan juga, kan? Kedua orangtua Jordan mestinya juga perlu tahu tentang hal ini. Bukan begitu, Mbak Sinta?” sambung Laras sedikit ketus.

”Aku minta maaf sama adik-adik. Memang mestinya aku mengajak kalian rembukan dulu, tidak langsung bilang setuju, ketika Mbak Nova meminta anaknya tinggal di sini,” kata Sinta yang tampak menyesal melihat adik-adiknya seakan menyalahkannya.

”Kita itu di sini mau menolong orang. Kenapa sih, mesti pada keberatan? Lagi pula Rully itu bukan anak raja, tidak usah menggelar karpet merah segala demi menyambutnya,” potong Yopi yang tidak suka melihat istrinya merasa bersalah.

Seto dan Laras saling memandang belaka dengan kecewa, sementara Ratih dan Danang tak berkata apa-apa. Mereka semua sebenarnya tidak keberatan, hanya kurang setuju dengan cara Sinta dan Yopi yang tiba-tiba, lantas setengah memaksa adik-adiknya agar tidak bisa berkata tidak.

”Kami hanya perlu waktu, Mas Yopi. Saya juga memikirkan nasib Jordan. Coba, bagaimana perasaannya setelah kembali ke sini, tiba-tiba ada orang tak dikenalnya menjadi teman sekamarnya?” ujar Seto yang wajahnya memerah.

”Kalau memang tak mau, biar Rully tinggal bersama kami saja. Memang jauh dari tempat kuliahnya, tapi kan lebih dekat daripada tempat tinggal ibunya. Jordan kan anaknya supel, tidak perlulah kamu mencemaskan dia,” kata Yopi yang mengerti bahwa Seto pasti akhirnya-mau tak mau-akan menerima Rully.

”Kami akan menerimanya, Mas Yopi. Kami hanya merasa kurang nyaman karena semua serba mendadak. Sudah, silakan saja Rully tinggal bersama kami,” sahut Seto yang masih sedikit dongkol. Dia tak ingin berada di pihak yang kalah, tapi mencoba berbesar hati belaka.

Akhirnya semua bersepakat menerima kehadiran Rully sebagai orang keempat. Seto berusaha berpikir positif seraya melupakan konflik yang sempat terjadi. Sehabis pertemuan, kakak-kakaknya beranjak pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pergi, Danang sempat berbisik kepada Seto.

”Aku tahu, sebenarnya tidak mudah bagi kita menerima begitu saja orang yang tidak dikenal menjadi warga baru di rumah kita.”

”Terima kasih, Mas Danang. Mohon doanya saja, semoga kehadiran Rully tidak merepotkan kita semua.”

 

***

Rully kelihatannya anak yang baik, pembawaannya tenang, dan seolah tak banyak tingkah. Semula sikapnya seperti bersedia menjadi bagian dari keluarga kecil yang terdiri dari Ratih, Seto, dan Jordan di rumah tersebut. Dia beberapa kali bercengkrama bersama kerabatnya. Tapi menginjak bulan kedua, Rully tiba-tiba bagaikan mengasingkan diri. Setiap mau pergi, meskipun Seto atau yang lain sedang berada di rumah, dia tak lagi berpamitan. Lantas, saban pulang dari mana saja, lelaki muda itu senantiasa menyendiri di kamarnya. Jika tidak tidur sangat lama, dia selalu asyik sendiri menonton televisi (yang sebenarnya milik Jordan), bergitar sambil mendengarkan lagu dari MP3 player-nya, atau terpaku di depan laptop-nya. Tak pernah terlihat, misalnya dia sedang membaca buku atau menyapu kamarnya. Kebetulan, kamar yang dihuni Rully dengan Jordan terletak di lantai dua, sementara ruangan lainnya berada di lantai satu. Malah Jordan yang akhirnya merasa tidak nyaman tinggal di kamarnya sendiri. Dia membiarkan Rully menguasai kamarnya dan memilih tidur di ruang tengah, di depan televisi milik bersama yang berada di lantai satu.

Seto sebenarnya ingin mengerti apa yang terjadi dengan Rully. Dia berniat mengajak bicara kemenakan jauhnya tersebut. Namun saat Seto melihatnya di kamar, mahasiswa tahun pertama itu selalu tengah terlelap atau sedang asyik sendiri. Seto jadi malas, bahkan untuk sekadar menyapanya. Sementara Jordan yang sebenarnya sebaya dengan Rully pun bingung mesti bicara apa. Sampai akhirnya di sebuah petang, suatu hal signifikan terjadi. Jordan yang sedang melihat berita di televisi, serta-merta berteriak pada kakak sepupunya.

“Mas Seto, Mbak Ratih, kalian mesti nonton berita ini!”

“Ada apa? Huh, lagi-lagi berita orang bunuh diri, ya?” ujar Seto yang bergegas ke depan televisi disusul oleh Ratih.

“Iya Mas, tapi coba lihat siapa yang jadi korbannya?” kata Jordan tegang.

Betapa terperanjatnya mereka bertiga, ketika sang penyiar berita mengungkapkan identitas korban bunuh diri tersebut. Orang yang terjun bebas dari lantai lima pusat perbelanjaan terbesar di kota itu adalah Rully, laki-laki yang selama sekian pekan terakhir bagaikan puasa berbicara dan tak mau kenal dengan penghuni rumah lainnya. Berakhirlah sudah kini riwayat orang keempat.

# Cerpen ini dimuat di Suara Karya Sabtu, 27 Februari 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: