Archive for the ‘Hikmah Kehidupan’ Category

h1

Penulis dan Dunia Rekaannya

November 26, 2015

Penulis yang baik menciptakan dunia rekaannya dan para pembaca dengan senang hati menghanyutkan diri ke dalamnya. (Cyril Connolly)

h1

Kearifan dan Pencerahan

Agustus 10, 2015

Memahami orang lain adalah kearifan, memahami diri sendiri adalah pencerahan. (Maman Suherman)

h1

Mengarang Seperti Berolahraga

April 30, 2015

Jadikanlah mengarang itu seperti berolahrga. Berolahraga untuk sehat, bukan untuk menjadi juara PON, SEA Games, Asian Games, atau Olimpiade. Artinya, selagi masih kreatif, menulislah terus. Selagi sehat, teruslah berolahraga. (Sori Siregar)

h1

Peran Artis/Penyair

Februari 26, 2015

Peran saya di masyarakat, artis atau penyair, adalah untuk mencoba mengekspresikan apa yang kita semua rasakan. Bukan untuk memberitahu orang cara merasakan. Bukan sebagai pengkhotbah atau pemimpin, melainkan sebagai refleksi bagi kita semua. (John Lennon)

h1

Pemerintah dan Timnas

Februari 20, 2015

Ada yang mengatakan, “Sesungguhnya rakyat Indonesia tidak memerlukan Pemerintah yang baik. Pemerintah dan Negara, ada atau tidak, sebenarnya juga relatif legitimasi kerakyatannya. Kalau ada Pemerintah korupsi, nggak apa-apa juga asal jangan terlalu berlebihan. Atau kalau terpaksanya Pemerintah memang direstui Tuhan pekerjaannya ngrepotin rakyat dan mentikusi harta rakyat, mungkin tidak terlalu masalah juga – asalkan timnas sepakbola kita menang.”
(Emha Ainun Nadjib)

h1

Kurikulum Kecurangan

Januari 16, 2015

Saya tak berani memastikan apakah kecurangan termasuk ke dalam kurikulum pelajaran atau pelatihan sepak bola. Tapi setidaknya pendidikan ini tentu dilakukan secara ekstrakurikuler. Setidaknya setiap pemain belajar secara diam-diam, membawa ‘buku kecurangan’, terutama para pemain yang merasa berbakat menjadi ‘petugas pembunuh’.

Jangankan sepak bola, sedangkan Sekolah atau Universitas saja tidak punya urusan dengan kejujuran atau kecurangan. Dunia akademis hanya mengaitkan diri dengan tahu dan tidak tahu, mengerti dan tidak mengerti, serta pintar atau bodoh.

Adapun jujur atau baik, bukan urusan ilmiah.

(Emha Ainun Nadjib)

h1

Tanpa Guru Resmi

Januari 8, 2015

Hanya sastrawan yang tidak punya guru resmi seperti pelukis atau pemusik. (Eka Budianta)