Archive for the ‘Curhat’ Category

h1

Kesan Lelaki Pendiam

Mei 22, 2014

Sebenarnya semua orang memiliki banyak sisi dalam keseharian hidupnya, ada sisi yang terlihat dan sisi yang tersembunyi, entah disengaja maupun tidak. Namun kadang kita terlalu cepat terkesan pada sisi yang terlihat. Jika yang mengesankan bersifat baik mungkin tak jadi masalah, tapi jika sebaliknya memang bisa jadi masalah atau bahkah fitnah.

Sebagian besar orang melihat saya sebagai lelaki yang amat pendiam. Terima kasih belaka jika sudah beranggapan demikian. Tapi sesungguhnya saya pun kadang bisa betah ngobrol berjam-jam, meski memang hanya dengan segelintir orang.

h1

Tepat Sebulan Silam dan Hari Ini

Maret 14, 2014

Tepat sebulan silam -Jumat, 14 Februari 2014- terjadi sesuatu yang tidak biasa terjadi di kota kita. Hujan abu dari Kelud membuat hari itu begitu berbeda. Dan apa yang kita rasakan hari ini, kala matahari terang bersinar sejak pagi, langit biru disertai awan putih yang berarak tenang, dengan angin sejuk bertiup tak kencang?
Syukur kita pada-Nya memang layak terungkap setiap masa.

h1

Berkat Kerabat

Maret 13, 2014

Kehadiran sejumlah kerabat dari desa di rumah kami -pada Senin (10/3) kemarin- ternyata menjadi berkah tersendiri, karena anak cucu mendiang Bapak dan Ibu (para kakak dan keponakan saya) jadi menyempatkan waktu mendatangi rumah orangtua kami lagi yang rada jarang mereka kunjungi, terutama sejak Ibu tutup usia tujuh tahun silam.
Meski pada sisi yang lain, adakalanya kami masih tetap berjumpa dan bercengkrama bersama di tempat berbeda. Yang penting, pertalian kasih sayang dalam keluarga tetap terjaga senantiasa.

h1

Sebuah Hari yang Tidak Biasa

Februari 14, 2014

Sebuah hari yang tidak biasa. Bukan hanya bagi mereka yang tinggal di Kelud dan sekitarnya, melainkan juga bagi kita yang mendapat kiriman hujan abu.

Gunung Kelud di Jawa Timur pada Kamis malam (13/2) mengeluarkan isi perutnya. Warga yang tinggal di sekitar gunung itu pun mesti mengungsi, meninggalkan sementara tempat tinggal dan harta benda yang dimilikinya. Dan sejak Jumat dini hari, sebagian benda yang dikeluarkan Kelud kembali ke bumi, dalam wujud hujan abu yang sampai di Yogyakarta. Matahari seperti bersembunyi entah di mana ketika pagi tiba.

1798469_814396415243453_1374461617_n

Anak-anak diliburkan sekolahnya, orangtuanya pun mungkin sebagian tidak berangkat bekerja. Meskipun pasti tetap ada yang dengan ikhlas meninggalkan rumahnya demi melaksanakan tugasnya meringankan beban orang lain.

Akhirnya hujan abu pun berhenti. Terang pun datang Jumat ini, kendati jalan besar menjadi gelap oleh abu debu beterbangan.

Semoga erupsi Kelud lekas berhenti, hujan abu tak turun lagi, dan kerinduan kami pada air yang turun dari langit -hujan sewajarnya belaka- lekas mendapat jawaban.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkah perlindungan untuk kita semua di mana saja. Amin…

h1

Mengenang Malam di Jakarta

Oktober 6, 2013

Kejadiannya tepat sebulan silam, ketika hari sudah malam. Kami tengah tersesat di belantara ibukota tanpa paham jalan menuju tempat tujuan. Kemudian kami dipertemukan dengan seorang lelaki yang sedang berjalan kaki di trotoar. Ternyata ia bukan hanya bisa menjawab pertanyaan, melainkan justru naik ke bis rombongan kami, dan bersedia dengan senang hati mengantarkan kami hingga selamat tiba di tujuan.
Saking terkesannya saya dengan kebaikannya, malam itu saya menyebutnya sebagai ‘malaikat penunjuk jalan’. Entah dia sebenarnya manusia biasa atau bukan.

(Mengenang Malam di Jakarta, 6 September 2013)

Tersurat pada 6 Oktober 2013 di Yogyakarta.

h1

Melangkah Setelah Rehat

Mei 29, 2013

Mungkin lantaran masa rehatnya rada terlalu lama, jadi agak berat untuk kembali melangkah sebagaimana layaknya. Tapi lambat laun pasti akan terbiasa lagi. Semoga saja.

h1

Tanpa Air Mata

September 22, 2009

(sebuah catatan akhir Ramadhan…)

Bukannya tak bersungguh-sungguh kusesali

dosa salahku selama hayat hingga kini

Pastilah senantiasa kusyukuri berkah rahmat

nikmat karunia Ilahi yang tiada taranya

Menjadi asaku jua Ramadhan tahun ini

bukanlah yang terakhir yang kualami

Namun semua itu tak mampu menyentuh

relung jiwa hingga meneteslah air mata

Sudah enam kali kujalani mencoba bermesra

bicara berdua dengan-Nya belaka

Sebentar lagi yang ketujuh –dan terakhir

di bulan suci tahun ini- bakal segera kulaksanakan

Semoga dapat kian kunikmati sepertiga terakhir

malam ini dengan membersihkan hati, membeningkan

nurani, bermunajah penuh konsentrasi, mohon

apa saja yang terbaik bagi diriku dan siapa

pun yang tersayang, yang teringat, yang terbayang

Kuharap sekali saja air mataku mampu mengalir

menjadi bukti kesungguhan penyesalanku

merupakan wujud rasa syukur sejatiku

mengiringi asaku kembali bersua Ramadhan depan

membasuh jiwaku agar suci lagi…

(akhirnya… tetap tanpa air mata)

dini hari 29 Ramadhan 1430 H/19 September 2009

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H

MINAL AIDIN WALFAIZIN

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN