h1

Arumi Masih Menanti

Maret 14, 2016

Bukan hanya sekali, perempuan tersebut menjalani hubungan serius dengan lelaki. Bahkan pernah ada yang tinggal sejengkal langkah menuju pelaminan, akhirnya tetap kandas jua. Arumi tipe perempuan yang tak sudi bermain-main dengan cinta. Ia senantiasa selektif dalam memilih pasangan. Sebenarnya Arumi merasa kalbunya cukup lapang untuk memiliki kekasih lagi saban kisah cintanya berakhir. Masalahnya, ada saja kendala yang menghalangi niatnya mengakhiri masa lajangnya. Selain cerita gagalnya pernikahan di depan mata, masih ada kisah sendu cintanya yang beraneka warna. Jadi berulang kali sudah Arumi patah hati. Kedua adik lelakinya malah telah lebih dahulu menikah, salah satunya bahkan sudah memiliki anak. Sementara satu-satunya adik perempuannya pun senasib dengan dirinya, tapi sang adik delapan tahun lebih muda ketimbang dirinya. Arumi sadar, ia memiliki beban tersendiri dengan statusnya.

Bagaimana cara Tuhan mempertemukan insan ciptaan-Nya dengan jodoh sejatinya sungguh beragam dan tiada satu pun yang persis sama. Fakta berbicara bahwa lebih banyak orang yang memilih menikah, kendati sebagian di antara mereka lantas berpisah. Ada pula yang memilih hidup bersama tanpa menikah atau malah memiliki prinsip sendiri belaka itu lebih baik. Arumi masih belum mengerti, bagaimana ia akan bertemu dengan lelaki idaman yang kelak menjadi suaminya. Ia seperti kebanyakan orang yang ingin menikah dan membangun keluarga sendiri. Pengalamannya dalam menjalani sekian cerita asmara memberinya pelajaran penting. Bukan hal mudah baginya menemukan lelaki yang sesuai hati dan pikirannya. Tapi ironisnya, begitu yang ia harapkan hadir dalam hidupnya, ternyata orang tersebut tak bisa dimiliki dan memilikinya secara utuh.

***

Lelaki itu telah cukup lama dikenal baik oleh Arumi sebenarnya. Tak pernah terbayangkan mereka akan menjadi teman tak biasa. Awalnya, sebuah pertemuan tanpa sengaja membuat mereka saling bertukar cerita, lantas kedua insan ternyata merasa nyaman. Mereka sudah mengenal seseorang yang sama sejak sekian tahun berselang. Sosok yang membuat Arumi dan Robert bisa memiliki koneksi. Ia adalah Fay, sahabat Arumi sejak SMP, yang menjadi istri Robert. Fay dan Robert menikah dua belas tahun silam. Pernikahan mereka dipercepat dari rencana semula, lantaran ayah Fay mendadak tutup usia. Mereka pun mengikat janji suci di depan jasad ayah sang mempelai perempuan.

Arumi tahu persis, sahabatnya dan Robert saling mencintai, sejak dahulu hingga kini pun sepertinya masih. Yang ia sayangkan, selama mereka menjalani mahligai rumah tangga, terdapat hal-hal tertentu dari Fay yang membuat batin Robert cukup tertekan, namun lelaki itu tak sanggup berbuat apa-apa. Fay sangat dimanjakan mendiang ayahnya dengan kekayaan berlimpah. Ia menuntut Robert setidaknya menyamai apa yang diberikan ayahnya dan selalu memaksa suaminya menuruti hasratnya tanpa sudi berkompromi. Robert sendiri senantiasa meminta Fay bersabar, tapi lebih kerap caci maki yang justru diperolehnya. Belum lagi masalah sikap Fay terhadap mertuanya. Cukup aneh sebetulnya. Robert tidak pernah diizinkan pulang ke rumah orangtuanya sejak mereka menikah. Fay beralasan bahwa mertuanya toh bisa datang ke Jakarta, jadi Robert tak perlu mengunjungi kampung halamannya, yang kebetulan lokasinya memang jauh dari ibukota. Lagi-lagi lelaki itu menuruti sabda istrinya belaka. Baru kepada Arumi seorang, akhirnya Robert berterus terang hingga bisa sedikit berbagi beban.

”Aku paham, Fay dahulu anak manja yang selalu mau menang sendiri. Kukira dia bakal berubah, apalagi lelaki baik sepertimu setia mendampinginya, Rob. Tak kusangka, dia masih bersikap begitu padamu,” ucap Arumi sesudah menyimak kisah panjang Robert.

”Aku sadar, Fay memang kadang keterlaluan. Tapi kau tahu, aku tak tega meninggalkannya,” sahut Robert.

Arumi menatap Robert dengan iba. Ia tak habis pikir dengan sikap Fay yang tidak bisa menghormati suaminya. Robert lelaki yang jujur, setia, bertanggung jawab, dan sangat mencintai keluarganya. Sungguh sosok suami idaman bagi banyak perempuan. Arumi sempat berkhayal, andaikan dirinya yang menjadi pasangan hidup Robert, ia bakal selalu membalas perlakuan elegan suaminya dengan hal-hal istimewa yang menggembirakan hatinya. Tak mungkinlah ia menyia-nyiakan karunia Tuhan seapik lelaki itu, namun ia lekas menghapus hasrat terpendamnya terhadap Robert. Arumi tahu diri.

***

Masa yang berjalan justru kian mendekatkan hubungan Arumi dan Robert. Komunikasi nyaris saban hari terjadi dan adakalanya mereka sengaja bertatap muka, kendati tinggal berbeda kota. Lambat laun berkembanglah rasa saling memerlukan di antara kedua insan, hingga hati mereka pun bertaut. Arumi berhati-hati sekali, ia tak mau hubungannya dengan Robert sampai pada kedekatan ragawi yang melanggar norma. Tentu ia enggan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga sahabatnya. Arumi meyakinkan dirinya maupun Robert bahwa mereka hanya dapat berteman, kendati lebih ketimbang kawan biasa.

”Seandainya kelak aku berpisah dengan Fay, sudikah kau menemani sisa hidupku?” tanya Robert cukup mengejutkan Arumi, pada suatu ketika.

”Rob, kau pasti tahu apa jawabanku. Tanpa ragu, aku akan sudi menemanimu dalam suka duka. Tapi aku tidak yakin kau sanggup menceraikan Fay. Iya, kan?” kata Arumi seraya menahan gejolak di dada.

”Kau benar. Aku memang masih ragu. Aku mungkin bisa hidup tanpa dirinya, tapi tak dapat kubayangkan tatkala Fay dan anak-anak hidup tanpa kehadiranku. Apalagi jika sesudah kami berpisah, aku justru hidup bersamamu.”

”Lebih baik kau tak mengajakku berandai-andai belaka, Rob. Mungkin mestinya kita cukupkan saja hubungan ini sekarang.”

”Jadi, kau tak mau lagi kita bertemu?”

”Sebelum urusanmu dengan Fay tuntas, lebih baik seperti itu. Bisa saja kan, Fay akhirnya berubah? Aku pasti senang menyaksikan sahabatku bahagia, tapi kau sendiri juga mesti bahagia…” Arumi tak sanggup meneruskan ucapannya, isak tangisnya semata yang lantas terdengar. Robert bergeming. Betapa ia ingin memeluk perempuan yang sanggup menerima kelebihan maupun kekurangannya, tapi apa yang dilakukannya bisa jadi malah kian meremukkan hati Arumi. Robert menyesali ketidaktegasannya menanggapi masalahnya dengan Fay yang tak kunjung membaik.

”Baiklah, Arumi. Aku akan mengajak bicara Fay. Kuharap dia mau berpisah denganku. Untuk apa aku peduli perasaannya, sementara dia tak peduli perasaanku selama ini. Anak-anak kami tentu tak akan kutelantarkan begitu saja. Kuharap mereka berdua malah bisa tinggal bersamaku. Aku yakin, kau mampu jadi ibu tiri yang baik bagi mereka,” ujar Robert.

Arumi tak berkata apa-apa lagi. Hanya dalam hatinya ia berjanji akan menjaga perasaannya bagi Robert seorang. Ia berharap lelaki yang dikasihinya itu kelak kembali menemuinya serta membawa kabar gembira bagi mereka berdua. Namun ia mesti menyiapkan mentalnya pula, sekiranya kisah cinta Robert dan Fay justru kembali dalam harmoni. Arumi masih bersedia menanti.

# Cerpen ini dimuat di Suara Merdeka Minggu, 13 Maret 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: