Posts Tagged ‘Minggu Pagi’

h1

Berbekal Wasiat

Desember 24, 2015

Imra merasa sudah mendapat wasiat, sesuatu bernilai istimewa yang laksana hadir pada masa nan akurat. Masih teringat jelas setiap kata yang diucapkan sang lelaki tua -yang mirip mendiang kakek buyutnya- dalam sebuah mimpi.

“Selagi engkau berkuasa, gunakanlah kekuasaan itu sekehendak hatimu. Tak perlu peduli jika ada yang mengatakan tindakanmu kejam dan semena-mena. Biarkan saja, teruslah melangkah maju. Yang paling penting, orang tahu bahwa engkau adalah penguasa yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dan jika engkau sanggup bertahan dengan prinsipmu, maka kelak engkau bahkan berhak menggenggam tiket masuk surga”

Sepercik keraguan sempat terbayang di benak Imra. Ada sejumlah hal yang ingin ia tanyakan kepada sang pembawa pesan, namun serta-merta terbukalah kedua matanya seusai kalimat tersebut disampaikan. Ia terjaga dari tidurnya dengan keringat dingin membasahi sekujur raganya. Terasa berdetak lebih kencang irama jantungnya. Ia sempat bisa bergeming belaka. Namun lelaki yang belum seumur jagung berkuasa itu lantas mengerti mesti berbuat apa. Ia bergegas berangkat menuju wahana bekerjanya demi meminta pendapat orang-orang di sekitarnya –para sesepuh- yang sudah sangat ia percayai kredibilitasnya.

“Bagaimana sekiranya mereka tidak mematuhi perintah saya, Paman Debro?”
“Anda lupa sedang menjadi penguasa, Pangeran Imra?” tanya Debro.
“Iya, saya tentu ingat, Paman. Tapi apa yang mesti saya lakukan sekiranya justru terjadi perlawanan?”
“Beri mereka tindakan yang tegas. Lucuti semua senjata mereka. Jangan biarkan mereka bisa bergerak sedikit saja. Tunjukkan pada mereka, siapa penguasa sejati itu. Tentu Andalah sosoknya, Pangeran.”
“Baiklah, Paman. Kini saya yakin, wasiat kakek buyut saya tempo hari memang benar adanya. Bagaimana dengan Paman Roman, apakah setuju dengan pendapat Paman Debro?”
“Tentu saya sepakat dengan pendapat Saudara Debro yang saya hormati. Saya ingin menambah nasihat belaka. Jangan biarkan mereka datang untuk meminta syarat tertentu dari Anda. Tutup saja semua kemungkinan berkompromi. Jika mereka menyatakan menyerah kalah, barulah Anda berikan mereka pengampunan. Di saat itulah Anda justru bakal dipuji seantero negeri sebagai pahlawan sejati,” ujar Roman yang merupakan mantan jenderal dan di masa aktifnya pernah beberapa kali memimpin pasukan untuk berperang membawa panji negara.

Opini Debro maupun dukungan Roman membuat Imra akhirnya mengerti benar makna pesan sang kakek dalam bunga tidurnya. Apalagi jika benar hal itu membuatnya bisa memiliki tiket masuk surga. Sungguh sebuah kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan pastinya. Maka ia berjanji tak akan ragu-ragu dalam segala tindakannya.

Tentu Imra tak akan melupakan aspirasi sejumlah mantan punggawa pasukan yang pernah dikecewakan oleh Bara, orang yang sudah lama dikenalnya. Mereka tersingkir hanya karena tak sependapat dengan kehendak Bara sebagai sang komandan. Ia pernah berjanji untuk memberi pelajaran kepada pangeran nan arogan tersebut. Langkah pertamanya adalah mengirimkan surat kepada pasukan yang dipimpin musuh besarnya di masa lalu. Ia memberi ultimatum akan memperbolehkan pasukan Bara tetap melakukan aktivitasnya dengan sejumlah syarat yang secara sepihak ditentukan oleh Imra, tentunya atas petuah dari Debro dan Roman. Surat pertama tak berbalas. Rupanya mereka tak mematuhi perintahnya.

Pada kesempatan lain, Bara justru menyatakan bahwa pasukannya akan tetap melaksanakan kegiatan rutinnya. Ia tentu saja tak mau anak buahnya justru menuruti Imra yang secara struktural jelas bukan komandan mereka. Tidak berputus asa, Imra kembali mengirim surat kedua yang isinya senada, ternyata tak jua ditanggapi. Begitu surat ketiganya tidak mendapat perhatian lagi dari Bara, ia pun membuat keputusan berani. Imra membekukan pasukan yang dipimpin oleh Bara. Ia meminta tolong Jenderal Odin agar mengerahkan pasukan kerajaan menghentikan langkah wadyabala Pangeran Bara.

 

***
Imra sungguh ingin membuktikan diri mampu mengalahkan Bara, kendati di luar arena belaka. Mereka berdua memang memiliki kisah tersendiri di waktu dahulu. Tempo hari Imra pernah ditundukkan Bara dalam sebuah pertarungan pedang nan seru, sesuatu yang menjadi aib besar dalam kehidupan Imra. Luka yang tergores di pipi kanan Imra menjadi kado terpahit dari Bara yang tak bisa dilenyapkan bekasnya. Luka yang pedihnya merasuk hingga relung kalbu Imra. Menjadi penguasa merupakan kesempatan paling apik bagi Imra menuntaskan dendam lamanya. Apalagi terdapat sekelompok orang yang menyimpan kebencian yang sama terhadap Bara dan berhasrat serupa dengan dirinya. Dukungan tokoh-tokoh senior seperti Debro dan Roman menambah motivasinya, apalagi kakek buyutnya pun mendukungnya secara tidak langsung melalui satu wasiat dalam mimpi. Imra percaya begitu saja apa yang telah diperolehnya ketika lelap dalam tidurnya.

Bara sendiri sesungguhnya tidak ingin melanjutkan konfliknya dengan Imra yang terjadi pada masa silam. Ia berusaha menempuh jalan damai dengan mendatangi istana Imra tanpa membawa senjata sama sekali. Namun Imra justru meninggalkan tempat tinggalnya dengan tergesa-gesa, begitu mendengar kabar Bara akan mengajaknya berdialog secara elegan. Ia masih mengingat pesan Roman dan akan melaksanakannya secara konsisten. Jangan sampai dirinya bertemu dengan musuhnya dan terlena hingga memberi hati kepada Bara. Ia mesti terus menunjukkan jati dirinya sebagai penguasa yang tak kenal jalan tengah dan musyawarah. Ia tak peduli tindakannya membuat elemen bangsa terpecah belah. Ia memilih menutup mata ketika para punggawa tak bisa mendapat penghasilan karena dilarang melaksanakan tugasnya sebagai anggota pasukan Pangeran Bara.

Imra merasa yakin telah melakukan tindakan mulia yang membuatnya bakal disebut sebagai pahlawan di masa depan. Dan ia tak akan melupakan kalimat pamungkas kakek buyutnya, berupa tiket masuk surga yang berada dalam genggaman.

# Cerpen ini dimuat di Minggu Pagi No.38 Th.68 Minggu III Desember 2015.

 

h1

Perseteruan Sementara

April 30, 2015

Secara jarak usia, keduanya pantas menjadi kakak adik. Hanung cuma lebih tua empat tahun ketimbang Lea. Berhubung ibu Lea adalah kakak tertua Hanung, jadilah Lea keponakan Hanung. Ketika ayah ibunya belum bercerai, Lea tinggal bersama mereka di Surabaya. Setelah orangtuanya berpisah, gadis itu mengikuti ibunya yang pulang ke Yogyakarta. Hubungan Lea dan Hanung terbilang akrab, bahkan mereka biasa bermain bersama saat masih bocah. Tapi ketika Lea menjadi anak SMP dan Hanung sendiri SMA, hubungan itu mulai berubah. Adakalanya mereka berdua justru laksana seteru.

Sebagaimana layaknya gadis-gadis yang sebaya dengannya, Lea pun mulai ingin tampil cantik. Seperti juga sahabat-sahabatnya seperti Cessa dan Shelly, Lea mengenakan tanktop dan celana pendek ketika mereka akan menghabiskan sebuah sore di mal. Hanung cukup terkejut melihat penampilan keponakannya. Kebetulan dia baru saja pulang dari kegiatan ekskul di sekolahnya.

“Mau ke mana?” tanya Hanung.

“Mau jalan-jalan ke mal. Om Hanung mau ikut?”

“Nggak, makasih. Baju apa yang kamu pakai itu?”

“Baju yang modis dong, Om. Biasa kan cewek cakep kayak aku pakai baju begini? Kenapa sih, Om Hanung nanyanya aneh deh…”

“Kamu nggak pantas pakai baju seperti itu! Apa nggak takut digoda cowok-cowok di mal?”

“Asal godainnya nggak sampe colak-colek sih, it’s ok aja, Om. Aku kan nggak sendiri, ada temen-temen yang jalan bareng aku nanti.”

“Ya sudah, terserah kamulah.”

Hanung menghentikan ucapannya. Setiap mau menasihati Lea, keponakannya itu selalu punya banyak amunisi untuk adu argumentasi, hingga Hanung kehabisan kata. Tentu dia begitu sayang pada keponakannya, namun Lea bisa jadi tak memahaminya.

Sekian jam kemudian, sehabis jalan dengan teman-temannya, Lea pulang dengan wajah sembab. Ibu dan neneknya pun cemas melihatnya.

“Kamu kenapa Lea, wajahmu pucat begitu?” tanya ibu Lea.

“Ibu…Eyang…” Lea menghambur ke pelukan ibunya sambil menangis sesenggukan. Gadis itu pun dibimbing ibunya menuju kamar tidurnya. Nenek Lea menemani Cessa, teman Lea di ruang tamu. Hanung yang semula berada di kamarnya beranjak keluar menemani ibunya.

“Ada apa ini, Nak Cessa?” tanya nenek Lea.

“Anu Eyang, tadi kami digodain cowok, terus Lea sampai dipeluk-peluk begitu,” sahut Cessa dengan wajah tegang.

“Kurang ajar! Kamu tahu siapa mereka, Ces? Mereka harus diberi pelajaran!” seru Hanung sambil menggebrak meja.

“Maaf, saya nggak tahu, Om. Eyang Putri dan Om Hanung, saya permisi pulang dulu. Moga-moga Lea baik-naik saja dan besok bisa masuk sekolah,” harap Cessa.

***

Peristiwa malam itu membuat Lea mengubah gaya berpakaiannya. Semua tanktop, celana super pendek, dan rok mini disingkirkannya dari dalam lemari bajunya. Dengan berat hati, gadis itu menyetujui komentar pamannya tempo hari. Namun untuk hal-hal lainnya, mereka tetap kerap tak sependapat. Hanung bahkan makin tak bisa memahami jalan pikiran Lea ketika sudah menjadi anak SMA, sementara dia sendiri mulai kuliah.

Waktu itu tepat malam Minggu. Sudah lebih dari jam sepuluh malam, Lea masih sudi menerima kedatangan seorang teman laki-lakinya. Dan ternyata lebih dari sejam kemudian, mereka masih bercakap berdua di teras rumah. Setahu Hanung, lelaki itu bukan yang menyukai Lea, mungkin dia tengah curhat semata pada keponakannya. Tapi apakah esok sudah tak bakal hadir lagi, sehingga mereka mesti bicara tanpa peduli waktu telah larut malam? Begitulah pikir Hanung.

Menjelang jam dua belas malam, penghuni rumah lainnya sudah terlelap, termasuk ibu Lea. Ingin sekali sebenarnya Hanung mengingatkan gadis itu supaya ingat waktu dan menyudahi dialognya, namun dia khawatir bakal murka jika sempat bicara. Maka Hanung memilih melakukan sesuatu tanpa kata, yang diharapkannya bisa menjadi peringatan bagi Lea. Dia mematikan lampu ruang tamu dan teras rumahnya, lalu masuk kamar, sejenak menunggu sekian menit. Ternyata lantas terdengar suara motor dinyalakan. Pintu rumah ditutup dan terdengar langkah seseorang masuk. Lea pun membuka pintu kamar Hanung.

“Kenapa sih, Om Hanung nggak ngomong aja?” tanya Lea.

“Bosan. Kalau aku bicara, jarang kamu dengar, kan? Oh ya, apa besok sudah tiada waktu lagi buat kalian berdua?” sindir Hanung. Lea hanya diam seraya menutup pintu.

***

Mereka berdua sesungguhnya teman diskusi yang baik. Kendati ada adu argumentasi juga, tapi Hanung tak pernah terpancing emosinya jika mereka berdialog soal situasi politik, film terbaru, grup musik favorit mereka, bahkan kadang sampai gosip selebritis. Hanung sesekali mengajak Lea nonton film atau pertunjukan musik selagi dia jomblo. Lea sendiri kerap meminta tolong pamannya. Kini sudah ada yang menjadi kekasih Hanung. Lea pun telah memiliki teman lelaki yang spesial. Lantaran sibuk dengan kehidupan pribadinya, mereka tak  sering berkonfrontasi lagi.

Hubungan Lea dan Hanung kembali merenggang ketika ibu Lea memutuskan akan menikah lagi. Gadis itu menentang rencana ibunya. Dia tidak percaya pada calon suami ibunya, seorang duda tua yang kaya harta. Keluarga besar ibunya pun semula  kurang sepakat, termasuk Hanung pula. Berhubung lelaki itu pandai mengambil hati calon mertua dan adik iparnya, akhirnya semua setuju.

Hanung adalah satu-satunya saudara kandung laki-laki ibu Lea. Kakek Lea sudah lama wafat dan tak punya saudara lelaki. Maka Hanung berhak menggantikan ayahnya sebagai wali pernikahan kakak perempuannya. Hal itu membuat Lea agak membenci pamannya. Permusuhan mereka seolah kembali mengemuka.

“Memangnya salah, saya menjadi wali nikah Mbak Nining, Bu?” tanya Hanung pada ibunya.

“Ya, tidak. Kamu betul menggantikan tugas bapakmu. Ibu sih yakin, lama-lama Lea menerima pernikahan ibunya. Memang tidak seharusnya dia memusuhimu. Tapi cobalah kamu maklumi lagi sikapnya,” sahut sang ibu. Hanung manggut-manggut  mencoba menyetujui kata ibunya.

Lambat laun Lea bisa menerima pilihan ibunya. Dia menuruti nasihat neneknya agar berdoa supaya ibunya mendapatkan lebih banyak kebahagiaan setelah menikah lagi. Namun Lea enggan mengikuti ibunya yang tinggal di rumah ayah tirinya. Dia tetap tinggal bersama neneknya dan kedua adik ibunya yang belum menikah, termasuk Hanung. Namun Lea jadi jarang berada di rumah neneknya. Hanung jadi sempat sewot dibuatnya.

“Lea itu sekarang sudah seperti anak kos, Mbak. Di sini dia cuma numpang mandi, makan pagi, dan tidur,” ujar Hanung ketus pada salah satu kakaknya yang tak tinggal serumah dengannya. Tak ayal Lea terperangah dan marah mendengar komentar pamannya, seperti yang disampaikan sang bibi padanya. Tapi dia tak pernah menyatakan keberatannya secara langsung terhadap Hanung.

***

Hari terus bergulir hingga dua tahun berlalu sejak pernikahan ibu Lea. Sebuah peristiwa besar akhirnya mengubah hubungan Lea dengan Hanung. Pagi itu, ayah tiri Lea memberi kabar mertuanya bahwa ibu Lea mendadak jatuh dan tak sadarkan diri di kamar mandi. Ibu Hanung meminta cucunya agar bersiap-siap menjenguk ibunya. Tapi dia malah tetap santai dan beralasan mau mandi dulu. Ibu Hanung hampir habis kesabarannya melihat ulah cucunya.

“Ya ampun, Lea! Ibu kamu itu sudah tidak sadar, kita diminta cepat ke sana, dan kamu masih mau santai? Terus terang, firasat Eyang Putri tidak enak ini.”

“Sabar, Bu. Sudahlah Lea, sekali ini turutilah kata eyangmu,” kata Hanung yang geregetan juga.

Akhirnya Lea pergi bersama neneknya menuju ke rumah suami ibunya. Ternyata ibu Lea terkena stroke. Berdasarkan pemeriksaan di rumah sakit, sebagian besar fungsi otak ibu Lea sudah tak berfungsi. Hanya jantungnya masih berfungsi dengan baik. Sungguh sesuatu yang tak terduga bagi semua yang menyayanginya.

“Sedih banget aku lihat ibuku. Tapi aku siap andaikan Tuhan memang menghendaki Ibu kembali pada-Nya,” ujar Lea sambil terisak.

“Lea, jangan berpikir begitu! Kita doakan bersama biar ibumu masih bisa panjang umur,” cetus Hanung yang sudah tiba di rumah sakit.

Sama sekali tak terbayang, kakak sulungnya sudah di ambang maut. Bisa jadi Lea memiliki firasat sendiri tentang nasib ibunya. Selama dua hari dua malam, Lea bersama nenek dan ayah tirinya menunggui kakak sulung Hanung di rumah sakit. Hanung bersama kakaknya yang lain saban hari bergantian menengok ibu Lea.

Sejak kakak sulungnya tak sadarkan diri, Hanung memikirkan hubungannya dengan Lea. Dia mencoba memahami sikap keponakannya yang selalu merasa benar, sok pintar, dan sering tak mau dinasihati. Sedari kecil, Lea tak merasakan kasih sayang ayahnya sejak orangtuanya bercerai. Hanya sesekali sang ayah menjenguk anaknya, meski kebutuhan Lea secara materi selalu dipenuhinya. Ketika ibunya menikah lagi, kasih sayang sang ibu barangkali sedikit berkurang karena mereka tak serumah lagi. Hanung berharap Lea bisa berubah setelah ibunya sakit, jadi hubungan mereka menjadi baik pula. Sejujurnya dia jenuh dengan perseteruan mereka.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Di awal hari ketiganya di rumah sakit, ibu Lea mengembuskan napas terakhirnya di depan anak, ibu, dan suami keduanya. Hanung sendiri tengah dalam perjalanan ketika hal itu terjadi. Setibanya di kamar, Hanung langsung menghampiri Lea dan memeluknya.

“Om, maafkan ibuku, ya,” kata Lea yang masih bercucuran air mata.

“Sudahlah, yang penting kamu ikhlas,” ucap Hanung yang sejenak melupakan semua keburukan keponakannya. Setelah memeluk ibu dan kakak iparnya, Hanung mendekati jasad kakak sulungnya. Seraya menahan sedih, dalam hatinya dia berujar,

“Mbak Nining tak usah khawatir dengan Lea. Aku akan lebih menyayangi dia dan mencoba memahaminya. Aku juga akan selalu melindunginya. Mbak Nining, yang tenang ya menghadap Ilahi.”

***

Setelah kehilangan ibunda, lambat laun sifat dan sikap Lea mulai berubah. Gadis yang dahulu paling jago ngeyel, kini sudah sering mau mendengarkan kata orang-orang di sekitarnya, termasuk juga Hanung. Memang terkadang masih ada sikap Lea yang membuatnya mangkel, tapi dia lebih sabar menghadapinya kini. Perseteruan tampaknya telah berakhir.

TAMAT

# Cerpen ini -dengan penyuntingan redaktur- dimuat di CERMA Minggu Pagi No.49 Th.67 Minggu I Maret 2015. Yang dimuat di sini adalah versi asli -yang lebih panjang- dari penulisnya.

h1

Ayah Menangis

Agustus 12, 2011

Baru sekali ini Median melihat ayahnya meneteskan air mata. Lelaki empat puluh tiga tahun itu tampak begitu rapuh di matanya, tidak seperti selayaknya yang biasa bersuara keras dan senantiasa tindak tanduknya tegas. Tergambar jelas duka yang mendalam di wajah sang ayah. Bocah sebelas tahun itu terpaku belaka, tak mampu berkata apa jua, hanya bertanya-tanya dalam hati,

”Apakah gerangan sesuatu yang begitu menyedihkan ayahku hari ini? Mengapa Ayah sampai bisa menangis begitu?”

Kendati sangat penasaran, ia tak memiliki nyali untuk meminta penjelasan langsung dari ayahnya. Tak hanya sekali, ketika Median menanyakan sesuatu yang ia kurang paham, justru bentakan atau makian dari lelaki tersebut yang menjadi sahutannya.

”Dasar anak bodoh, masak seperti itu kau tak tahu? Memangnya diajari apa saja kau di sekolahmu?” kata ayah Median berulang kali.

 

Entah mengapa ayahnya bersikap seperti itu, Median sungguh tak mengerti alasannya. Yang terang, hal itu membuatnya segan banyak berucap dengan suami ibunya tersebut. Tapi Median telanjur merasa tak nyaman dan tetap ingin tahu, ada masalah apa sejatinya yang menimpa sang ayah. Ia pun bertanya kepada ibunya,

”Jika tak salah, tadi saya lihat Ayah menangis. Ada apa sebenarnya, Ibu?”

”Benar, ayahmu tadi memang menangis karena sedih,” jawab ibunya.

”Apakah yang membuat Ayah sangat berduka, Ibu?”

”Ayah menerima sepucuk surat dari seseorang yang mengaku sebagai ibunya.”

”Apa? Jadi ternyata Ayah masih memiliki seorang ibu? Bukankah mestinya Ayah bahagia dengan hal itu?”

”Ya, tapi ternyata nenekmu itu tengah sakit keras. Beliau sebenarnya berharap sekali ayahmu bisa menjenguknya.”

”Kenapa Ayah tak pergi saja menemui ibunya?” tanya Median heran.

”Ayahmu ingin sekali melakukannya, Nak. Tapi beliau tak punya cukup uang untuk menempuh perjalanan ke tempat tinggal nenekmu. Kau tahu, tempat itu jauhnya ribuan kilometer dari sini. Ayahmu mesti menyeberang laut pula untuk bisa sampai di sana. Hal itulah yang membuatnya begitu sedih hari ini.”

 

Median enggan melanjutkan pertanyaan lantaran tak terlintas ide apa pun di benaknya. Sekiranya ada yang dapat dilakukannya, ia ingin melakukan sesuatu untuk membantu ayahnya mengatasi problemanya. Biarpun lelaki tersebut bersikap kurang baik terhadapnya, tetaplah ia menyayangi sang ayah sepenuh rasa. Tentu jadi tak tentramlah hati bocah itu kini.

 

Median lantas mengingat cerita kelam masa kecil ayahnya dari sang ibu. Baru sekian bulan silam cerita itu didengarkannya, jadi belum lupalah ia. Kata ibunya, ayahnya masih bocah ketika ditinggal pergi oleh ibu kandungnya. Neneknya meninggalkan ayah Median begitu saja, setelah suatu ketika terlibat bara perselisihan yang berkobar-kobar dengan suaminya, dan tampaknya sungguh tak bisa lagi dipadamkan. Ayah Median hidup bersama ayahnya belaka sehabis itu. Kendati masih bocah, Median tak percaya bahwa ada seorang ibu yang tega melakukan hal seperti neneknya.

 

”Apakah Ibu mungkin meninggalkan saya sendiri bersama Ayah, jika suatu saat nanti Ibu begitu marah kepada Ayah?” tanya Median kepada sang ibu ketika itu.

”Tentu saja tidak, Nak. Ibu tak mungkin tega pergi begitu saja tanpamu dan kakak-kakakmu. Ibu pun tak bakal tega meninggalkan ayahmu sendirian,” sahut ibunya tersenyum haru.

”Mengapa Nenek tega melakukannya kepada Ayah, Ibu?”

Ibunya hanya menggelengkan kepala seraya mengangkat bahunya. Tentu ada sejumlah alasan dari ibu suaminya yang belum mampu dipahaminya, apalagi untuk dimengerti oleh Median. Ia pun sadar bahwa suaminya hanya mengetahui cerita kepergian sang ibu dari ayahnya dan tak tahu persis pula, sejatinya apa alasan perempuan itu meninggalkannya dahulu kala. Ia hanya ingin Median percaya bahwa ibunya akan selalu bersama anak lelaki satu-satunya tersebut.

 

 

***

Sekian hari terakhir Median melihat ayahnya pulang lebih malam ketimbang biasanya. Ia mengajak bicara salah satu kakaknya, siapa tahu ada yang mengerti mengapa terjadi perubahan kebiasaan pada ayah mereka.

”Kak Sisi tahu kenapa Ayah akhir-akhir ini pulang larut malam?”

”Kamu tahu Ayah ingin mengunjungi ibunya yang tengah sakit bukan? Ayah sekarang bekerja di tempat lain sehabis kerjaan di kantornya usai, supaya beliau punya cukup uang untuk perjalanan ke pulau seberang.”

”Wah, Ayah kasihan juga ya? Menurut kakak, kita bisa bantu apa buat Ayah?”

”Aku dan Kak Nia sudah tiga hari ini minta Ibu tidak memberi uang jajan buat kami. Biar uang itu untuk tambahan biaya transportasi Ayah.”

”Oh ya? Aku juga mau melakukannya, Kak. Mulai besok biar Ibu tak usah memberiku uang jajan.”

”Nanti kamu kelaparan di sekolah?”

”Demi Ayah, aku akan puasa selama di sekolah. Aku yakin sanggup menjalaninya. Toh, hal itu tidak selama-lamanya bukan?”

”Hmm, adikku makin pintar sekarang. Ayah dan Ibu pasti bangga padamu,” ujar Sisi sembari memegangi kepala adiknya dengan rasa haru

 

Maka mulai ada titik terang soal keinginan ayah Median mengunjungi ibunda tercintanya. Dengan menambah pekerjaan -membantu temannya mengelola warung makan- yang dibayar mingguan, juga dukungan dari istri maupun anak-anaknya yang merelakan uang jajannya, ia berharap dapat segera pergi untuk menjumpai perempuan yang telah sungguh lama dirindukannya bukan kepalang. Lelaki tersebut tak peduli bahwa ibunya pernah mencampakkannya puluhan tahun silam. Bahwa perempuan itu ternyata masih hidup dan bahkan bisa menemukannya, kendati lewat surat semata, sudah merupakan anugerah besar yang disyukuri ayah Median.

 

 

***

Tiga minggu berlalu sejak surat dari nenek Median tiba. Ayah Median memutuskan, setelah menerima gaji bulanannya pekan depan, ia akan berangkat karena biaya perjalanannya -di luar dugaan semula- telah mencukupi. Tiba-tiba sepucuk surat datang lagi dari pulau seberang, ditujukan untuk ayah Median. Tapi bukan nenek Median lagi penulisnya ternyata. Goresan tinta di sampul surat itu tampak berbeda ketimbang surat sebelumnya. Isi suratnya mengabarkan sebuah duka : ibunda dari ayah Median telah meninggal dunia. Kejadiannya sekitar dua minggu sebelum surat itu sampai di tujuan.

 

Terlambat sudah rencana kepergian ayah Median, menjadi sia-sia kini adanya. Sekali lagi, Median terpaku belaka melihat sang ayah menangis dari pintu kamarnya. Ingin rasanya ia memeluk hangat lelaki tersebut, tapi hatinya terlalu didominasi oleh keraguan. Ia tak bisa menduga bagaimana reaksi ayahnya terhadap rasa simpatinya.

Median lantas melihat kedua kakak perempuannya bergantian memeluk ayahnya, sehabis ibunya telah lebih dahulu melakukannya. Ia pun keluar dari kamarnya -meski masih diliputi ragu- mendekati sang ayah dan orang-orang serumahnya yang tengah berkumpul di ruang tengah. Ayah Median melihat anak lelakinya dengan wajah sendu.

”Ayah,” ujar Median setengah berbisik.

”Ya, Nak?”

”Boleh saya memeluk Ayah? Saya sedih melihat Ayah berduka.”

”Ya, kau boleh peluk ayahmu sekarang,” kata ayah Median.

 

Median kemudian memeluk ayahnya dan inilah pertama kali ia melakukannya sepanjang yang diingat oleh benaknya. Ayah dan anak lelaki bungsunya itu larut dalam keharuan yang membahana. Median pun mengerti bahwa lelaki tersebut ternyata bisa bersikap hangat terhadap dirinya. Rasanya tak percuma jua selama ini ia tetap menyayangi ayahnya, lelaki yang sudah kehilangan kasih sayang ibunya sejak masih bocah dan barangkali tak mengetahui bagaimana caranya bersikap lembut terhadap anak-anaknya. Median memohon kepada Tuhan agar ayahnya tak terlalu lama berduka menangisi wafatnya sang ibunda. Ia pun berharap pelukan kali ini bukan yang terakhir, lantaran masih ingin dirasakannya kembali pelukan hangat dari sang ayah di hari mendatang.

 

TAMAT

 

* Cerpen ini dimuat di Minggu Pagi edisi minggu I Agustus 2011.