Posts Tagged ‘bangka pos’

h1

Sebuah Riwayat Cinta Singkat

November 26, 2015

Dua bulan silam, Om Himawan datang ke rumah kami bersama Eyang Putri. Paman dan nenekku tinggal di Jakarta, sementara kami berada di Yogyakarta. Eyang Kakung sudah tutup usia sekian tahun silam. Om Himawan merupakan adik kandung bapakku. Dalam usianya yang hampir empat puluh lima, ia masih melajang. Tiga orang adiknya malah lebih dahulu berkeluarga. Bahkan keponakannya, termasuk kakak perempuanku, sudah ada yang menikah pula. Seorang perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengannya akan diperkenalkan kepada pamanku. Eyang Darsono, sahabat keluarga Eyang Kakung yang memiliki inisiatif untuk menjodohkan Om Himawan dengan keponakannya yang tinggal di Yogyakarta. Setahuku, Eyang Darsono sudah berteman karib dengan mendiang kakekku semenjak puluhan tahun silam. Hubungan beliau dengan keluarga besar kami memang terjalin dengan apik, termasuk sepeninggal Eyang Kakung. Om Himawan sendiri semula enggan dijodohkan dengan keponakan Eyang Darsono, namun ia mencoba menerimanya. Aku tak terlalu paham mengapa pamanku belum menikah, padahal ia memiliki karier pekerjaan yang cemerlang dan bahkan telah memiliki rumah sendiri. Mungkin lantaran masalah jodoh sejatinya memang rahasia Ilahi. Kendati demikian, Om Himawan memilih tinggal bersama ibu dan seorang adiknya yang telah berkeluarga. Rumah miliknya justru disewakan karena lokasinya jauh sekali dari tempatnya bekerja.

Bapak, Ibu, dan Eyang Putri yang mengantarkan Om Himawan mengunjungi rumah orangtua Tante Cemara, perempuan yang diharapkan menjadi istri pamanku. Yang penting, mereka berdua dipertemukan lebih dahulu. Andaikata mereka memiliki kecocokan, keluarga kedua belah pihak tentu siap mendukung sepenuhnya pernikahan mereka. Namun kami tak kuasa memaksa mereka berdua agar menjadi sepasang kekasih. Yang lantas terjadi, tampaknya Om Himawan maupun Tante Cemara bersedia serius saling menjajaki satu sama lain. Mereka berdua pun bertukar nomor telepon dan akan melakukan komunikasi intensif, meski kebersamaan mereka terpisah oleh jarak dua kota. Om Himawan bahkan berjanji kembali ke Yogyakarta selekasnya, supaya dapat berbicara dari hati ke hati secara empat mata dengan Tante Cemara yang telah resmi menjadi kekasihnya.

***

Sejak saat itu, hampir setiap akhir pekan Om Himawan berada di Yogyakarta untuk menemui Tante Cemara. Hubungan mereka berdua cenderung semakin akrab hari demi hari. Pamanku pun bercerita kepada kami soal riwayat cintanya yang terus berkembang dan terlihat indah.

“Saya dan Jeng Ara sudah makin mantap menuju pelaminan. Saya mohon dukungannya dari semua di sini, ya,” ujar pamanku di depan keluarga kami.

“Dik Wawan tak usah khawatir, kami justru senang sekali jika kamu akhirnya menikah dan bahagia bersamanya,” sahut ibuku dengan rona wajah sumringah.

“Iya, pokoknya semua di sini siap mendukung sepenuhnya, demi kebahagiaan Om Wawan,” ucapku yang serta-merta ikut berkomentar saja.

“Terima kasih, ya,” kata pamanku terharu.

”Lalu kapan rencanamu melamarnya?” tanya Bapak.

Insya Allah, dua minggu mendatang saya akan membawa Ibu kemari lagi untuk secara resmi melamar Jeng Ara.”

Maka sebulan lalu, Om Himawan jadi melamar Tante Cemara. Rombongan keluarga besar kami terdiri dari sepuluh orang. Selain keluarga Bapak yang tinggal di Yogyakarta, ada adik Eyang Putri yang hadir, demikian pula paman dan bibiku termasuk dalam rombongan. Tante Cemara tak memiliki alasan apa pun untuk menolak lamaran itu. Tanggal pernikahan memang belum ditentukan kepastiannya, karena masih akan dibicarakan oleh pihak keluarga yang lebih berkompeten. Tapi jangka waktunya direncanakan dalam dua bulan sesudah acara lamaran tersebut.

Wajah Om Himawan tampak berseri-seri sekembalinya kami dari rumah Tante Cemara pada Sabtu malam itu. Sungguh berbeda dengan saat kami berangkat dari rumah, ia terlihat pucat pasi dan tegang sekali. Namun beberapa jam kemudian, tanpa sengaja kulihat pamanku melamun sendirian di teras rumah kami kala tengah malam. Kebetulan aku terjaga karena bermaksud ke kamar mandi. Kulihat pintu ruang depan yang terbuka, lantas kuhampiri pintu tanpa suara. Om Himawan ternyata tampak berada di luar sana. Aku bergeming belaka, tak ingin kuusik pamanku yang sedang menikmati kesendiriannya. Barangkali ia tengah membayangkan masa depannya, hidup bersukacita bersama kekasihnya. Aku pun memilih kembali ke tempat peraduanku.

***

Dua minggu setelah acara lamaran pamanku, sebuah kabar sangat mengejutkan kami terima dari Jakarta. Pagi hari itu pamanku tak kunjung bangun dari tidurnya. Sekitar jam sepuluh, Om Prasetyo yang tinggal serumah dengannya berinisiatif memanggil dokter dari klinik terdekat agar melihat kondisi Om Himawan. Setelah diperiksa oleh sang dokter, ternyata jasad pamanku semata yang terbujur kaku di atas dipan. Om Himawan divonis terkena serangan jantung dan nyawanya telah pergi dari raganya.

”Apakah Jeng Ara sudah diberitahu?” tanya Bapak setelah mendapat berita duka tersebut melalui telepon.

”Belum, Mas. Kami tidak tahu bagaimana caranya mengabarkan hal itu pada Mbak Ara. Jadi, kami minta tolong keluarga di Jogja yang menyampaikannya, ya,” jawab Om Prasetyo penuh harap.

”Tugas yang berat, Pras. Tapi kami memang mesti memberitahu Jeng Ara, apa pun risikonya. Semoga kami sudah sampai di Jakarta besok pagi.”

Bapak dan Ibu bergegas mendatangi rumah orangtua Tante Cemara siang itu. Kami belum memberitahunya bahwa Om Himawan sudah tiada, lantaran tidak tega dan tak bisa membayangkan bagaimana reaksinya menerima kabar sedih tersebut. Kami hanya diharapkan segera datang ke Jakarta karena kekasih Tante Cemara dikabarkan dalam kondisi kesehatan yang kritis. Sore harinya, kami meninggalkan Yogyakarta dengan kereta api. Aku ikut mendampingi bapak ibuku maupun calon istri mendiang pamanku dalam perjalanan itu. Semalaman aku tak bisa tidur, tapi terus saja kucoba memejamkan mata. Aku hanya berusaha agar tak sampai berbicara apa-apa dengan Tante Cemara. Tentu aku tak mau, jika sampai lepas kendali dan malah mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya soal Om Himawan. Sepertinya Bapak maupun Ibu melakukan hal yang sama denganku.

Fajar tengah merekah ketika kami naik taksi menuju rumah Eyang Putri, tempat jenazah Om Himawan disemayamkan. Aku duduk di sebelah sang pengemudi. Ibuku, yang berada di samping Bapak dan Tante Cemara, akhirnya berbicara terus terang.

”Tolong, Jeng Ara yang tegar, ya. Sebetulnya, Mas Wawan sudah meninggal siang kemarin. Kita hari ini datang ke Jakarta untuk menghadiri pemakamannya,” ucap Ibu terbata-bata seraya menahan emosinya.

Sempat hening sesaat. Pandanganku tetap tertuju ke arah jalan. Terdengarlah kemudian suara isak tangis Tante Cemara belaka. Ibu maupun Bapak berusaha menenangkan perasaannya yang jelas sangat terluka. Sementara diriku bergeming belaka. Kusimpan duka nan dalam nian, membuat sesak di dada terasa begitu dominan. Sekejab terlintas di benakku segala yang terjadi selama dua bulan berselang, termasuk ketika kulihat pamanku melamun di teras rumahku seusai ia melamar kekasihnya. Apakah hal itu sejatinya pertanda sesuatu? Entahlah. Yang jelas, betapa singkat ternyata riwayat cinta yang terjadi antara Om Himawan dan Tante Cemara pada akhirnya.

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos, 22 November 2015 dengan judul “Riwayat Cinta Himawan”.

Iklan
h1

Kisah Sebuah Persamaan dan Sejumlah Perbedaan

Juli 8, 2015

Ada sebuah persamaan khas yang kumiliki sebatas dengan keempat kemenakan dari kedua kakakku, yang tidak kupunyai dengan kemenakan yang lain. Hingga hari ini terdapat dua belas orang segenap kemenakanku. Baik aku maupun keempat kemenakanku itu sama-sama memiliki saudara seayah dari ibu yang berbeda. Biarpun demikian, bagaimana riwayat kami bermuara pada sebuah persamaan sudah tentu berlainan. Salah satu hal yang tak sama, yaitu aku merupakan putra dari istri kedua ayahku, sementara keempat kemenakanku justru anak-anak dari istri pertama ayah mereka.

***

Lebih dahulu kuceritakan tentang Aryani, putri tunggal kakak tertuaku Mbak Mira, saudaraku lain ibu. Ia menikah lantas melahirkan Aryani dalam usia awal dua puluh. Layaknya pasangan muda lainnya, bahtera rumah tangga Mbak Mira dan suaminya pun diterpa sejumlah badai gelombang masalah. Berulang kali mereka nyaris memutuskan berpisah, namun masih kembali bersatu. Menjelang sepuluh tahun usia pernikahan mereka, Mbak Mira akhirnya diceraikan suaminya. Kendati Aryani masih terlampau muda memahami yang terjadi, namun ia tahu ayahnya telah menyakiti hati perempuan yang melahirkannya. Ada orang lain yang dipilih ayahnya untuk menggantikan posisi ibunya. Bukan kepalang bencinya Mbak Mira terhadap mantan suaminya, sementara Aryani sempat terbawa sikap ibunya. Ia pun sempat tidak mau bertemu dan bahkan tak menaruh hormat lagi pada ayah kandungnya. Namun ibu kandungku dengan sabar dan telaten menasihati Aryani agar tetap menghargai keberadaan ayahnya.

“Bagaimanapun, tidak ada yang namanya bekas ayah atau bekas anak. Dia tetap ayahmu sampai kapan pun, meski sekarang menjadi mantan suami ibumu, Nak,” ucap sang nenek yang sebenarnya merupakan ibu tiri Mbak Mira.

Aryani kemudian sudi menjumpai ayahnya yang telah bersusah payah ingin menunjukkan kembali kasih sayangnya terhadap sang putri. Hubungan anak dengan ayahnya yang sempat putus sekian masa pun berangsur membaik, kendati tidak dalam waktu singkat. Sesuatu yang tak bisa begitu saja diterima Aryani adalah ketika ayahnya memperkenalkannya dengan dua bocah, adik-adiknya dari lain ibu. Tentu Aryani tidak melupakan istri ayahnya sekarang adalah perempuan yang membuat ayahnya dahulu meninggalkan ibunya. Mbak Mira sendiri tak mengerti mesti melakukan apa terhadap masalah yang menimpa anaknya. Ia sudah tidak keberatan ketika mantan suaminya ingin menjumpai putri mereka, kendati belum dimaafkannya juga kesalahan lelaki tersebut. Cukup sulit baginya memberi pemahaman pada Aryani, hingga ibuku akhirnya mengungkapkan sebuah fakta, yang selama ini mungkin belum pernah diketahui  kemenakanku itu.

“Apakah ibumu pernah bercerita tentang siapa nenekmu ini sebenarnya?” tanya ibuku pada Aryani, yang waktu itu masih kelas II SMP.

“Tentu saja Eyang Putri adalah ibu dari ibu saya. Memangnya kenapa, Eyang?”

“Sebenarnya ibumu itu bukan anak kandung Eyang Putri, lho.”

“Masak sih? Kalau begitu, di mana ibu kandung dari ibu saya?”

“Beliau sudah wafat puluhan tahun lalu. Kamu tahu kenapa Eyang mengatakan hal ini padamu?”

”Tidak tahu, kenapa?”

”Eyang ingin kamu tahu bahwa bukan hanya kamu yang memiliki adik dari satu ayah dengan ibu yang berbeda. Bukankah ibumu sebenarnya juga memilikinya?”

”Jadi, siapa saja anak kandung Eyang Putri?”

”Hanya Om Satrio, Tante Laras, dan Tante Sinta. Tapi sejak dinikahi Eyang Kakungmu, Eyang Putri sudah menganggap ibumu, Om Sunu, Tante Dian, maupun Tante Tia seperti anak kandung Eyang sendiri. Tidak ada perbedaan kasih sayang Eyang pada mereka. Dan yang penting juga kamu tahu, Eyang sudah menganggapmu sebagai cucu kandung Eyang sejak ibumu hamil dirimu, Nak.”

”Terima kasih, Eyang Putri. Saya tahu, Eyang selalu tulus menyayangi saya, bahkan saya tak mengira Eyang bukan nenek kandung saya,” ucap Aryani terharu. Lambat laun ia pun bisa menerima kehadiran adik-adik dari istri ayahnya hingga saat ini. Aryani menyaksikan sendiri, tidak pernah ada masalah besar yang terjadi antara ibunya dengan adik-adik dari ibu tirinya tanpa kecuali, termasuk denganku pula pastinya.

Mbak Mira berpulang ke Rahmatullah menjelang empat puluh lima tahun usianya, setelah sempat menikah lagi dua tahun sebelumnya. Orang yang sejatinya paling layak berduka adalah Aryani. Namun kemenakanku itu nyatanya sangat tegar menerima cobaan berat yang dihadapinya. Kami semua cukup takjub menyimak kata-katanya.

“Saya selalu mensyukuri segala peristiwa masa silam. Ibu bercerai dengan Ayah, lalu saya dan Ibu tinggal bersama keluarga Eyang Kakung dan Eyang Putri selama belasan tahun di sini. Belum tentu akhirnya jadi baik, seandainya saya masih tetap bersama Ayah saat ini. Dan saya pun merasa beruntung, hubungan saya dengan Ayah sudah baik lagi ketika Ibu meninggal,” ujar Aryani bijak.

Sudah sama sekali tiada masalah baginya dalam memandang keberadaan keluarga ayahnya, termasuk terhadap ibu tirinya. Akhirnya ia justru mampu menganggap istri ayahnya sebagaimana sahabat baginya, paling tidak untuk sekadar berbagi cerita sebagai sesama perempuan. Kini Aryani telah menikah dan dikaruniai sepasang anak. Boleh dikata, ia cukup berhasil mewujudkan keluarga yang bahagia dan tidak mengulangi kegagalan orangtuanya dahulu kala.

***

Selanjutnya kukisahkan tentang Raka, Dimas, dan Dinda, anak-anak Mbak Tia, kakakku yang nomor empat. Seperti halnya kakak sulungku, Mbak Tia pun mengakhiri masa lajangnya dalam usia muda. Bahkan ia menikah mendahului dua kakaknya, Mas Sunu dan Mbak Dian. Semula Mas Sunu keberatan dengan pernikahan adiknya, bukan karena ia merasa dilangkahi, melainkan lantaran ia mengerti reputasi buruk calon suami Mbak Tia yang merupakan teman SMA-nya. Namun pernikahan tersebut mau tak mau memang mesti segera dilangsungkan.

Raka cukup lama menjadi anak tunggal Mbak Tia, sampai akhirnya Dimas dan Dinda hadir di dunia dalam waktu kurang dari tiga tahun. Selama ini yang kutahu, Mbak Tia memiliki keluarga yang harmonis. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan multinasional, gajinya pun besar, sampai bisa membeli mobil baru dan rumah yang bagus di Jakarta. Namun apa yang pernah menjadi keberatan Mas Sunu di masa lalu menunjukkan buktinya, setelah sekian tahun usia pernikahan Mbak Tia menghasilkan tiga anak.

”Semasa SMA dulu, dia memang buaya darat, dan sudah kuperingatkan Tia agar tidak terlalu dekat. Bagiku sama sekali bukan kejutan, jika kini suaminya ketahuan sudah berselingkuh,” ujar Mas Sunu dengan sinis, sesudah mendengarkan Ibu bercerita tentang curhat Mbak Tia kepadanya. Kejadian tersebut berlangsung saat ayah kami telah tiada.

”Ah, kenapa ya, adikku mesti merasakan hal yang sama denganku dahulu? Apakah Tia akan segera bercerai dengan suaminya?” kata Mbak Mira -yang waktu itu masih ada- dengan hati pilu.

Kendati tahu persis suaminya telah menikahi perempuan lain, bahkan memiliki anak pula, namun Mbak Tia enggan mengakhiri pernikahannya. Ia tak ingin Raka, Dimas, dan Dinda kehilangan figur ayah serta menjadi anak-anak yang mengalami perpecahan keluarga. Mbak Tia dengan lapang dada bersedia memaafkan kesalahan besar suaminya dan meminta anak-anaknya pun memaklumi tindakan ayahnya. Tentu tak bisa secara serta merta ketiga kemenakanku tersebut menerima pahitnya kenyataan. Aryani, putri Mbak Mira yang pernah mengalami hal serupa, berusaha menghibur adik-adik sepupunya.

”Mungkin yang kualami dulu lebih menyedihkan ketimbang kalian. Ayah dan ibuku memutuskan berpisah, lalu mesti kutemui anak-anak ayahku yang bukan anak kandung ibuku. Semula tak mudah juga bagiku menerima semua itu. Dan aku hanya seorang diri, sementara kalian bertiga, kan? Paling tidak, kalian punya teman berbagi beban,” ucap Aryani seraya membuka kembali kisah dukanya.

Raka beserta kedua adiknya bisa memahami yang dikatakan Aryani. Mereka memang lebih beruntung, orangtua mereka tak bercerai, dan tidak sendirian menghadapinya. Akhirnya mereka tak mempermasalahkan keberadaan saudara lain ibu yang mereka miliki. Kendati kehidupan keluarga mereka tak lagi sehangat dulu, namun yang penting, mereka tetap mendapatkan kasih sayang dari sang ayah. Namun apakah Raka, Dimas, dan Dinda akhirnya pernah menjumpai adik mereka, yang bukan anak ibu kandung mereka, entahlah. Yang jelas, kini mereka sudah mengerti pula, sang ibu sesungguhnya mempunyai saudara dari ibu yang berbeda jua. Tiada salahnya mereka tahu bahwa banyak orang yang senasib dengan mereka sejatinya.

***

Terus terang, aku jauh lebih beruntung ketimbang para kemenakanku. Tak pernah kurasakan luka hati akibat ulah seorang ayah yang tega mengkhianati istri dan anak-anaknya. Ayahku pernah melewati masa menduda, sesudah istri yang memberinya empat anak meninggal dunia. Sekian tahun berselang, barulah ayahku menikahi perempuan yang akhirnya melahirkan diriku dan dua adikku. Ibu kandungku yang menjadi ibu tiri keempat kakakku, nyatanya mampu menjadi ibu yang baik bagi kami semua. Bahkan aku semula tak mengira bahwa kumiliki saudara lain ibu, saking tidak terlihat adanya perbedaan perlakuan ibuku terhadap anak kandung maupun anak tirinya. Yang masih tak kupahami hingga kini, ketika ibuku mengembuskan napas terakhirnya tempo hari, bukanlah anak-anak kandungnya yang berada di sisinya, melainkan anak-anak yang tidak pernah dilahirkannya justru menjadi saksi kepergiannya dari dunia fana. Biarlah hal itu menjadi rahasia Ilahi belaka.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos Minggu, 28 Juni 2015.

h1

Tiga Dara Sebaya

Mei 13, 2015

Inilah kisah tiga dara muda sebaya yang memiliki hubungan khas dengan diriku, terutama kala mereka masih bocah bertahun silam. Mereka lahir di tahun yang sama dan telah menjelma sebagai putri jelita usia belasan saat ini. Salah satu di antara mereka masih kerap kujumpai lantaran ia kerabat dekatku dan tinggal sekota denganku. Yang kedua, sesungguhnya ia sanak saudara yang cukup karib pula, namun kami telah sekian waktu tak bertemu berhubung kota kami berjauhan. Sementara yang terakhir sama sekali tak memiliki hubungan darah denganku. Bahkan belum pernah kutahu persis lokasi rumahnya, kendati belum lama ini kami bersua beberapa kali tanpa rencana.

***

Nerra merupakan anak ketiga dari salah satu kakakku. Ia lahir di Jakarta, ketika Kak Mirna dan keluarganya masih tinggal di sana. Saban menjelang lebaran, keluarga kakakku biasanya pulang ke Yogyakarta. Pada Idul Fitri tahun itu, Nerra masih berusia sekitar enam bulan, jadi masih digendonglah ia kesana kemari. Sebagai paman ingin kurasakan pula menimang keponakanku yang lucu. Namun ia selalu merengek hingga menangis dengan suara keras setiap kucoba mengangkat tubuh mungilnya. Uniknya, Nerra malah pipis ketika akhirnya bersedia kugendong untuk pertama kalinya tanpa menangis. Jadilah bajuku basah karena keponakanku yang masih bayi mengompol dalam buaian sang paman. Peristiwa tersebut masih membekas dalam ingatanku hingga kini. Sekian tahun kemudian, Kak Mirna dan keluarganya hijrah ke Yogyakarta mengikuti tugas suaminya. Maka aku lebih kerap berjumpa dengan Nerra.

Nerra memiliki pengalaman hidup yang cukup kompleks bagi gadis seusianya. Ia pernah hampir dua tahun berada di Amerika Serikat ketika masih SMP. Di sana, Nerra tinggal bersama keluarga kakak dari ayahnya. Ia memutuskan pulang ke Indonesia karena terlalu banyak hal tak menyenangkan mesti dialaminya. Nerra kemudian sempat pula beberapa pekan tinggal di Australia mengikuti program pertukaran pelajar setelah pulang dan melanjutkan SMA-nya di Yogyakarta.

Ada masalah besar yang sebenarnya dihadapi Kak Mirna dan suaminya sekian tahun belakangan. Suami kakakku telah cukup lama meninggalkan Nerra, dua kakaknya, dan ibu mereka. Namun keponakanku masih berhubungan cukup intensif dengan ayahnya. Apa pun yang dimintanya, biasanya selalu dituruti sang ayah, kendati mereka amat jarang bertemu muka. Aku tak paham, mengapa Kak Mirna tidak bercerai saja dengan suaminya, yang jelas mengingkari janji setianya sesudah menikahi perempuan selain dirinya. Tapi aku salut pada ketegaran hati kakakku, sedangkan Nerra tampaknya mampu mewarisi hal positif itu dari ibunya.

***

Margareth atau biasa dipanggil Margie juga masih memiliki hubungan persaudaraan denganku. Margie adalah putri tunggal salah satu adik sepupu ibuku. Tante Sita baru sekitar empat bulan seusai melahirkan Margie, ketika aku dan Kak Reva datang ke rumahnya di Bandung untuk berlibur belasan tahun silam. Kami sempat menginap semalam di tempat tinggal Tante Sita. Jadi sejak Margie masih bayi, aku sesungguhnya telah bertemu dengannya. Sedari masih dalam buaian ibunya, keponakan ibuku itu sudah bisa ditengarai bakal cantik parasnya.

Ada sebuah hari yang tak akan kulupa kala mengingat nama Margie. Adik sepupu jauhku tersebut masih berusia sekitar sembilan tahun waktu itu. Entah apa sebabnya, serta merta dia dekat sekali denganku, kendati dalam satu hari belaka. Padahal di hari-hari sebelumnya, sikapnya terlihat biasa saja padaku. Aku beserta orangtua dan sejumlah saudaraku tengah berada di Bandung karena ada adik Tante Sita yang menikah.

”Margie, kok kamu berani sih, dekat-dekat denganku?” ucapku.

”Soalnya aku tahu Mas pasti nggak bakal marah sama aku,” sahut Margie dengan rona wajah menggemaskan.

Seharian kami berdua bercanda, tertawa bersama, hangat dan menyenangkan sekali rasanya. Ia sempat tiduran di atas pangkuanku, bermain kartu -bersama kerabat kami lainnya- dengan ceria, lalu ia malah memintaku menggendongnya segala. Semua orang yang melihat hubunganku dengan Margie agak terperangah melihat keakraban kami, termasuk ibuku maupun Tante Sita. Tak pernah kubayangkan bisa sekarib itu dengan seorang gadis kecil yang lucu dan rupawan. Bahkan dengan Nerra keponakanku sendiri, tak pernah sedekat hubunganku dengan Margie. Ketika sore hari itu aku berpamitan, Margie tampak sangat kecewa.

”Ah, kenapa sih, Mas harus pulang sekarang?” rajuk Margie cemberut.

”Andai saja besok tak ada jadwal ujian di kampusku, aku lebih suka menunda kepulanganku, Dik. Tapi kita masih bisa sms-an, kan?” sahutku mencoba menghiburnya. Margie tersenyum sekejab saat kukecup keningnya dan kubelai rambut ikalnya.

Sehabis itu, kami berhubungan lewat sms belaka. Kadang aku meneleponnya, hingga suatu hari nomor telepon selulernya tak bisa dihubungi, dan kami pun tak pernah berjumpa lagi di alam nyata. Aku baru menemuinya kembali ketika mengikuti situs jejaring sosial yang mulai populer belum lama ini. Kuketik nama lengkapnya Margareth Alifa dan kutemukan profilnya. Maka serta merta kuminta menjadi temannya. Margie telah menjelma sebagai dara usia belasan nan jelita dan duduk di kelas II SMA. Kesan lucunya ketika masih bocah masih tersisa di wajahnya, bahkan ia tampak lebih muda di antara kawan-kawannya. Cuma sayangnya, ia tak ingat pernah dekat denganku kala ia masih kanak-kanak. Namun bisa saja ia malu mengakuinya karena sekarang sudah remaja. Aku tak mengerti bagaimana caranya membangun hubungan persaudaraan yang hangat seperti dulu lagi. Tapi aku senang mengerti kabarnya kembali dari hari ke hari. Terakhir kali aku menghubungi Margie, ia sudah diterima sebagai mahasiswi di salah satu universitas swasta ternama di Bandung.

***

Selena kulihat pertama kali kala dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar, tapi entah kelas berapa, aku tak mengingatnya. Jadi, ketika itu di lingkungan tempat tinggalku, selalu ada beragam perlombaan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional setiap bulan Juli, yang melibatkan anak cucu semua warga satu rukun tetangga. Selena adalah salah satu cucu tetanggaku yang rumahnya rada berjauhan dengan rumahku, tapi ia tinggal di tempat yang berbeda dengan kakeknya. Saban ada acara tersebut, Selena dan adiknya selalu datang ditemani kakek, nenek, maupun ibunya. Selena pandai sekali melukis seperti kakeknya, jadi wajarlah jika lukisannya mendapat nilai tertinggi dalam lomba melukis. Biarpun masih bocah, gadis tersebut sudah tampak ayu. Kulitnya putih bersih, sedangkan senyumnya masih tampak malu-malu. Aku sendiri berstatus sebagai mahasiswa waktu itu. Bertahun-tahun tak pernah kutemui lagi sosok Selena, kendati masih tetap kuingat sosok indahnya dahulu. Aku bahkan pernah menjadikan namanya sebagai tokoh cerita pendekku

Kami bertemu lagi lewat situs jejaring sosial, sama dengan perjumpaanku kembali dengan Margie. Tanpa sengaja, kulihat namanya sebagai salah satu teman Nerra keponakanku. Mereka memang sudah saling mengenal sejak ada acara peringatan Hari Anak Nasional tempo hari, tapi tak kuduga mereka masih terkoneksi saat remaja. Kuminta berteman dengannya dan ia menerimanya. Setelah terhubung sebagai teman, kusapalah Selena.

”Apa Selena tahu, aku ini siapa?” tanyaku.

”Hehe, saya tahu, kok. Mas ini tetangganya eyangku, kan?” jawab Selena.

”Wah, tak kuduga lho, Selena masih mengingatku dengan baik.”

Selena yang duduk di kelas II SMA ternyata bersekolah di tempat yang sama denganku di masa lalu. Suatu ketika, ada reuni besar di SMA kami dan Selena menjadi salah satu panitianya. Maka aku sempat beberapa kali melakukan kontak dengannya. Sayangnya, tak bisa kuhadiri reuni tersebut karena kerabatku menikah di luar kota dalam waktu bersamaan. Aku pun belum jadi bertemu kembali dengan Selena di alam nyata. Hanya dapat kulihat wajah cantiknya lewat foto profilnya di situs jejaring sosial yang kami ikuti.

Sampai pada sebuah hari, aku berjumpa dengan Selena secara kasat mata di rumah kakeknya, yang malam itu menjadi tempat pertemuan bulanan warga. Terus terang, aku memang berharap dirinya berada di situ. Asaku pun menjadi nyata. Selena kini adalah gadis jelita dengan tubuh tinggi menjulang bak peragawati. Semula aku hanya melihatnya seraya bertanya dalam hati, apakah mungkin ia masih mengenalku? Kukira sebatas mampu mengaguminya dari kejauhan belaka. Namun yang terjadi selanjutnya, aku bagaikan mendapat kado kejutan. Dara rupawan usia belasan itu mengirimkan senyuman indahnya untukku. Tak hanya sekali dari kejauhan, ketika ia berdiri di dekatku, ia melirik ke arahku seraya tersenyum lagi. Sayang seribu sayang, kami akhirnya sebentar nian sempat berbincang, padahal kesempatan membentang. Sudah jelas aku bersukacita dan dapat kutatap dirinya bahagia bisa berjumpa denganku.

Anehnya, sebuah rasa yang tak biasa lantas hadir dalam hatiku sejak kembali bertemu dengan Selena. Ingin senantiasa aku tersenyum di mana saja berada. Hari-hari yang kulewati bagaikan lebih indah kutapaki, setelah kutatap dengan seksama sang empunya wajah ayu pada sebuah malam. Demikian pula ketika aku sempat dua kali melihatnya lagi dari kejauhan dan beberapa kali kami sms-an. Mungkinkah aku sudah jatuh cinta pada gadis yang pertama kali kukenal sedari masih bocah itu? Sebenarnya aku tak mau terlalu berharap, mengingat perbedaan usia kami cukup jauh. Tahun ini umur Selena persis separuh umurku. Kebetulan postur tubuhnya lebih tinggi pula ketimbang aku. Andaikata kami melangkah bersama, apakah ia tidak akan rikuh berada di samping lelaki yang jauh lebih tua dan kurang tinggi ini? Sejatinya aku pun masih ragu dengan apa kata kalbuku terhadap dirinya, kendati ia tak hanya cantik secara fisik, lantaran karakternya pun sangat menarik. Namun biarlah kuikuti saja waktu yang terus berjalan, yang pastinya nanti akan memberikan jawaban.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos Minggu, 10 Mei 2015.

h1

Dua Wajah Bertentangan

Desember 18, 2014

Selama bertahun-tahun, sejak aku masih bocah hingga sekian bulan silam, kukenal seorang Poerwito alias Pak Itok semata-mata sebagai orang baik. Menurut pandanganku, ia orang yang selalu tulus, ringan tangan, hidupnya bersahaja, ramah, dan selalu bisa menyenangkan siapa saja. Yang jelas, setiap anak kecil -siapa pun mereka- senantiasa bisa akrab bercengkrama bersamanya hingga hari ini. Mungkin puluhan tahun lalu aku juga demikian. Apalagi anak-anak Pak Itok yang kini semua bekerja di rantau, kebanyakan merupakan teman sepermainanku di masa lalu. Warga masyarakat pun tampaknya sangat percaya dan menaruh hormat kepadanya. Tak heran, jika selama bertahun-tahun, Pak Itok sudah pernah menjadi pengurus RT, RW, dan beberapa organisasi kemasyarakatan lainnya. Namun sejak beberapa saat lalu, kutemukan figur Pak Itok yang berbeda. Semula hanya berdasarkan cerita sejumlah orang, kudengar bahwa kata-kata dan sikap Pak Itok sering melukai hati mereka. Ada yang sungguh merasa perih hatinya hingga kapok bertemu lagi dengannya, bahkan menyesal sempat mengenalnya. Tentu hal tersebut tak dapat kupercaya begitu saja. Apa iya, Pak Itok yang begitu mulia kulihat selama ini, bisa sampai menyakiti hati banyak orang?

***

Ternyata tak perlu kulakukan penelitian untuk membuktikan apa kata orang. Langsung aku sendiri yang tersinggung oleh kata-katanya yang tajam, laksana pisau mengiris hati. Kami sedang duduk santai di warung angkringan Pak Tri. Ada sekitar enam orang, kebetulan tetangga yang kukenal semua. Pak Itok sedang mengritik Pak Damar, ketua RW baru yang mencoba menghidupkan sejumlah kegiatan kemasyarakatan. Pak Itok yang menjabat sebagai bendahara RW merasa keberatan dengan banyaknya program yang akan dijalankan. Alasannya, hal itu cukup menguras kas RW yang menjadi tanggung jawabnya. Aku sedikit heran dengan sikapnya. Sebagai orang Jawa yang sudah sepuh, apakah ia tak memahami makna jer basuki mawa beya, bahwa semua keberhasilan selalu memerlukan pengorbanan? Semula aku masih tenang dan sabar sekadar mendengarkan, kendati hampir semua opininya tak kusetujui. Apalagi sempat ada nada penghinaan kepada Pak Damar maupun pengurus RW lainnya. Tapi ketika ia memrotes program, yang kebetulan aku dipercaya menanganinya, tak bisa lagi kupendam amarahku.

“Maaf, Pak. Saya memang belum banyak makan asam garam kehidupan seperti Bapak. Tapi setahu saya, di mana pun ada kemauan, di situ selalu ada jalan. Selama kita memiliki niat baik, saya percaya Tuhan pasti membantu kita. Pak Damar dan pengurus RW yang baru berniat baik dengan segala programnya, tujuannya tentu demi kemajuan warga. Dan yang terpenting, bukankah selama ini dana kita masih cukup?” tuturku panjang.
“Iya, tapi bagaimana kalau nanti habis?” tanya Pak Itok dengan raut wajah menyebalkan.
“Kalau habis, kan masih bisa dicari lagi? Saya sih yakin dengan Maha Pemurahnya Tuhan, karena niat kita toh baik. Jadi kita pasti akan diberi-Nya lagi rezeki. Entahlah, kalau Pak Itok ragu dengan hal itu!” sahutku sinis.
Aku sempat kaget sendiri dengan kalimat terakhirku, apalagi terucap dengan nada tinggi. Tak kuduga, aku mampu bersikap sedemikian rupa terhadap orang yang selama ini kuhormati.
“Apa menurutmu, saya orang yang tidak percaya Tuhan? Maksudmu, saya itu komunis atau bagaimana?” balas Pak Itok yang rupanya mulai tersinggung seraya berdiri.

Orang-orang yang bersama kami ikut tegang. Ada yang lantas berusaha menenangkan Pak Itok. Mereka barangkali juga tak mengira bisa melihatku bicara dengan suara keras. Aku dikenal sebagai seorang pendiam dan suaraku terbilang halus ketika berkata.
“Begini lho, Dik. Pak Itok itu hanya berniat menjaga amanahnya sebagai pengurus RW yang membawa uang milik warga,” kata Pak Harjo mencoba menengahi kami.

Aku bergeming saja dan meminum es tehku yang masih separuh gelas hingga tandas. Pak Itok masih terlihat tak suka dengan kata-kataku, tapi tak mengeluarkan suara lagi. Ia mengritik orang dan merasa pendapatnya selalu benar, maka ketika ada yang lain berbeda pemikiran dengannya, ia murka dan tak bisa menerimanya. Malah ia merasa dituduh yang tidak-tidak pula. Tidak bisa kupahami sikapnya. Pak Itok sendiri sepertinya sudah enggan berada di antara kami. Ia beranjak pergi setelah membayar susu jahe yang telah dipesannya. Orang-orang lega perdebatanku dengan Pak Itok tak berlanjut ke arah yang lebih buruk.

”Ya, begitulah Pak Itok. Jika bicara suka seenaknya sendiri dan tak peduli orang lain bisa tersinggung,” komentar Pak Tri, penjual warung angkringan yang kuingat pernah bercerita soal sikap buruk Pak Itok kepadanya.
“Terus terang, baru sekali ini kulihat kamu marah. Tapi tetap majulah saja dengan program itu. Saya tahu kok, maksud Pak Damar itu baik. Dan saya sebetulnya juga setuju dengan pendapatmu tadi. Saya hanya malas berdebat dengan Pak Itok,” tambah Pak Harjo menimpali.
Lebih tenang perasaanku mendengar kata-kata mereka. Yang jelas, aku telah melihat sendiri wajah lain Pak Itok yang belum pernah kutemui. Wajah itu bertentangan sekali dengan yang kuakrabi selama sekian waktu.

***

Memang pernah ada perdebatan seru yang emosional antara aku dengan Pak Itok yang begitu kukenang. Kendati begitu, hubungan kami tetap baik sebagai tetangga. Tak kupikirkan lagi peristiwa itu dan ia mungkin telah melupakannya pula. Barangkali kami telah sedikit memahami esensi demokrasi, jadi berbeda pendapat bukanlah problema berarti. Syukurlah, jika begitu adanya. Program RW yang kutangani terus berlangsung dan mulai terlihat manfaatnya bagi warga. Pak Itok sendiri tak lagi bersuara negatif menanggapinya. Namun masih tetap kudengar kemasygulan sejumlah orang terhadap sikapnya yang kerap tidak menyenangkan. Barangkali itulah dinamika kehidupan yang mesti kami jalani dengan seorang Poerwito di antara kami. Bagiku pribadi, asalkan aku tak kembali bermasalah dengannya saja sudah kusyukuri. Setidaknya aku bisa semakin tentram bekerja dengan program yang kupercaya pasti berguna untuk masyarakat di lingkungan kami.

Rapat pengurus RW baru saja berlangsung lagi. Pak Itok selaku bendahara kembali menyatakan kegundahannya dengan kas RW yang kian menipis. Sebenarnya jumlah uang yang ada masih cukup signifikan, jadi kekhawatirannya sedikit berlebihan. Ia meminta program-program yang sedang berjalan dihentikan. Peserta rapat tidak ada yang setuju dengannya dan Pak Itok pun pulang dengan hati kecewa.
“Ya, kita mesti maklumi Pak Itok yang sudah lanjut usia. Jadi mungkin sudah rada susah mau diajak maju,” ujar Pak Damar sehabis rapat.
“Mungkin memang pada dasarnya beliau keras kepala, Pak. Masih banyak kok, orang yang sudah sepuh, tapi tetap berpikiran maju dan selalu optimistis di sisa hidupnya,” respons Pak Harjo yang merupakan salah satu ketua RT.
“Tapi saya tetap heran dengan pesimismenya itu. Padahal saya yakin, keberhasilannya membesarkan anak-anaknya pasti tak pernah lepas dari optimisme yang konsisten dari dulu,” ujarku.
Kami pun melanjutkan diskusi tentang Pak Itok. Intinya, terlepas dari segala kekurangannya, pengurus RW masih akan memertahankan posisinya sebagai bendahara karena dedikasi dan kejujurannya yang luar biasa. Yang tak kalah penting, program-program kemasyarakatan masih tetap bisa berlangsung dengan dana yang tersedia.

***

Sekian hari berselang, ada berita mengejutkan kudengar sepulang kerja. Aku sedang mampir di warung angkringan Pak Tri malam itu.
”Kamu pasti belum dengar, toh?” tebak Pak Tri.
“Ada apa, Pak Tri?” tanyaku.
“Pak Itok menjelang petang tadi diserempet motor di jalan besar dekat situ.”
“Wah, saya memang baru tahu. Terus kondisinya bagaimana sekarang?”
“Yang jelas nyawanya masih bisa diselamatkan. Mungkin Pak Itok sebetulnya tidak cuma diserempet, Dik,” lanjut Pak Tri.
“Maksudnya?”
“Pak Itok itu coba dibunuh tadi sore. Dia sengaja ditabrak,” sela Pak Anung yang duduk di sampingku.
“Hah? Lantas siapa pelakunya? Apa sudah ketahuan siapa dia?” tanyaku lagi.
“Mungkin dia orang yang terbelit masalah hutang dengan Pak Itok. Begitulah dugaan banyak orang. Ya, jelas belum tertangkap, lha kan tabrak lari?” jawab Pak Anung.
“Tapi menurut saya, pelakunya itu hanya gara-gara tersinggung dengan kata-kata Pak Itok pun bisa, lho. Jika orang sudah marah, kan bisa nekad sekali. Apalagi jamannya seperti sekarang ini, banyak orang mudah panas,” komentar Pak Tri.
Aku cenderung memaklumi pendapat Pak Tri. Beruntunglah kita yang masih bisa senantiasa sabar pada masa yang kerap diibaratkan sebagai ’jaman edan’ layaknya sekarang. Mudah-mudahan Pak Itok segera sembuh seperti sediakala. Masih ingin kulihat lagi wajah kebaikannya, bukan sikap menyebalkannya.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos Minggu, 23 November 2014.